
Jul menatap datar wanita yang duduk di seberang meja. Ia tak suka jika ada orang lain yang ikut campur dengan hidup nya. Apalagi mendengar sendiri jika Istrinya di jelekkan dengan orang lain di depannya.
"Maafkan saya mbak, suami saya sudah memberikan semua harta berharga nya untuk ku. Jadi apa masalahnya jika aku harus memuaskan suami ku sendiri di atas ranjang, benarkan sayang.?"
Jul mengangguk mantap, bibir tak berhenti tersenyum lebar. Tentu saja apa yang dikatakan Via adalah benar. Dia sudah memberikan keperjakaan nya pada Via. Dan Via sendiri, juga sangat bangga memiliki singkong miliknya.
Mendengar Via membanggakan dirinya, dada Rizka bergemuruh. Ia lalu beralih menatap wajah Jul, berharap itu semua tak benar.
"Apa masih ada lagi yang perlu anda ketahui tentang pernikahan kami mbak."
Rizka bangkit dan berbalik pergi meninggalkan mereka berdua. Ia tak pamit pada Jul dan Via sebagai pemilik rumah. Rasa kecewanya dan cemburu membuat ia bertingkah bodoh. Ia menstater sepeda motornya, tapi ia di kagetkan dengan suara Via padanya.
"Hati hati ya jangan terlalu ngebut, kau bisa jatuh nanti. Apalagi jika kau tak fokus saat berkendara."
Gigi Rizka semakin gemerutuk mendengarnya, ia langsung menarik gas tangannya meninggalkan Via. Via sendiri yang melihat wanita cantik itu pergi dari rumahnya tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu berbalik masuk ke dalam mencari keberadaan suaminya.
"Mas, siapa dia.?"
Via menatap tajam pada suaminya yang berada di dapur dan makan.
"Jul lupa siapa namanya."
Jawabnya acuh, ia sama sekali tak perduli dan tak ingin mengingat siapa namanya. Baginya itu tak penting. Apalagi saat Via mengatakan jika dia sangat mencintai keperkasaannya, tentu itu membuat Jul bahagia bahkan senang bukan main. Singkong miliknya, ternyata membuat Via tergila gila padanya. Pantas saja istrinya selalu yang meminta lebih dulu jika ia sudah tidur.
Via memutar bola matanya jengah melihat Jul tersenyum sendiri. Ia tau apa yang ada di pikiran nya saat ini. Pasti sedang membanggakan miliknya sendiri.
Via tak lagi bertanya pada suaminya, ia beralih pada piring dan mengambil nasi.
__ADS_1
"Pagi ma, pagi pa.."
Jul mematung mendengar Arka memanggilnya papa. Ia menatap wajah Arka penuh tanda tanya.
"Bukankah Om suaminya mama, brarti papa Arka dong."
Jul tersenyum dan mengambil nasi dan lauk untuk putra sambungnya. Ada rasa yang tak bisa di gambarkan saat Arka benar benar memanggilnya papa. Sejauh ini baru kali ini ia di panggil seperti itu.
*
Bara melangkah masuk ke dalam perusahaan milik mertua Via. Pria tua itu dan Rasya sudah banyak mengambil keuntungan darinya. Dan dia sendiri tak bisa mendapatkan Via.
Sampai di ruang pribadi CEO, ia masuk tanpa mengucap salam. Tatapan matanya tertuju pada Mahendra yang duduk tenang di kursi kebesaran nya.
"Tuan Bara.."
"Ada apa tuan Bara.?"
"Jangan pura pura lupa Mahendra, aku tak mendapatkan apa yang ku mau. Dan kau dengan seenaknya sendiri duduk santai di kursi kebesaran mu sendiri."
Bara menatap remeh dan syarat dengan ejekan. Mahendra sendiri hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia juga tak berani membela diri, pada kenyataannya apa yang di katakan Bara ada benarnya. Perusahaan nya maju karna campur tangan Bara yang memberikan modal padanya.
"Maafkan saya, tapi kau tak boleh seenaknya saja jika kau ingin menarik saham milikmu Bara."
Bara tertawa lebar mendengar penuturan pria paruh baya di depannya ini. Ia lalu menatap datar kembali wajah Mahendra.
"Aku tak akan menarik nya, jika kau bisa memisahkan Via dengan pria itu. Aku akan memberikan saham itu menjadi milikmu seutuhnya. Tapi Via harus menjadi milikku, apapun caranya aku tak mau tau. Jika tidak aku akan menarik semua saham milik ku. Dan lagi, uang yang kuberikan pada Rasya, tentu tak sedikit Mahendra."
__ADS_1
Di depan pintu Rasya mengepalkan tangannya mendengar penuturan Bara. Ia mengumpat Alvia yang membuat hidupnya kacau dan was was seperti ini. Bagaimana jika Bara mengambil uang yang di berikan padanya. Tak hanya mobil yang Bara belikan untuk nya. Tapi juga cicilan rumah nya itu adalah uang Bara, sementara uang nya sendiri, habis oleh istrinya.
Setelah mengatakan itu Bara bangkit dan keluar dari ruang CEO milik Mahendra. Di depan pintu masuk ia melihat Rasya yang menatapnya memelas.
"Ingat lah Rasya, aku tak main main dengan semua ini."
Ia lalu berlalu meninggalkan Rasya yang menatapnya. Apapun caranya ia harus bisa mendapatkan Alvia kembali. Cinta nya terlalu besar pada Via. Kesalahan nya yang dulu memang berakibat fatal. Tapi bisakah ia memperbaiki kesalahannya dan mengejar miliknya kembali. Ia benar-benar menginginkan Alvia menjadi istrinya kembali. Tak perduli dengan Via yang sudah membencinya. Ia yakin jika Alvia juga masih mencintainya.
Rasya menatap wajah ayahnya, ia lalu berbalik pergi meninggalkan perusahaan. Ia akan ke rumah Via, ia akan meminta bagaimana pun juga Via berhutang Budi pada keluarganya. Ya ia akan memanfaatkan kesempatan ini. Ia akan membuat Via merasa berhutang budi oleh keluarganya.
Sampai di depan rumah minimalis Rasya tak melihat adanya kehidupan di sana. Ia bingung, kemana perginya penghuni rumah ini. Bukankah ini rumah Via, ia tak mungkin salah mengenali rumah Via. Dia juga sering datang kesini sebelumnya. Lalu kenapa rumahnya seperti tak berpenghuni. Kemana mereka, apa rumah nya sudah di jual. Tapi tidak mungkin dia menjual rumah ini. Ini adalah satu satunya rumah peninggalan orang tua Via dulu sebelum meninggal.
Rasya penasaran, ia turun dari mobilnya dan melangkah mendekati rumah minimalis milik Via. Ia mengintip ke dalam, jendelanya pun sangat tertutup.
"Bu, apa ibu tau di mana pemilik rumah ini.?"
Rasya bertanya pada salah satu tetangga Via yang berjejeran.
"Oh neng Via, sudah lama kan den, gak balik lagi kemari. Kadang cuma ada orang yang datang bersih bersih. Pas di tanya katanya dia di suruh pemilik nya untuk membersihkan rumah ini seminggu sekali. Kalau neng Via nya sendiri kan tinggal di rumah mertuanya den."
Rasya mengangguk kemudian pamit dan pergi meninggalkan rumah Via. Ia masuk ke dalam mobil, dan duduk termenung di mobil. memikirkan kemana Via dan suaminya pergi. Tinggal di mana mereka saat ini. Tak mungkin kan mereka tinggal di kontrakan sementara rumah ini masih ada dan tidak di jual.
Tak lama kemudian Rasya mengemudikan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan milik Via. Ia sendiri masih bingung kemana mereka pergi. Apa mereka kembali lagi ke kampung halaman pria itu.
.
Tinggalkan jejak komentar dan like nya
__ADS_1
❤️