
Jul mendengus melihat Alvia menatap nya, memang nya ia doyan apa sama wanita macam dia. Dari bentuknya saja sudah pasti palsu semua.
"Mas kenapa,?"
"Jul gak suka yang palsu, gak enak pasti."
Via menipiskan bibirnya mendengar penuturan suaminya. Ia tau apa yang di pikirkan suaminya saat ini.
*
Jul keluar dari mobilnya melangkah lebar masuk ke dalam gedung tertinggi perusahaan milik Bara.
Semua karyawan Bara yang melihat kedatangan Jul, menatap tak berkedip. Mereka tak tau siapa yang datang ke perusahaan milik tuan Bara itu.
"Mbak di.mana ruangan CEO,?"
"Mas siapa ya, mau bertemu dengan siapa.?"
Tanya resepsionis, tersenyum malu malu pada Jul. Jul memicingkan matanya melihat wanita di depannya ini yang tersenyum padanya.
"Bara Emanuel,"
Jawab Jul, matanya melirik ke arah segerombolan orang yang baru saja masuk ke dalam. Mata tajam Jul langsung mengenali salah satu sosok yang berjalan mendekat ke arahnya.
Jul berjalan mendekati Bara dan pria lainnya.
Sedangkan Bara sendiri yang melihat suami Alvia datang kemari mengepalkan tangannya. Untuk apa dia datang ke perusahaan nya.
"Mau apa kau datang kemari.?"
Semua menghentikan langkahnya saat menyadari jika ada seorang berdiri di depan mereka. Bara sendiri berdecih melihat nya. Ia tersenyum remeh pada Jul yang berpakaian seperti preman dana masuk ke dalam perusahaan milik nya.
"Aku hanya mengatakan padamu, jangan mengganggu istri ku. Apalagi saat ini istri ku sedang hamil. Aku tak ingin nanti anakku mirip seperti mu karna aku membencimu."
"Kau,.."
Jul berjalan meninggalkan Bara yang menatapnya shock. Mana perduli Jul dengan reputasi Bara, biarkan saja ia malu dengan rekan bisnisnya.
Sementara Bara sendiri mengepalkan tangannya, mendengar penuturan Jul. Wajah nya merah padam menahan malu luar biasa. Pria sialan itu benar benar membuatnya malu bukan main. Apalagi ini di perusahaan milik nya sendiri.
"Apa maksud nya tuan Bara.?"
__ADS_1
Tanya salah satu rekan bisnis nya pada Bara. Sedangkan Bara sendiri bingung, tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa-apa tuan, mungkin pria itu salah paham atau mungkin di pria gila. Kita tidak tau, siapa dia."
Jawab Bara, mereka lalu berjalan menuju ruang meeting. Bara sendiri.masih memikirkan apa yang di katakan oleh Jul. Benarkah jika Alvia hamil, apa dia hanya berbohong padanya.
Di parkiran Jul masih duduk di dalam mobilnya. Pakaian nya sudah berganti ala ala pakaian formal kantoran. Jul menatap pada Sandi yang mendandaninya seperti ini.
"Risih tau gak,"
Jul menatap tajam pada Sandi. Badan nya gak leluasa gerak karena Sandi memakai kan jas padanya.
Sandi memutar bola matanya jengah mendengar nya. Sudah puluhan kali Jul mengatakan risih dan gerah.
"Ingat jangan bikin malu bos, kalau gak mau Via di ambil sama Bara, kalahin dia nanti, Ok."
"Terus kalau lupa gimana?"
Ck..
Sandi berdecak mendengar nya, tak lama ia menatap bos nya itu.
Plak...
"Enak aja, Via udah hamil anak Jul, terus Bara nanti yang di panggil papa. Jul yang tanam dia yang mau panen, mana bisa."
Brakk..
Sandi berjengit kaget saat mendengar suara pintu mobil tertutup keras. Sandi menggelengkan kepalanya, melihat tingkah bos nya itu.
"Toh kalau rusak dia yang rugi,"
Sandi mengikuti langkah bos nya itu dari belakang. Tersenyum tipis melihat tubuh bos yang memang lebih tampan dan berkarisma saat memakai pakaian formal. Tapi sayang nya bos nya itu tak suka memakai pakaian seperti itu, dia bilang risih dan ribet.
Karyawan yang melihat pria berpakaian formal itu menatap nya tak berkedip. Tapi tak lama kemudian ia mengerutkan keningnya saat mengingat sesuatu.
Jul dan Sandi melangkah masuk ke dalam lift. Mereka berdua tak perduli dengan tatapan aneh para karyawan Bara.
"Jangan gemetaran gitu dong bos, ingat Via."
Jul mendengus mendengarnya, ia hanya melirik ke arah Sandi. Mana mau ia juga kalah dengan Bara.
__ADS_1
Ting...
Jul melangkah lebar keluar dari lift, di depan ada dua karyawan yang menatap ke arah nya.
"Tuan Sandi, anda sudah di tunggu di ruang meeting."
Sandi melirik ke arah bos nya, tak lama ia mengangguk mengiyakan ucapan wanita cantik di depannya ini.
Sandi melangkah terlebih dahulu, melewati Jul dan membuka pintu untuk Bosnya.
Jul masuk ke dalam ruang meeting, dan tatapan mata nya langsung tertuju pada Bara. Sedangkan Bara sendiri mengerutkan keningnya mendapati suami Alvia masuk kembali dan berpakaian formal. Tak lama kemudian ia tersenyum saat mendapati Sandi di belakang tubuh Jul.
Jul dan Sandi masuk ke dalam dan duduk di kursi kosong. Bara masih bertanya tanya untuk apa pria preman ini datang ke mari dan duduk bersama dengan CEO perusahaan otomotif. PT One JAYA.
Apa dia salah satu karyawan nya, tapi tidak mungkin masa dia pakai jas.
"Tuan.."
Bara tersentak kaget saat mendengar suara sekertaris nya.
"Ah ya, tuan Sandi, ini adalah salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan saya. Perkenalkan dia CEO dari_"
"Ah maaf tuan Bara, saya bukan CEO perusahaan PT One JAYA tuan, saya sekertaris nya. Dan ini CEO perusahaan PT One JAYA, namanya Zulkarnain."
Hah....
Semua tercengang mendengar nya apalagi Bara, dia shock sekaligus tak percaya. Mana mungkin pria preman itu seorang CEO otomotif. Apa mungkin di kembaran suaminya Via. Ah mungkin saja benar suami via kembar dan dia adalah kembaran nya. Masa ia pria preman dan anak udik tiba tiba jadi CEO.
"Bukankah anda pria yang di lobi tadi tuan.?"
"Ya,..."
Bara melototkan matanya mendengar pengakuan suami Via itu.
"Maaf tuan Sandi, saya tidak mengerti maksud anda?"
"Maaf tuan Bara, bukan kah anda sudah bisa membaca, siapa nama yang tertera di berkas perjanjian kita."
Suara berat Jul langsung membungkam mereka semua. Suara itu terdengar sangat berat dan terkesan dingin. Berbanding terbalik saat di lobi tadi. Sedangkan Bara sendiri tambah shock mendengar nya. Ia baru mengingat nya jika di sana tertulis nama Zulkarnain sebagai CEO.
Mana mungkin...
__ADS_1