
Bara menarik kembali resleting celana matanya menatap tak berkedip pada wanita yang baru saja memuaskannya. Ia menarik beberapa lembar uang merah dari dalam dompet nya. Melemparkannya pada wanita yang baru saja membantunya.
"Ambil ini dan jangan pernah kembali lagi kemari."
Hana shock mendengar nya, bukankah Bara akan memberikan apa yang ia mau setelah membantunya. Kenapa hanya beberapa lembar uang saja.
"Tuan anda sudah berjanji padaku tadi akan mengabulkan permintaan ku."
"Memangnya apa yang kau inginkan.?"
Hana tersenyum lebar, ia mendekat pada Bara lagi setelah membersihkan wajah nya yang lengket akibat cairan Bara.
"Aku ingin mobil dan rumahku lagi."
Bara tersenyum miring, ia menatap remeh pada istri Rasya.
"Keluar jika tidak ingin aku memanggil satpam untuk menyeret mu kembali."
"Tuan.."
"Keluar.."
Hana berjengit mendapatkan bentakan Bara padanya.
"Kau pikir kau siapa nona, meminta barang mewah padaku. Apalagi itu rumah dan mobil, kau pikir apa yang Rasya lakukan di belakang mu Hemm...Asal kau tau Rasya tak memberikan barang mewah yang kutitipkan untuk Alvia, dan pastinya dia memberikan nya padamu bukan. Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran memenjarakan kalian berdua."
Bara menghempaskan tangan nya dari dagu Hana. Dan Hana sendiri langsung pergi meninggalkan ruang CEO milik Bara. Hana takut jika Bara benar benar memenjarakan nya.
*
Rizka menatap benci pada Alvia, yang berjalan bersama dengan Zain. Ia masih belum terima jika Zain menikah dengan janda anak satu ini.
"Kau sama sekali tak pantas bersanding dengan Zain. Dia pasti yang menggoda Zain agar menikahinya kan."
Rizka menatap nanar pada Zain yang keluar dari dalam. Ia menyesal tak dari dulu mencari Zain. Cinta nya pada pria itu bertepuk sebelah tangan. Apa ia bisa mendapatkan Zain, apalagi pria itu sangat kaya.
"Berhentilah berhayal Rizka, kau tak akan pernah mendapatkan nya. Dia sangat mencintai Alvia."
Rizka berjengit kaget, ia menoleh ke arah Farel yang mengagetkan nya. Menatap benci juga pada sahabatnya ini.
"Kenapa kau tak pernah bilang jika perusahaan ini milik kak Zain. Kau menyembunyikan nya dari ku jika Zain sangat kaya."
"Mamang nya dia mau kaya ataupun miskin apa hubungannya dengan mu.?"
Rizka bungkam, ia salah tingkah mendengar perkataan Farel padanya. Tak lama kemudian ia berbalik dan menaiki motor gedenya.
"Dasar aneh.."
Farel menggelengkan kepalanya saat melihat Rizka pergi begitu saja. Ia tau jika wanita itu mencintai Zain.
*
__ADS_1
Brukk...
Jul ambruk di samping tubuh polos Alvia, mengakhiri percintaan panas mereka di siang hari nya. Ia mencium wajah istrinya bertubi-tubi.
"Via sakit gak kecebong nya.?"
"Apaan sih mas,"
Jul terkekeh kecil melihat wajah Alvia, gara gara rasa cemburunya pada Sandi tadi yang memeluk istrinya. Jul menyeret istrinya pulang ke rumah dan menggempur nya.
"Mas, susul Arka sana, aku lelah."
"Ok, kali ini mas yang susul Arka."
Jul bangkit dari ranjang nya dan pergi ke kamar mandi. Alvia sendiri berdecak melihat suaminya. Ia heran dengan Jul, pria itu tak ada bosan bosannya menggempur nya siang malam.
Via mengambil pakaian milik nya dan memakainya kembali.
Clekk...
"Kamu mau kemana Via,?"
"Ke dapur lah mas lapar,"
Via berjalan ke dapur sementara Jul sendiri masih di kamar nya berpakaian. Sampai di dapur ia mendapati pembantunya sedang menyiapkan makan siang.
"Bi bikin kan Via rujak dong.."
Via tersenyum mendengar pertanyaan pembantunya.
"Wah belum lama ya nyonya tinggal di rumah ini. Sudah mau nambah satu lagi, tuan sama nyonya hebat. Terus barusan nyonya sama tuan ngapain, ko bajunya sudah ganti jadi punya tuan.?"
"Enak pakai bajunya mas Jul kalau di rumah."
Wanita yang sebentar lagi memasuki usia paruh baya itu mengangguk mengiyakan.
"Sayang aku jemput Arka dulu ya."
"Iya.."
Jul melangkah lebar keluar dari rumah mewahnya. Menyusul anak sambungnya di sekolah nya.
Sampai di sekolah nya ia tak mendapati Arka di sekolah. Jul bertanya pada satpam di mana putra nya.
"Kayaknya tadi di jemput sama neneknya tuan, dia manggilnya gitu tuan."
"Makasih pak.."
Jul masuk ke dalam mobilnya kembali menuju rumah mewah milik ibu mertua Via. Sampai di sana ia melihat Arka dan mertua Via yang akan pergi membawa tas jinjing. Jul turun dari mobilnya dan menghampiri ibu Rasya dan juga putranya.
"Arka.."
__ADS_1
"Pa.."
Arka berseru senang melihat papa sambungan nya yang menjemputnya. Sedangkan Neli sendiri tersenyum kecut melihat kebelakang.
"Nyonya mau membawa Arka kemana.?"
"Aku akan membawa Arka ke rumah sakit Om nya sakit dan dia di rawat di rumah sakit."
Jul mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia melihat taksi datang menghampiri nya.
Jul menghampiri supir taksi itu dan memberikan uang nya padanya. Sedangkan ibu mertua Via, bingung. Kenapa suami Via menyuruh taksi pergi lagi.
"Aku akan mengantar nyonya ke rumah sakit. Ayo sayang.."
Arka mengangguk dan membuka pintu mobil milik papa barunya. Sedangkan Neli masih diam mematung melihat Arka yang masuk ke dalam mobil mewah milik papa barunya.
"Nyonya jika anda ingin menjemput Arka, sebaiknya anda ijin pada kami. Jangan sampai aku melaporkan tindakan anda pada pihak berwajib. Anda tau, anda sama saja dengan menculik anak."
Ucap Jul pada ibu mertua Via, ia geram dengan wanita ini yang seenaknya saja. Jul tau jika wanita ini mungkin saja rindu, tapi apa salahnya jika dia ijin padanya dan Via sebagai orang tua.
Sedangkan Neli kaget mendengar nya ucapan suami Via pada nya.
"Dia cucu ku,"
"Aku tau nyonya, tapi anda membawanya tanpa seijin kami."
"Nenek ayo.."
Neli menoleh pada cucunya, ia masuk ke dalam mobil Jul dan akan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Neli menggandeng tangan Arka. Berjalan terlebih dahulu, ia marah mendengar penuturan suami Via itu padanya. Yang melarang ia menemui cucunya sendiri.
Sampai di depan kamar rawat Rasya ia mendengar jika Hana lagi lagi marah pada Rasya.
"Asal kamu tau mas aku ingin cerai dari mu. Kalau kau tak mau menceraikan aku ambil rumah dan mobil milik ku lagi."
"Hana, kamu jangan enaknya saja. Aku gak akan menceraikan kamu, sampai kapanpun." Teriak Rasya kembali pada Hana.
"Hana, kamu tau Rasya sedang sakit."
Hana melirik pada wanita paruh baya yang mendekatinya. Ia juga melirik ke arah anak berusia lima tahun, nafasnya memburu menahan emosi saat mengingat gara gara ibunya dia jadi sengsara.
Brukk..."Aw...."
Hana terjengkang ke belakang saat tubuhnya di dorong oleh seseorang.
"Jangan berani menyentuh nya,"
Hana kaget mendengar suara berat seseorang, ia mendongak menatap pemilik suara tersebut. Matanya terbelalak melihat pria berkulit sawo matang dan tampan menjulang di hadapan nya.
"Tampan.."
__ADS_1