
Panji meringis mendengar Amir bicara nyolot padanya. Mulutnya saja yang tak bisa di rem, jelas jelas dia tau bagaimana Panjul. Niat hati ingin ledekin Amir malah marah beneran.
"Awas ya Lo, kalau minta kopi lagi kemari. Enak aja anak gua di bilang nakal."
Masih menggerutu bibirnya, ia tak terima Panji menjelekkan nama Panjul. Jelas saja tak ada orang tua yang ingin anaknya terlihat jelek, meski di memang nakal, apalagi Panjul. Pria kalem dan patuh tak pernah membuat malu orang tua dengan kelakuannya pada seorang gadis. Terkecuali suka gelud dan bikin onar, tapi itu juga ada alasannya.
"Ya ya bercanda juga tadi aku Mir."
Amir melirik tajam, tak lama kemudian ia mengambil jinjingan dan membereskan termos dan bekal yang di bawanya.
Melihat Amir memasukan bekal miliknya dahi Panji mengkerut. Apalagi dia belum mengaduk gelas di sampingnya.
"Mir Lo mau pulang,?" Tanya nya pada sahabatnya.
"Kagak, mau ke kuburan gua." Amir masih menjawab sewot. Masih gondok dengan Panji yang menjelekkan anaknya. Tak lama kemudian ia berjalan meninggalkan Panji yang menatapnya nanar.
"Tega bener Amir ninggalin gua, padahal bibir gua udah kecut belum ngopi, nasib. Nih bibir gak bisa di rem main ceplos aja lagian."
Panji menggerutu bibirnya dan berjalan kembali lagi pada gubuk milik nya yang tak jauh dari gubuk milik Amir.
*
Rizka, menatap rumah mewah milik Zain. Ia sendiri tak percaya jika rumah mewah ini adalah milik Zain. Pria yang ia kenal sebagai raja arena itu mempunyai rumah mewah di sini. Dan lagi kenapa dia tak tau jika Zain sangat kaya. Apalagi sekarang pria itu sudah memiliki istri.
Rizka seperti tak rela jika Zain memilih wanita lain selain dirinya. Ia menyayangkan jika bukan dirinya yang menikmati kemewahan rumah ini.
"Jika kak Zain memiliki rumah disini. Kenapa kami tak bisa menemukannya selama ini."
Rizka masuk ke dalam rumah mewah setelah penjaga membukakan pintu gerbang. Ia memarkirkan motor nya di halaman depan rumah Zain.
Mbok Ida yang melihat wanita cantik dengan pakaian modis dan celana jeans melepaskan sapu di tangan dan menghampirinya.
__ADS_1
"Neng mau cari siapa yah.?"
Rizka menoleh dan tersenyum kemudian mengucap salam pada wanita paruh baya tersebut. Ia yakin jika wanita di depannya ini adalah pembantu rumah ini. Membayangkan hidup yang bergelimang harta dan selalu di layani oleh pembantu membuat hati Rizka semakin iri.
"Pemilik rumah ini buk." Mbok Ida mengangguk dan menyuruh tamu majikannya ini masuk ke dalam.
"Tunggu di sini ya neng, mbok panggil kan tuan dan nyonya." Rizka mengangguk mengiyakan. Matanya menatap isi dalam rumah Zain. Perabotan mewah dan kursi yang tak murah harganya.
" Kenapa bukan aku yang menjadi pemilik rumah ini, dan kenapa juga kak Zain memilih wanita lain." Gumamnya lirih. Jika benar pemilik rumah mewah ini adalah Zain. Tentu saja Rizka sangat kecewa, sebelum nya dia dan Zain sangat dekat. dyan mereka adalah pasangan di sirkuit saat balap motor biasa nya.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Rizka menatap Jul dengan bibir merah yang melebar. Jul sendiri kaget saat mendapati tamunya adalah wanita yang sudah dua kali bertemu dengannya. Mau apa wanita itu pagi pagi datang ke rumahnya.
Sampai di depan Rizka, Jul menatap tajam padanya. Sedangkan Rizka yang di tatap seperti itu oleh Jul hanya mendesah lirih.
"Kak, apa benar ini rumah kakak."
Jul tak menjawab, ia masih menatap Rizka datar. Untuk apa wanita itu datang pagi pagi ke rumah nya. Dan lagi dari mana dia tau ini rumah nya. Apa dia mengikutinya saat pulang kemarin. Membayangkan itu semua membuat gigi Jul gemerutuk.
"Jika kakak tinggal di sini kenapa selama ini kakak tak pernah menengok kami. Dan lagi, kenapa kakak menyembunyikan jika kakak kaya."
" Memangnya apa yang akan kau lakukan jika tau aku adalah pria kaya."
Rizka gelagapan mendengar jawaban Zain. Ia salah tingkah di tempat duduknya. Tak lama kemudian ia di kaget kan dengan kedatangan Via.
"Mas ada tamu.."
Jul menatap istrinya dengan senyum lebarnya. Ia menarik tangan Via dan mendudukkan Via di samping nya. Sementara Rizka yang menatap wanita cantik yang duduk di dekat Zain terlihat memikirkan sesuatu.
"Kau wangi sayang.."
Jul menghirup aroma sampo dan sabun di tengkuk istrinya. Sedangkan di sebrang meja Rizka menatap tak percaya pada Zain. Dia seperti bukan melihat Zain yang selalu datar, pria itu berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat wanita cantik ini.
__ADS_1
Seketika dada Rizka bergemuruh terbakar cemburu buta melihat kemesraan mereka berdua. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dan itu terlihat oleh Via.
"Ada perlu apa anda datang ke rumah kami mbak. Maaf kalau saya lancang, saya tak mengenal mbak. Ada perlu apa ya datang kemari.?"
"Rizka, nama saya Rizka. Apa kau tak tau jika suami mu adalah bos kami di sirkuit. Lalu, kenapa kau tak membiarkan suamimu kembali ke arena. Kau justru mencegahnya, apa kau sudah silau dengan harta miliknya." Jawabnya menggebu, rasa cemburu melihat Jul dengan nya seketika membuat dadanya terbakar dan bertindak bodoh.
Jul mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Rizka. Sedangkan Via sendiri tersenyum tipis melihat wanita yang lebih tua darinya.
"Maaf mbak, saya tidak pernah memintanya berhenti apalagi melanjutkan balap motor nya. Aku terlalu sibuk dengan harta yang suamiku berikan hingga aku sendiri lupa."
Jawab Via telak dan seketika Rizka menatap Via penuh permusuhan. Ia sudah menduga jika wanita itu adalah wanita matre, gila harta. Dia hanya ingin harta Zain saja.
Sementara Jul mengerutkan keningnya mendengar penuturan Via.
"Via, Via suka dengan ku yang kaya?"
Via menoleh kearah suaminya, ia tersenyum dan mengecup pipi kiri Jul.
"Tentu saja, apalagi dengan milik mas Jul yang besar, Via menyukainya." Jul tersenyum lebar, kemudian ia balas mengecup pipi Via. Saking senangnya di puji miliknya besar, Jul merapatkan tubuhnya pada Via.
Rizka sendiri yang masih bisa mendengar kata Via mengeratkan giginya emosi. Ya dia bisa mendengar jika milik Zain besar. Seketika saja milik nya berkedut, membayangkan bagaimana jika Zain memasukinya.
"Maaf kak Zain, sepertinya aku mengenal istri kakak." Via dan Jul menoleh bersamaan pada Rizka.
"Kau mengenalku mbak, baguslah kalau begitu kita bisa jadi teman, benarkan sayang." Tanya Via lagi, dan itu justru membuat wajah Rizka semakin merah padam.
"Ya kalau Via mau berteman dengannya, mas gak masalah."
"Kak, bukankah seharusnya kau sudah tau jika dia hanya menginginkan harta kakak saja. Masih banyak wanita yang tidak gila dengan harta di luaran sana. Dia sama sekali tak pantas untuk kakak."
Senyum Via mengembang mendengar penuturan Rizka.
__ADS_1
" Kena kau.."
.