
Jul bersandar di dinding kamar mandi. Istrinya tak membukakan pintu untuk nya. Ia menatap melas pada singkong yang masih berkedut. Ia memegangnya, mencoba memaju mundurkan dengan tangan nya sendiri. Bukannya enak, tapi justru perih dan tak enak. Jelas saja tak enak, tak ada pelicin di tangan nya. Ia lalu berjalan ke meja rias, mengambil handbody.
"Apa Jul harus pake ini" Ia membuka dan menuangkannya di telapak tangan nya. Happ... mendarat sempurna di singkong siap tanam. Sebelum ia bercocok tanam, pintu kamar mandi terbuka.
Clek...
Via tersenyum tipis melihat kebodohan suaminya. Ia tau dia akan mengelus singkong miliknya dengan handbody di tangan nya.
"Mas, perlu bantuan."
Jul menoleh dan mendengus, ia lalu menatap istrinya memelas.
"Via, bantuin Jul" Via tak menggubris, ia berjalan ke arah koper yang di banting suaminya. Tak perduli dengan rumah siapa dan kamar siapa ini. Ia yakin bahwa ini adalah tempat tinggal nya.
Ia membuka handuk yang melingkar di tubuh polos nya. memakai pakaiannya di depan Jul. Jul sendiri yang melihat tubuh polos istrinya, tambah berkedut. Ia mendekati nya.
"Sayang..."
Via tak menggubris ia sibuk mengambil pakaian tipis berenda berwarna merah terang. Apalagi sebelum memakai Via lebih dulu menjereng lalu menunduk mengangkat kaki dan memakainya. Terang saja Jul yang melihat Alvia menunduk saat memakai kain segi tiga berenda itu bertambah panas. Bagaimana tidak bokong mulus Alvia menyentuh singkong miliknya.
Jul mangap mangap, ia seperti ikan kehabisan air. Nafasnya memburu menahan sakitnya kepala yang berkedut.
"Via..."
Via ingin tertawa mendengar suara memelas suaminya. Ia berbalik dan mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
"Ayo mandi, mas harus pijat sendiri. Lihat dia sudah penuh sama handbody. Jadi Via gak bisa bantu, nanti Via bisa keracunan."
Via berbisik pada telinga Jul dan mengecup rahangnya. Ia lalu melepaskan tangan dan berbalik keluar.
"Mas kau susah janji pada Arka"
Via tersenyum dan menutup pintu rapat. Sementara Jul sendiri masih mematung. Nafasnya masih memburu menahan gejolak gairah yang memuncak. Ia yakin dua hari dua malam ia tak bisa tidur karna singkongnya.
__ADS_1
" Awas saja kau Alvia, lihat saja besok tak bisa berjalan, huh..."
Ia berjalan sambil menekan miliknya, berharap itu bisa mengurangi rasa sakit.
Via menuruni anak tangga sambil, matanya tak berhenti melirik ke sembarang arah. Ia masih tak percaya jika Zulkarnain punya rumah di sini, apalagi ini sangat mewah. Apa ini hasil merampok, ah masa iya Jul merampok.
Via berkeliling di rumah besar, ia mencari keberadaan Arka. Entah di mana anaknya ini.
"Arka, Arka.."
Terdengar suara tawa nyaring khas anaknya. Ia melangkah dan kaget saat melihat Arka dan anjing di tangannya basah.
"Arka,"
"Ma sini, hujan hujanan." Via menatap tak percaya pada putranya. Ia lalu beralih pada wanita paruh baya yang tak jauh dari Arka.
"Ibu siapa?"
"Ibu kerja di rumah ini." Ida mengangguk mengiyakan.
"Sejak kapan,?"
"Barusan non, kan dulunya rumah ini milik orang bule, non. Dan si bule jual rumah ini, katanya mau balik lagi ke Arab."
Hah... Via menatap wanita paruh baya tersebut. Benarkah... Itu artinya suaminya baru saja membelinya.
"Via..."
Via menoleh ke arah Jul. Ia mengerutkan keningnya melihat penampilan suaminya. Bukankah ini sudah mau malam, mau kemana suaminya pakai baju seperti itu. Jangan bilang dia mau balap motor lagi.
Tapi Via hanya berkata dalam hati, itupun jika benar dugaan nya, kalau suaminya benar benar ketua geng motor di kota ini.
"Mas mau kemana.?"
__ADS_1
"Mau keluar sebentar, tunggu Jul pulang."
Jul langsung meninggalkan Alvia. Ia dapat telpon dari Farel jika anak anak sudah tau dan mereka mau bertemu dengannya. Alhasil mau tidak mau ia harus menemuinya. Dari pada mereka, datang kemari.
Brumm..
Jul menginjak pedal gasnya setelah penjaga membuka pintu. Ya rumah Jul terbilang mewah. Dia sanggup menyewa penjaga dan pembantu dua di rumah nya. Berbanding terbalik dengan rumahnya di kampung. Tak hanya Jul yang menyembunyikan identitasnya. Orang tua nya saja sama, mereka lebih suka hidup tenang di kampung.
"Kamu yakin itu Bos."
"Yakin.."
Farel hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Sebenarnya ia sendiri tak setuju jika mereka menginginkan Jul kembali lagi ke sirkuit. Ia yakin jika Jul sudah balik lagi ke sini akan susah keluar. Apalagi pria itu sudah beristri. Jelas saja Via yang mereka incar jika Jul memenangkan lomba. Secara ini adalah ilegal.
Brumm...
Mereka semua di kejutkan dengan mobil BMW klasik yang berhenti di depan markas mereka.
"Boss..."
Jul mendengus mendengar mereka serempak memanggilnya. Ia berjalan dan mereka langsung menubruk tubuhnya.
"Bos apa kabar,"
"Baik.."
Jul melangkah masuk, di dalam seorang wanita cantik duduk di meja dan tersenyum padanya.
"Ku pikir kakak tak akan kembali lagi."
Jul menatap wanita yang berpakaian seksi melangkah ke arahnya. Rizka Amalia, wanita satu satunya yang bergabung di geng motor nya.
Wanita berusia tiga puluh dua tahun ini, adalah salah satu partner Zain saat di sirkuit. Tapi ia tak tau tiba tiba saja Zain menghilang begitu saja tanpa kabar. Tentu saja semua anggota geng nya amburadul. Tak ada lagi yang, melatih dan mengalahkan lawan di pertandingan. Mereka sempat kecewa dengan keputusan Jul. Tapi entah mau kemana mereka mencari tak ada yang tau. Hingga enam belas tahun pria ini baru menampakan dirinya. Zulkarnain, pria yang dulunya remaja sekarang sudah menjelma menjadi pria yang gagah dan tampan.
__ADS_1