
"Kau..Berani berteriak padaku," Rasya mendorong Jul sekuat tenaga. Dan balik meninjunya, tapi sayang nya kepalan itu tak sampai pada wajah tampan Jul. Jul lebih dulu, mencekal kepalan tangan Rasya.
"Brengsek, dasar preman. Kau berani pada ku, lepaskan brengsek."
Via menatap Rasya yang kesakitan, ia tak berniat menolong kakak iparnya ini. Ia justru berharap dengan ini kakak iparnya ini jera. Padahal Rasya justru menyimpan dendam padanya. Ia tak percaya jika Jul adalah suami Via. Ini pasti hanya akal akalannya saja.
Jul tersenyum sinis, ia lalu melepaskan tangan nya pada tangan Rasya. Ia lalu berjalan melenggang, pergi keluar rumah mertua Alvia.
"Brengsek, preman sialan.."
Via juga meninggalkan kakak iparnya. Entah apa yang akan Rasya lakukan setelah ini. Ia yakin pria itu pasti akan melaporkan pada Bara.
Rasya mengumpat Jul, tangan nya sakit akibat plintiran Jul barusan. Ia lalu mencari keberadaan Via. Adik iparnya ini, mau membangkang padanya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan Via.?"
Via hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menulikan pendengaran nya, mendengar Rasya bertanya. Rasya sendiri yang merasa di acuhkan geram. Ia mencekal lengan Via dan membalikkan kasar tubuhnya.
"Alvia,..."
Rasya melotot tajam pada Alvia, sejak kapan adik iparnya ini mengacuhkan nya. Sedangkan Via melepaskan tangan Rasya, di lengannya. Ia sama sekali tak takut dengan pelototan Rasya padanya.
"Maaf kak, apa yang ingin kakak dengar. Via sudah mengatakan jika Via sudah menikah. Dan pria tadi suami Via, Zulkarnain."
"Jangan membohongi ku Vi,"
Rasya membentak lagi, seolah Via benar benar menguji kesabaran nya.
"Kak, Via tak mungkin kembali lagi mas Bara. Via sudah tak mencintainya lagi, kumohon jangan paksa Via."
"Vi..." Mereka berdua di kagetkan dengan kedatangan mertua Via ibu Rasya.
"Lihat lah Ma, menantumu ini perempuan tak tau diri. Dia sudah hidup menumpang di sini, tapi dia bertingkah sesuka hati."
"Sya..." Ibunya berseru, ia lalu menoleh ke arah menantunya.
__ADS_1
Alvia, sendiri mengepalkan tangannya mendengar nada hinaan Rasya, ia menatap ibu mertuanya.
"Ma maafkan Via, Via sudah menikah. Dan Via akan tinggal di rumah Via sendiri."
"Tapi Via,"
"Biarkan saja Ma, Rasya yakin dia akan tinggal di kontrakan kumuh. Mau dari mana uangnya, yang jelas kau tak boleh tinggal di rumah Arsen. Aku tak mengijinkan kau tinggal di sana."
"Maaf kak, asal kakak tau, Via tak akan tinggal di rumah pemberian mas Arsen. Rumah itu milik Arka, aku akan memberikan nya pada Arka jika nanti dia sudah menikah."
Rasya mengepalkan tangannya mendengar penuturan Alvia. Ya Rasya benci jika Via yang memegang surat rumah yang almarhum Arsen beli berikut kwitansinya. Sedangkan Alvia sendiri beralih menatap pada ibu mertuanya, dia ingin membawa Arkana bersamanya.
"Tapi Vi,"
"Ma, rumah Via tak jauh dari sini. Kami akan mengunjungi ibu nanti, setiap Arka libur sekolah."
"Bagaimana dengan Arka, dia pasti tak akan mau." Via tersenyum tipis melihat kecemasan ibu mertuanya.
Sedangkan di halaman rumah..
"Untung saja, bapaknya sudah almarhum."
Jul sedikit bernafas lega, setidaknya Arsen sudah mati, jadi dia merasa paling tampan. Di banding Bara, jelas Jul lebih tampan, Bara hanya berkulit putih dan dia sawo matang khas orang kampung. Dan Arsen, pria itu memang benar benar sangat tampan, terlihat jelas saat melihat Arkana. Jika Arsen masih hidup, mungkin mereka bagai pinang di belah Dua. Dan itu membuat Jul iri dengan ketampanan nya.
"Om.."
"Ok, Om akan ajarin Arka tapi ada syaratnya."
"Apa?" Terlihat wajah penuh tanya Arka. Jul tersenyum misterius, ia akan menaklukkan ibu dan anak sekaligus. Tak hanya, di lapangan sirkuit, ia juga harus bisa menaklukan Via dan Arka.
"Arka bisa belajar bela diri, tapi Arka harus tinggal di rumah Om." Rayunya.
"Benarkah, Om harus janji." Jul mengangguk mengiyakan, tak lama ia mengusap kepala Arka. Bocah itu berlari masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan nenek nya.
Jul tersenyum penuh kemenangan, ia yakin bisa meluluhkan hati Arka. Ia tak akan membiarkan Rasya memanfaatkan Via dan Arka untuk ambisinya.
__ADS_1
"Oma..."
Neli menghampiri cucunya, yang berteriak keras memanggil nama nya.
"Ada apa sayang,?"
"Arka mau belajar bela diri bersama Om. Arka mau nginap sama mama di rumah Om."
Arka begitu antusias, menceritakan dirinya yang akan tinggal bersama gurunya. Neli mengangguk terpaksa, mau bagaimana lagi Arka adalah anak Via. Sementara di belakang, Rasya mengepalkan tangannya mendengar penuturan Arka. Berbanding terbalik dengan Via yang tersenyum penuh kemenangan.
"Maaf kak, kali ini Via tak akan menuruti perintah mu."
Via berbalik dan kembali ke dapur untuk memasak. Ya Via sangat suka memasak. Dia sangat hobi membuat kue dan berbagai masakan.
"Via,..." Via menoleh ke arah suaminya.
"Aku mau keluar sebentar." Via mengangguk mengerti, ia tau suaminya mau kemana.
Jul mendekat dan mencium pipi istrinya. Lalu mengusap kepala Via, dan berbalik meninggalkan nya. Sementara Via sendiri mematung, sejak kapan suaminya bersikap layaknya pria dewasa dan romantis. Biasanya Jul akan bersikap konyol. tidak seperti ini. Tak lama kemudian ia tersenyum tipis.
Jul masuk kedalam mobil Pajero yang terparkir di depan rumah mertua Via. Pria kepercayaan Jul itu tersenyum miring, melihat ke arah Bos nya itu.
"Tidak usah menertawakan ku,"
Jul mengumpat dan melengoskan wajah nya. Ia gondok melihat wajah menyebalkan Farel yang mengejeknya.
"Sudah ku bilang, kau tak akan bisa lepas dari anak anak Bang. Bayangkan saja sudah hampir enam belas tahun kau sama sekali tak menengok mereka. Banyak yang keluar seperti mu Bang, tapi mereka tak seperti mu yang meninggal sirkuit begitu saja. Tiga tahun lalu mereka memaksa ku agar memaksamu kembali lagi kemari, sampai mereka yang marah padaku, karna Bos mereka hilang di telan bumi."
Jul mendengus mendengarnya, matanya hanya melirik ke arah Farel.
"Semua ini gara gara si janda dua kali itu. Sial sekali kenapa, aku harus tergila-gila padanya."
Farel tertawa terbahak bahak mendengar Bos nya menggerutu. Ia pikir Bosnya itu tak akan melirik wanita. Apalagi janda, dua kali pula. Padahal dulu saat Jul, masih di kota banyak para cewek cewek menaruh hati padanya. Tak banyak juga cewek yang membencinya karna kenakalan Jul yang suka bikin onar.
Tapi saat itu Jul baru menginjak dewasa, dia hanya membanggakan dirinya yang jago menaklukan sirkuit bukan menaklukan perempuan.
__ADS_1