Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Minta cerai


__ADS_3

"Kan bukan Via yang meminta nya datang, kenapa harus marah pada Via."


Jul menggeser kursinya mendekati istrinya, sementara Sarah yang melihat keduanya hanya menatap iri pada bos nya itu.


"Ko bisa ya mbak Via dapat pria yang setia dan terlihat lugu begitu. Tapi kadang serem kalau liat mas Bara. Padahal kan mas Bara baik sama mbak Via. Ah mungkin cemburu kali, ah.."


Sarah menggelengkan kepalanya mengingat jika mantan suami bos nya itu pasti akan berakhir baku hantam dengan suaminya yang sekarang. Padahal juga kan bisa baik baik, tuan Bara saja yang masih ngejar ngejar bos nya.


"Sayang,"


Jul mengendus leher Alvia, ia menatap salah satu mahakarya nya tadi pagi. Tersenyum bangga dengan apa yang ia buat.


" Coba saja kalau Bara lihat karya Jul tadi,"


Via menatap tajam pada suaminya, ia meraba raba leher miliknya.


"Mas juga kenapa harus bikin di sini sih kan malu kalau di lihat orang."


Protes nya pada suaminya, sambil mengobrol kaca dan menatap lehernya.


Tak lama kemudian ia mendengus, ternyata memang terlihat.


"Kenapa harus malu, mas bangga dengan karya mas,"

__ADS_1


Tersenyum sambil bergelayut manja pada lengan Via. Sedangkan Via sendiri membiarkan suaminya. Mau di larang juga pasti tak akan mau.


*


Riki menatap tak percaya pada Yono yang duduk di depannya.


"Yakin Lo Yon, masa sih Ratna cere sama suami nya, gara gara gak cinta katanya. Hoax banget dah, bukannya Ratna sendiri yang ngebet pingin nikah sama pria itu."


Yono mengngedihkan bahunya tanda tak mengerti. Ia juga shock saat mendengar langsung saat mereka baru keluar dari rumah pak lurah. Dan pak lurah sendiri yang mengatakan nya padanya. Jika Ratna mengajukan cerai pada suami dan suaminya tak mau mentalaknya. Suami masih mempertahankan Ratna menjadi istrinya. Tapi Ratna yang kekeh tak ingin berumah tangga dengan suaminya. Padahal mereka menikah baik baik saja dan bukan juga karna perjodohan kayak nya. Bahkan Ratna sendiri langsung memutuskan hubungan nya dengan Jul sahabatnya.


"Apa Ratna masih cinta sama Jul ya, Yon. Gue rasa, Ratna kualat udah putusin Jul dan nikah sama pria lain dan sekarang gak bahagiakan."


Celetukan Riki mendapat tabokan dari Yono.


Riki mendengus dan mengusap bibirnya yang terkena tabokan Yono. Tak lama kemudian ia tersenyum melihat pak Amir ayah Jul.


"Pak, Jul gak pernah telpon ya." Sapa Riki tanpa salam pada Amir yang baru saja sampai di warung.


Sedangkan Amir sendiri yang mendengar pertanyaan Riki hanya melirik.


"Belom nelpon sama Lo Ki,?" Riki menggelengkan kepalanya. Sementara Amir tak melihat gelengan Riki. Ia fokus pada belanjaan yang di titipkan istrinya padanya. Padahal tujuan nya cuma mau beli kopi. Tapi titipan istrinya satu kantong kresek sendiri.


Dan Riki yang tak mendapat kan respon dari ayah Jul mendengus. Orang tua satu ini memang suka sekali membuatnya naik darah.

__ADS_1


"Yon Jul gak pernah telpon Lo juga," Tanya nya pada Yono. Dan Riki tambah memberenggut.


"Gak pak, kebetulan hape aku rusak, dan udah ganti kartu, lupa sama nomor nya Jul."


"Lagian juga kalau gak lupa, Jul juga jarang pegang hp kan." Riki menimpali ucapan Yono.


"Kalau sama bapak mah sering, sekarang juga lagi teleponan sama emaknya dari tadi..Ya udah bapak pulang dulu."


Amir pergi meninggalkan mereka berdua, sebenarnya ia kasihan pada mereka berdua. Ia memang sengaja tak memberitahukan jika anaknya sudah mengganti nomor nya. Takut jika Jul tergiur dengan sahabatnya kembali dan pulang. Itu sebabnya beberapa kali Jul meminta nomor mereka tapi ia beralasan lupa. Dia ingin Jul betah dan tinggal di kota meneruskan peninggalan ibunya. Kasihan dia kalau di sini, suka di katakan bujang lapuk.


Padahal Jul bukan tak laku, memang belum jodoh aja kan. Buktinya ketemu sama janda dia langsung nomplok aja, bahkan dia bilang gak mau pulang.


Amir melangkah ke dalam rumahnya, melihat istrinya yang masih teleponan dengan anaknya.


"Bilangin Jul, temannya titip salam."


Leha menatap pada suaminya, bukankah dia sendiri yang tak mengijinkan Jul tak menghubungi mereka.


"Gue kasihan Leha, mereka seperti pengin banget tau kabar Jul. Lo kasih aja deh sama Jul nomor ponselnya. Gua gak tega lihat Riki, kayaknya kangen banget sama Jul. Lagian juga udah sebulan, pasti Jul udah betah di sono."


"Jul kamu mau nomor Riki sama Yono.?"


Tak ada sahutan sama sekali dari seberang telepon. Hanya ada helaan nafas yang terdengar. Sepertinya Jul juga sama, dia merindukan sahabatnya. Tapi takut kalau ngomong sama mereka akan melow.

__ADS_1


__ADS_2