
Rasya menatap istrinya yang jatuh di lantai, ia menatap wajah pria yang di bencinya itu. Tak lama kemudian Rasya mengepalkan tangannya.
"Apa kau yang mengatakan pada Bara brengsek.?"
Teriak Rasya pada suami Alvia. Nafasnya memburu menahan emosi yang luar biasa. Ia yakin jika semua ini adalah ulah pria ini. Ya gara gara dia menikahi Alvia ia berakhir seperti ini.
Jul tersenyum miring mendengar nya, ia mendekat ke arah Rasya dan mencengkeram erat tangan Rasya yang terluka.
Akk...
"Apa yang kau lakukan pada putraku,?"
Teriak Neli pada suami menantunya. Sedangkan Arka sendiri menatap dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Dengar tuan Rasya aku bisa saja membuatmu jauh lebih dari yang kau rasakan saat ini jika kau macam macam dengan ku. Aku bisa saja menjebloskanmu ke dalam penjara, jika kau berani macam macam dengan ku."
Rasya menatap wajah Jul yang menyeringai. Rasya sendiri tubuhnya bergetar ketakutan melihat nya. Preman ini benar benar menakutinya.
"Kau masih berani padaku tuan Rasya,?" Tanya Jul lagi pada Rasya.
Rasya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Jul. Hana sendiri menatap Jul lekat, ia tak tau siapa pria ini dan kenapa dia mengancam suaminya.
"Maaf nyonya, aku tak mau tau urusan keluarga kalian. Alvia adalah istri ku, dan aku tak mau jik istri ku kalian peralat lagi demi kesenangan kalian. Jangan pernah menghubungi istri ku selain tentang Arka. Baiklah ku rasa hanya ini yang ingin ku sampaikan aku dan Arka akan pergi."
Hana melototkan matanya mendengar jika pria ini adalah suami Alvia. Alvia sudah menikah dan itu dengan nya, kapan. Kenapa ia tak tau Alvia benar benar sudah menikah. Itu artinya Bara mantan Alvia marah dan mengambil semua milik nya karna Via sudah menikah.
Wajah Neli menunduk, ia sangat malu mendengar penuturan suami menantunya. Memang benar jika mereka memanfaatkan menantunya. Salah satunya Bara yang bersedia menanamkan saham milik nya di perusahaan suaminya.
Jul berjalan keluar dari kamar rawat Rasya bersama Arka di sampingnya.
Bocah Lima tahun itu hanya menurut pada papa sambungnya.
Sedangkan Hana yang melihat pria itu keluar dari kamar mengikuti nya.
"Hana, kau mau kemana,?"
Rasya memanggil istrinya saat tau istrinya juga keluar. Hana tak menggubris ucapan suaminya. Ia berjalan melangkah mendekati pria yang berjalan bersama keponakan nya itu.
"Tunggu,.."
Jul menoleh dan mendapati wanita yang tadi hampir mencelakai putranya mendengus. Mau apa wanita ini memanggil nya.
Sedangkan Arka sendiri berdiri di belakang Jul, ia sedikit takut pada wanita yang menjadi bibi nya itu.
"Ada apa..?"
__ADS_1
Hana tersenyum malu malu mendapatkan pertanyaan dari Jul. Tangan nya menyelipkan rambut nya di belakang telinga nya.
"Kita belum berkenalan, namaku Hana,"
Jul menatap tangan yang terulur padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya mengejek wanita di depannya ini.
"Maaf nona, tangan ku akan alergi jika bersentuhan dengan ulat bulu seperti mu, ayo Arka kota pulang."
Hana melototkan matanya mendengar penuturan suami Via. Dia mengatakan jika ia adalah ulat bulu.
Jul tak menggubris wanita itu, ia berjalan mendekati mobilnya di parkiran. Malas sekali berdekatan dengan wanita seperti nya.
"Pa ko papa tadi bilang papa alergi ulat bulu. Kan tadi bibi gak pegang ulat bulu pa?"
"Papa alergi sama dia yang seperti ulat bulu."
Arka membuka mulutnya lebar, tak lama ia tertawa renyah, jika papa nya mengatakan jika bibi nya ulat bulu.
"Ayo pulang.."
Arka mengangguk mengiyakan ucapan papa nya.
Sedangkan Hana sendiri masih berdiri tak percaya, suami Via mengatakan jika ia adalah ulat bulu.
Hana berbalik lagi dan mendatangi suaminya. Ia menatap wajah ibu mertuanya dan juga suaminya yang menunduk.
Hana melepaskan cincin pernikahan nya dan melemparkannya pada Rasya.
"Ambil itu mas, aku sudah tak punya hubungan lagi dengan mu. Aku ingin cerai dari mu titik."
"Hana.."
Hana berjengit kaget mendengar suara bentakan keras Mahendra di belakang nya. Ia berbalik dan menoleh ke belakang.
"Kamu perempuan tak tau diri, kamu meminta cerai sama Rasya karna ini, ha... Kami tau, bukan kah kau yang selalu menghabiskan uang Rasya."
Hana melengos mendengar nya, ia sama sekali tak merasa bersalah sedikitpun.
"Tapi aku mau tetap ceria dari putra papa, aku tak mau tinggal di kontrakan kecil. Aku tau rumah papa juga sudah dia gadaikan kan."
Mahendra shock mendengar nya. ia tak menyangka jika menantunya ini tau. Tak lam dadanya naik turun, apa semua ini karna ulahnya juga.
"Apa semua ini adalah ulahmu juga, hah"
Suara Mahendra menggelegar di kamar rawat Rasya.
__ADS_1
"Pa,"
Neli duduk pasrah di kursi samping putranya yang tak bersuara sedikit pun.
"Kenapa menyalahkan aku, putramu yang harus di salah kan dia kan yang mengadaikan nya, kenapa kalian menyalahkan aku."
Ucap Hana pergi meninggalkan Rasya dan keluarga nya, berjalan tanpa rasa bersalah sedikitpun pada mereka semua.
"Kau menantu kurang ajar, kualat kau nanti Hana."
Mahendra terduduk di kursi, ia memijat kepalanya yang pusing. Bara yang tiba-tiba saja menarik saham milik nya dan rumah dan mobil Rasya juga tak luput Bara sita.
"Pa,"
Rasya berseru melihat papanya. Mahendra mendongak menatap wajah Rasya, saat dia memanggil nya.
"Semua ini gara gara kau Rasya."
*
Jul melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Sedangkan Arka sendiri langsung berjalan ke arah dapur.
"Kemana aja Arka,"
"Ke rumah sakit ma, om Rasya sakit tangan nya sama kepalanya di perban."
Alvia mengerutkan keningnya mendengar penuturan Arka.
"Ko kamu tau sayang.?"
"Nenek yang jemput tadi."
Via hanya berohria saja mendengar nya. Tak lama kemudian Jul datang ke meja makan.
"Memangnya ada apa sih mas dengan kak Rasya.?"
Jul hanya mengedihkan bahunya saja. Lagi pula bukan urusan nya Rasya kenapa dan mau apa.
"Ma tadi kita juga ketemu sama bibi Hana."
Via langsung menoleh pada suaminya, matanya memicing tajam pada Jul.
"Apa,...?"
.
__ADS_1