Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Hukuman Rasya


__ADS_3

"Mas kenapa?"


Via menatap wajah suram Jul, suaminya itu baru saja menelpon ibunya.


"Apa ibu sakit?,"


Jul menggelengkan kepalanya, ia mendekat dan menciumi tengkuk leher Via. Wanita yang sudah membawanya kembali ke kota.


"Jul kangen aja sama temen Jul."


Via menatap wajah Jul, ia meneliti tubuh suaminya dari atas sampai bawah. Sementara Jul yang melihat istrinya menatap nya aneh, melotot.


"Jul gak pernah ya,?"


Via tertawa terbahak mendengar nya. Ia tak menyangka jika suaminya, akan berpikiran sama. Sementara Jul sendiri mendengus, ia berjalan membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik nya. Menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Ia tak biasa dengan AC. Dan Via menggelengkan kepalanya. Ia lalu menyusul suaminya tidur, memeluknya dari belakang.


"Mas apa mas ingin punya anak,?"


Jul berbalik mendengar suara istrinya. Ia menatap mata Via dalam. Sebagai pria dewasa apalagi umurnya juga sudah tua. Tentu saja ia ingin memiliki anak.


"Apa Via hamil,?"


Via menggelengkan kepalanya, dan tatapan kecewa Jul terlihat di matanya. Via sendiri juga masih ragu, saat ingin mengatakan jika ia hamil. Saat ia menikah dengan suaminya, ia lagi masa subur. Dan sebulan ini dia tak datang bulan. Tapi ia juga belum berani mengatakannya pada suaminya. Takut jika itu tak benar dan pasti akan mengecewakan suaminya.


"Kan Via cuma tanya mas, lagi pula baru sebulan menikah."


Jul berpikir, iya juga baru sebulan menikah dan belum lama juga tanam singkong.

__ADS_1


"Tapi kalau singkongnya mas berkualitas biar sebulan akan keliatan hasilnya."


Jul mendelik tajam pada istrinya, bisa bisanya singkong nya di ragukan kualitas nya.


"Gak ya sayang, punya Jul masih segel dan berkualitas bagus, enak aja bilang gak berkualitas."


Via tersenyum dan memeluk tubuh suaminya. Semoga saja apa yang ia rasakan benar jika ada malaikat kecil di perutnya. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus istrinya. Jul menoleh ke arah Via, menatap wajah cantik alami yang membuatnya tergila gila sejak pertama kali bertemu. Padahal Alvia bukanlah gadis yang selalu ia pacari. Dia adalah janda yang sudah dua kali menikah. Sejak pertama kali bertemu dengannya, ia merasa ingin memiliki nya sepenuh nya. Apalagi saat mengingat jika Bara mantan suami istri nya ini masih mengejarnya. Ia semakin tak rela jika Via bersama dengan pria itu.


Jul menatap langit langit kamar miliknya. Via benar, jika kualitas singkong nya bagus tentu akan berbuah lebih cepat.


Ck.....


"Jul yakin singkong Jul berkualitas tinggi."


Jul berbalik dan memeluk tubuh istrinya, menyusul istrinya ke dalam mimpi.


*


Dan Mahendra sendiri yang melihat putranya seperti ini hanya menunduk. Ia tau apa yang akan Bara lakukan jika mengetahui jika Rasya lah yang mencurangi Bara.


"Sudah lah Ma, Rasya sendiri yang bersalah, dia yang sudah membuat Bara marah padanya. Lagipula bukan uang sedikit yang Rasya ambil dari Bara. Bahkan mungkin sudah ratusan juta Ma."


Ibu Rasya menangis di depan putranya yang terbaring di atas ranjang pesakitan. Tak lama kemudian istri Rasya datang dengan terburu buru.


"Ma mas Rasya kenapa? Dan lagi apa maksudnya mobil Hana si sita dan oleh debt colector. Jangan macam macam sama Hana Ma, itu milik Hana. Jika mas Rasya sakit jangan menjual mobil." Teriak Hana pada ibu mertua dan papa mertuanya. Ia tak perduli dengan suami yang di depannya ini terbaring sakit.


Ibunya menggeleng kan kepalanya tak percaya dengan apa yang di katakan Hana. Ia menatap menantunya yang terlihat sangat mencolok.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja Hana, kamu tak lihat suamimu terbaring di rumah sakit dan kau dari luar bersenang senang."


Hana memutar bola matanya jengah, ia sama sekali tak takut dengan ibu mertua nya ini.


Mahendra sendiri hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia juga tau tabiat istri Rasya yang suka sekali bersenang senang. Apalagi jika Rasya memiliki uang, anak dan menantunya itu senang sekali menghamburkan uang.


"Kami tak menjual mobil mu Hana, Bara yang mengambilnya, dan mungkin saja rumah yang kalian tempati di sita oleh Bara."


Hana shock mendengar penuturan mertuanya. Apa maksudnya jika rumahnya di sita oleh Bara. Dan siapa pria itu, rumah nya....


Hana menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar rawat inap suaminya. Ia pulang ke rumah nya dengan taksi. tak percaya dengan apa yang di katakan oleh papa mertuanya itu. Mana mungkin pria yang bernama Bara menyita rumah nya.


Sampai di depan rumah nya Hana menatap dua pria berpakaian hitam. Ia hendak masuk ke dalam rumah nya tapi kedua pria itu mencegahnya.


"Maaf nona anda bukan lagi pemilik rumah ini."


Hana melototkan matanya tak percaya.


"Apa maksud mu, rumah ini rumah ku brengsek, minggir."


Mereka sama sekali tak bergeming saat Hana menarik tangan dan mendorong tubuh tinggi nya. Sedangkan Hana mengumpat, untuk apa pria ini menghalanginya.


"Sore nona,"


Hana di kejutkan dengan pria berdasi dan juga klimis.


"Saya adalah pengacara tuan Bara, mau mengatakan jika rumah ini milik tuan Bara, bukan milik anda nona, dan ini adalah surat kepemilikan nya."

__ADS_1


Hana melototkan matanya tak percaya. Ini bukan rumah suaminya.


"Mas Rasya....."


__ADS_2