
"Bukan urusan ku,"
Via acuh kemudian ia memanggil Arka dan melangkah keluar meninggalkan Jul dalam kondisi yang memprihatinkan. Jul sendiri tak berani bergerak, miliknya sangat ngilu dan tentu saja akan sangat malu jika berjalan keluar. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi sampingnya. Ia tak perduli dengan orang lain ya menatapnya aneh.
Nafas Jul masih memburu, ia menundukkan wajahnya pada meja. Menetralkan nafasnya akibat hasrat birahinya yang melambung tinggi.
Ia menggerutu bibirnya, gara gara wanita sialan itu nasib singkongnya seperti nya terancam jamuran. Awas saja jika Via tak memaafkannya.
Jul menoleh ke arah pintu, ia menatap nanar pintu kaca yang tembus pandang. Ternyata istrinya benar benar pergi meninggalkan nya di sini. Ingin sekali Jul mengejar Via, tapi pasti akan susah dan tambah sakit jika di ajak berjalan pasti inginnya tambah mengembang dan minta dilepaskan miliknya.
"Oh... Sial.."
Rizka sendiri masih berdiri mematung melihat kejadian yang jelas saja mempermalukan dirinya. Ia tak menyangka jika pria seperti Zain bersikap bodoh di depan banyak orang. Zain sungguh menjadi pria yang sudah terhasut oleh wanita seperti nya. Apalagi dia menghinanya dengan mengatakan jika ia wanita tua.
"Brengsek..."
Rizka berjalan ke arah Jul, ia berdiri di samping pria yang masih menunduk menetralkan nafasnya akibat singkong miliknya yang mengembang.
"Kak,.."
Mendengar suara wanita yang mengajaknya Jul langsung mengangkat wajahnya. Gara gara wanita ini singkong miliknya terancam berjamur.
"Apa,.."
Jawabnya menggebu, ingin sekali ia menghajar nya. Wanita sial yang membuat Via marah padanya dan meninggalkan nya.
Jul masih menatap tajam wajah Rizka, tak perduli jika mereka berdua masih di lihat banyak orang. Ia berdiri dan berbalik meninggalkan Rizka, mengumpat wanita sial yang membawanya kemari. Kenapa juga ia mau di ajak oleh nya, untung saja singkongnya sedikit melengkung dan bisa di ajak berjalan.
Rizka menatap tak percaya pada Zain, ia melirik ke arah pengunjung yang mungkin ada sekitar lima belas orang. Malu, tentu saja ia sangat malu dan sakit hati di katakan tua oleh Via. Apalagi Mereka menatap dengan tatapan cemooh padanya.
"Dasar pelakor..huuu...."
Tangan Rizka terkepal erat, ia berbalik keluar kafe dengan sedikit berlari.
"Aku akan membalasmu Via."
Di luar ia melihat mobil Zain keluar dari kafe. Itu artinya Zain meninggalkan nya begitu saja tanpa kata.
"Ternyata kau takut dengan wanita seperti istrimu itu kak. Aku akan merebut mu kak, aku jauh lebih bisa memuaskanmu pasti."
Rizka berjalan menyetop taksi dan akan kembali lagi ke markas, motor nya ada di sana.
*
Via mengemudikan mobilnya meninggalkan kafe, gerah rasanya melihat suami nya menggandeng wanita lain di depan umum. Awas saja,....
__ADS_1
"Ma kita gak pulang..?"
Arka bertanya saat melihat mobil yang berbelok berlainan arah dengan rumah papanya.
Sedangkan Via melirik ke arah putranya, ia tak menjawab pertanyaan Arka.
Satu jam kemudian Arka bersorak jika dia datang ke rumah nya yang dulu.
"Ma Arka kangen pulang ke sini."
Tentu saja Arka berteriak senang, tetangga sebelah rumah Via memelihara banyak kelinci. Itu sebabnya ia sangat suka main kesana jika pulang ke rumah lama mama nya.
Via sendiri hanya tersenyum simpul, ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga yang lumayan besar.
"Arka, ingat jangan di cekek kelincinya. Mama gak mau suruh ganti rugi lagi."
Via menggerutu bibirnya, ia kadang suka sebal dengan pemilik kelinci, yang kesempatan suka mematok harga yang membuat emosi nya naik.
Tentu saja Arka kadang gemas dengan kelinci yang sangat imut. Sangking imutnya, Arka kadang memegang kelincinya terlalu erat hingga kadang mati di tangan nya.
Pemilik nya saja yang keterlaluan, dia sengaja memberikan Arka yang masih kecil buat mainan, agar anaknya gemas dan mencekeknya. Setelah itu dia akan mematok harga yang di luar nalar.
Sudah dua kali Arka membuat ulah, dan Via tentu sudah memperingatkan anaknya, dasar anak kecil bilangnya ia tapi kalau udah liat gemas lagi.
Clek...
Via masuk dan melepaskan sandal miliknya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, timah ini banyak kenangan nya bersama almarhum suaminya Arsen. Dulu saat pengantin baru Via dan Arsen sering menginap di sini saat Arsen libur bekerja.
"Mending di sini saja dulu, biarkan saja pria bodoh mencarinya."
Bibir Via tak berhenti mengumpat suaminya, masih dongkol dengan kebodohan suaminya sendiri.
*
Jul mengerutkan keningnya saat tak mendapati keberadaan mobil yang di pakai istrinya. Ya ia tau jika Via tadi datang ke kafe memakai mobil. Lalu sekarang kemana mobilnya.
" Apa Via marah terus menjualnya."
Jul menggelengkan kepalanya, masa iya Via menjual mobilnya. Tak lama kemudian ia melototkan matanya. Mungkin saja Via memang menjual mobilnya terus minggat.
"Gak, gimana nasib singkong Jul."
Zulkarnain berlari ke dalam rumah, dan berteriak memanggil istri dan anaknya.
"Via.. Via... Arka..."
__ADS_1
Sementara Ida sendiri yang mendengar suara menggelegar Jul berlari ke asal suara. Tapi tuannya sudah pergi keatas.
"Tuan kenapa sih kayak tarsan, teriak teriak."
Ida menggeleng kan kepalanya kembali lagi ke dapur memasak untuk makan siang majikannya nanti.
Clek....
Wajah Jul pucat pasi, saat tak menemukan istrinya di dalam kamar. Ia melangkah ke kamar mandi.
Kosong...
Jul melangkah lagi menuju ke lemari pakaian istrinya. Hah.... Masih ada kirain Via beneran minggat. Nasib singkongnya benar benar bisa lumutan. Tapi kemana istrinya pergi, apa dia pergi mencari pengganti dirinya.
Jul berbalik dan menuruni anak tangga, ia memanggil nama pembantu rumah nya tak sabaran.
"Mbok, mbok.."
"Iya tuan...."
"Istriku kemana, kenapa gak ada di rumah.?"
Ida memikirkan sesuatu, ia juga lupa tadi majikan perempuannya pergi kemana. Jul mengeratkan giginya emosi, melihat Ida yang seperti nya juga tak tau.
"Kayak nya nyusul den Arka tuan."
Jul mendengus ia juga sudah tau kalau itu. Dan itu yang membuat nya ketar ketir sekarang, tak tau di mana keberadaan Via.
Hingga malam harinya, Jul mondar mandir di ruang tamu. Sesekali ia menoleh ke arah pintu, berharap Via pulang dan memaafkan. Sementara Ida sendiri juga masih bingung dan pusing melihat tuannya mondar-mandir.
"Tuan ini kopinya biar gak ngantuk nunggu neng Via pulang."
Jul melototkan matanya mendengar suara pembantunya, sedangkan Ida meringis.
"Tuan, Ida pusing liat tuan mondar-mandir kaya setrikaan, neng Via juga kemana sih, apa gak aptip nomernya tuan.?"
Jul melototkan matanya, kenapa ia baru sadar jika ia bisa menelpon Via dan menyuruhnya pulang.
"Kenapa gak bilang dari tadi.."
Hah...
.
.
__ADS_1