
Jul masih diam, ia shock mendengar jika istri nya hamil. Seperti tak percaya apa yang di dengar telinga nya. Jul melirik arah pandang mata Alvia, ia tersenyum lebar pada istrinya. Rupanya istrinya sedang cemburu padanya hingga ia berbohong jika ia sedang hamil.
Sedangkan Rizka sendiri shock mendengar jika istri Zain hamil. Ia tak percaya mendengar nya, tak mungkin akan secepat ini.
"Kak, kau yakin jika wanita ini mengandung anakmu kak, mungkin saja anak itu milik orang lain."
Via memicingkan matanya mendengar penuturan wanita gatal di depannya ini. Ia menoleh ke arah suaminya yang masih diam mematung. Geram melihat wajah Jul yang seperti orang bodoh.
Via berjalan masuk ke dalam tanpa menoleh ke arah suaminya. Ia tau jika perusahaan ini milik suaminya Zulkarnain. Dan Jul sendiri yang melihat Via masuk ke dalam berniat mengikuti langkah istrinya. Tapi Rizka lagi lagi mencekal tangan nya.
"Kak, wanita itu bukan wanita baik baik. Aku yakin jika dia hamil bukan anak kakak. Coba kakak pikirkan, bukankah baru beberapa hari kakak menikah dengan nya."
Jul mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Rizka. Ia mendorong tubuh Rizka hingga tubuh Rizka terkena mobil di belakangnya.
"Aw.. Kak..."
Rizka meringis saat punggung nya terkena badan mobil di belakangnya. Ia menatap wajah Zain tak percaya.
"Kak..."
Rizka meringis merasakan sakit di dagunya akibat cengkraman tangan Zain padanya.
"Ingat aku sudah mengatakan nya padamu, jangan menggangguku. Alvia istriku dan dia lebih baik darimu, aku mencintai istri ku."
Jul melepaskan tangan nya dari dagu Rizka. Tak perduli dengan wanita itu yang kesakitan. Ia sudah gerah dan dongkol pada ulat bulu seperti nya. Gara gara dia Via tak pulang ke rumah dan sekarang juga gara gara dia Alvia mengabaikan nya.
Sampai di dalam Jul yang mencari keberadaan istrinya matanya melotot tak percaya saat melihat Sandi dan istrinya sedang bergelut di lantai dingin.
Bukan bergelut lebih tepat tubuh Via berada di atas tubuh Sandi.
"Via..."
Suara Jul menggelegar di seluruh ruang milik Jul. Alvia kaget begitu pun dengan Sandi. Mereka berdua menoleh berbarengan pada Jul yang mengagetkan nya.
Wajah Jul merah padam melihat pemandangan yang merusak matanya. Ia berjalan lebar mendekati istrinya dan menarik tangan nya.
"Aw mas, ish.. Sakit tau."
"Kamu apa apaan sayang, berselingkuh dengan Sandi, ya."
__ADS_1
Sandi bangun dari lantai, punggungnya sangat sangat sakit akibat menolong istri bos nya. Ia menoleh ke arah Bos nya dan menggelengkan kepalanya.
"Gak bos, tadi_"
"Apa beraninya, aku pecat kau Sandi."
Sandi menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zain. Ia menatap memelas pada istri bos nya berharap wanita cantik ini menolong nya dari amukan Zain.
"Kamu tau Sandi, Via itu istri Jul."
"Mas kenapa sih, teriak teriak. Via jatuh tadi dan dia menolong ku."
Sandi bernafas lega mendengar nya, ia mengusap dadanya yang hampir saja jantungan. Jika Zain memecatnya mau makan apa dia dan istrinya.
"Jul gak percaya, pasi kamu mau kan sama istri ku. Kamu diam diam ingin merebut istri ku. Dengan ya Via, perusahaan ini itu milik Jul buka milik Sandi."
Via tersenyum lebar, ia mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Berbisik pada telinga Jul, dengan mesra.
"Mas Via hamil loh, mas gak kaget Via hamil anak mas Jul."
Jul melotot kan matanya mendengar penuturan istrinya. Benarkah apa yang di katakan Via tadi tak bohong. Via benar benar hamil anaknya.
Via mengangguk dan tersenyum, ia memeluk tubuh tinggi suaminya. Tapi Jul melepaskan pelukan Via darinya.
"Terus kenapa Via bisa berpelukan dengan Sandi. Apa yang Via lakukan dengan nya.?"
Via memutar bola matanya jengah mendengar penuturan suaminya kembali. Ia berjalan pada sofa dan mendudukkan dirinya di sana.
"Via jatuh.."
Jul memicingkan matanya mendengar penuturan Alvia. Jatuhnya ko bisa berpelukan bareng apalagi bibir Via menempel pada pipi Sandi. Mengingat itu seketika emosi nya kembali lagi naik. Ia mendekati Sandi dan memukul Sandi dengan kepalan tangan nya.
Bug...
"Bos..."
Jul mendelik tajam pada Sandi, ia menghampiri istrinya dan menatap wajah cantik Alvia. Via melirik ke arah Jul dan Jul melengoskan wajah nya masih gondok dengan Via yang berciuman dengan Sandi.
*
__ADS_1
Bara mengumpat Rasya yang berani padanya. Ia mengambil kembali milik nya yang pernah ia berikan pada Rasya. Tak perduli jika ia di katakan apa oleh orang lain. Nyatanya Rasya benar sudah keterlaluan.
"Tuan.."
Bara mengerutkan keningnya saat mendapati wanita berpakaian seksi datang ke kantor milik nya. Seperti nya ia pernah melihat wanita di depannya ini.
Sedangkan Hana sendiri gugup, mendekati Bara untuk ia rayu agar pria ini mau mengembalikan mobil milik nya.
" Tuan masih mengingat ku.?"
Bara geram melihat keberanian wanita itu. Apalagi saat tangan nya meraba raba dada bidang nya. Ia baru ingat siapa wanita ini, istri Rasya. Pria yang sudah menipunya, berkali kali.
"Apa tuan butuh bantuan ku.?"
Sett...
"Aw.."
Hana meringis saat tangan nya di cekal oleh Bara. Tersenyum miring saat mendengar tawaran menggiurkan untuk nya.
"Bukankah kau istri Rasya hemm, kau ingin mobil dan perhiasan milik mu aku berikan lagi padamu.?"
Hana mengangguk mengiyakan ucapan Bara, senyum lebar menghiasi bibir merah delima milik nya. Dan Bara sendiri langsung menekan tujuh Hana berjongkok. Hani yang tak tau apa maksud nya mendongak menatap wajah Bara.
"Puaskan aku dengan ini baru aku akan memberikan yang kau inginkan."
Ucap Bara mengusap bibir merah Hana dengan jari jempolnya. Hana sendiri mengangguk mengiyakan, ia memang sudah tak aneh dengan hal seperti ini. Baginya sudah hal biasa, tak hanya dengan Rasya, tapi dengan pria hidung belang lainnya pun Hana sering memuaskan pria dengan **** ***.
Bara berdecih ia melihat tangan Hana membuka ikat pinggang nya dan membuka kancing celana nya. Matanya terpejam saat miliknya yang masih tidur perlahan bangun dan bergerak. Tangan Hana sendiri membuka dan mengeluarkan isinya saat ia berhasil menurunkan resleting Bara. Terlihat benda panjang siap tempur menjulang tepat di hadapan nya.
Bibirnya tersenyum lebar, milik Bara lumayan besar di banding dengan milik Rasya suaminya. Tangan nya mengurut naik turun benda tumpul itu dengan tangan nya. Tubuh Bara sendiri semakin menegang mendapatkan urutan pada miliknya.
"Milik anda sangat keras tuan."
Bara tak menjawab, ia merem melek merasakan miliknya di urut oleh tangan Hana dengan lincah.
Hana sendiri tersenyum, melihat wajah Bara yang keenakan, ia yakin setelah ini Bara akan memberikan semua apa yang ia inginkan.
Hap....Ahhh...
__ADS_1