Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Pulang


__ADS_3

Tiga bulan berlalu


"Via,..."


Via menoleh ke belakang mendengar suara seseorang memanggil nya. Ia tersenyum melihat Bara yang berjalan mendekati nya.


Sedangkan Bara sendiri yang melihat perubahan di tubuh Via, hanya mendesah lirih. Semenjak ia mengetahui jika suami Via adalah seorang CEO, Bara sedikit ciut dan tak pernah mendatangi mantan istrinya lagi. Dan ternyata saat ini Via sedang mengandung anak pria yang ia kira preman itu.


Tentu saja ia tak ingin membuat dirinya hancur jika ia menginginkan istri Zulkarnain. Ia tau seberapa besar nya perusahaan suami Via itu. Dan bisa saja pria itu juga berbalik menghancurkan nya.


"Mas Bara,"


"Apa kabar Via,?"


"Baik.." Bukan Via yang menjawab nya tapi Jul yang menjawab pertanyaan Bara. Jul melingkarkan tangannya pada pinggang Via yang sedikit lebar.


Bara tersenyum kecut mendengar nya, tak lama kemudian ia menatap kedua bergantian.


"Maafkan aku yang selalu menginginkan Alvia. Tapi jika kau_"


"Via tetap istriku, dan aku tak akan pernah membiarkan kau merebut nya dariku."


Jul membawa istrinya pergi meninggalkan Bara. Ia tak ingin melihat pria sialan itu yang selalu menginginkan Alvia. Sedangkan Alvia hanya mendesah lirih, dan mengikuti langkah suaminya. Semenjak ia hamil Jul terlalu over padanya. Padahal Bara hanya menyapanya, pria itu sudah tak seperti dulu lagi yang selalu mengganggunya.


"Mas kamu ini kenapa sih,?"

__ADS_1


Jul tak menggubris ucapan istrinya. Ia tetap membawa Alvia masuk ke dalam mobil.


"Jul gak mau ya, anak Jul nanti mirip sama dia, kata Mak gitu, jangan terlalu membenci seseorang jika Istrinya sedang hamil, anaknya bisa mirip dengan orang yang di bencinya. Makanya Jul bawa Via cepat pulang."


Via hanya memutar bola matanya jengah. Ia tak menggubris suaminya. Sore nanti mereka akan pergi ke kampung halaman suaminya. Alvia memang sudah lama berencana menjenguk orang tua suaminya. Terhitung sejak menikah Via dan Jul tak pernah pulang, mereka pasti merindukan Jul.


"Mas kita susul Arka sekalian,"


"Iya.."


Di sekolah Arka sudah menunggu jemputan nya. Dari jauh ia bisa melihat mobil papa nya yang menjemputnya. Ia berlari menghampiri mobil papa nya dan ternyata itu benar jika papa nya yang menjemputnya.


"Pa jadi gak ke rumah nenek.?"


Arka berteriak kegirangan, ia akan bermain ke kampung halaman papa barunya. Sudah di pastikan jika ia akan senang nanti tinggal di sana.


*


Sementara Bara yang melihat kepergian Alvia mendesah lirih. Ternyata cintanya pada Alvia sama sekali tak bisa ia raih. Via sudah tak mencintainya lagi. Ia pikir dulu Via masih sedikit mencintai nya dengan menerima barang pemberian dari nya, tapi ternyata Alvia sama sekali tak tau dan Rasya menipunya.


"Rasya brengsek, aku tak akan membiarkan kau hidup bahagia, karna sudah menipuku."


Tentu saja Bara berang pada kakak ipar Via. Sudah banyak uang yang Bara berikan pada pria brengsek yang menipunya.


*

__ADS_1


Jul memarkirkan mobil mewah milik nya di halaman rumah sederhana milik kedua orang tuanya. Satu hari satu malam ia berkendara hingga sampai di halaman rumah orang tuanya.


"Sayang kita sudah sampai."


Via mengerjapkan matanya, ia menggeliat merasakan pegal pada tubuhnya.


"Arka Arka, bangun sudah sampai di rumah nenek, ayo bangun."


Arka berjengit mendengar jika mereka sudah sampai. Ia menoleh ke arah luar dan ternyata mereka memang sudah sampai di kampung halaman papa nya dan saat ini mobil papa nya terparkir di halaman rumah, ya yakin jika rumah ini milik neneknya.


Dari dalam Amir keluar rumah saat mendapati mobil asing terparkir di halaman rumahnya. Tak lama kemudian ia mengerutkan keningnya saat mendapati bocah kecil laki laki turun dari mobil.


"Kakek.."


Amir semakin menajamkan alisnya, mendengar bocah itu memanggil nya kakek. Tak lama ia tersenyum dan padanya saat melihat anak itu mendekati nya.


"Kamu salah alamat ya nak. Rumah kakek mu bukan disini."


Ucap Amir pada anak yang mendekati nya. Tak lama kemudian ia di kaget kan dengan suara Jul anaknya.


"Pak."


Amir mendongak melihat sumber suara yang sangat ia kenal. Matanya melotot melihat putranya berdiri gagah di samping mobilnya.


"Leha Leha, Jul pulang."

__ADS_1


__ADS_2