Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Kemarahan Bara


__ADS_3

Bara mengamuk di rumah besarnya. Pagi pagi ia di kejutkan dengan penuturan Rasya. Kakak ipar Alvia mengatakan jika mantan istrinya ternyata sudah menikah lagi. Ia tak tau dengan siapa dia menikah. Sama sekali tak ada gambaran jika Via mempunyai kekasih tersembunyi.


"Brengsek...Alvia, sampai kapanpun kau tetap milikku. Tak ada yang boleh merebut mu dari ku."


Bara bangkit dan berjalan keluar rumah mewahnya. Ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Bukan keperusahaan miliknya, tapi ke perusahaan mertua Via.


Brakk...


Bara berjalan dengan langkah lebar, wajahnya sudah memerah menahan amarah yang luar biasa. Bagaimana mungkin pria tua itu, menikahkan Via dengan orang lain. Ya yang Bara tau Mahendra yang menikahkan Via. Padahal pria itu juga tak tau Via menikah dengan pria yang bernama Zulkarnain.


"Bara,.." Rasya kaget melihat pagi pagi Bara sudah ada di perusahaan milik ayahnya. Apalagi pria itu sepertinya marah besar. Ia melangkah mendekati mantan suami adik iparnya.


"Tuan Bara,"


"Dimana Mahendra.." Teriaknya.


"Tenanglah kita bicarakan baik baik. Ayo jangan seperti ini, nanti banyak yang berpikir macam macam."


Rasya merayu nya, ia sendiri mengutuk Alvia. Wanita tak tau diri itu menyusahkan nya. Bara berjalan di depan, melangkah ke ruang pribadi Mahendra. Ia tak perduli dengan Rasya yang mengikutinya dari belakang. Ia sudah tak sabar ingin tau kenapa pria tua itu menikahkan Alvia. Jelas saja Bara menuduh pria tua itu. Selain Via yang tak punya saudara di sini, dia juga tak punya orang tua.


Brakk..


Mahendra berjengit mendengar pintu di buka kasar. Ia menatap wajah Bara yang mengeras.


"Tuan Bara, selamat pagi, suatu kehormatan anda pagi pagi datang kemari."


"Tidak usah berbasa basi Mahendra. Kenapa kau menikahkan Alvia dengan orang lain. Bukankah kau tau, jika aku ingin kembali lagi padanya."


Mahendra menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sudah menduga jika Bara tau pasti dia akan mengamuk padanya.


"Saya tidak menikahkan Alvia, saya sendiri juga tak tau jika Alvia sudah menikah."


"Apa maksudmu.?" Teriak Bara menggelegar di ruang CEO milik Mahendra. Bagaimana mungkin pria itu tak tau, dan dia berkelit tentang Via. Hanya dia pria yang perlu di curigai.

__ADS_1


"Tenanglah tuan Bara, ayo duduk dulu."


Bara menatap tak suka pada Rasya. Tangan nya terkepal erat saat mengingat bagaimana Rasya yang selalu meminta imbalan akan memenuhi keinginan nya, merayu Via agar mau kembali lagi padanya.


Rasya melirik ke arah ayahnya, ia lalu berbalik menatap Bara yang duduk di depannya ini.


"Katakan padaku, apa maksud semua ini?"


"Kami memang benar benar tak tau Via sudah menikah lagi. Via tak memberitahukan kepada kami jika dia ingin menikah."


"Aku harus percaya begitu." Dengus Bara.


"Kami memang tak ada yang tau Via menikah. Dia pulang dari kampung membawa seorang pria, dan dia bilang kalau dia adalah suaminya." Bara menoleh, apa maksud Rasya jika Via pulang dari kampung membawa suami begitu.


Bara mengepalkan tangannya mengingat pria yang memukul wajahnya saat ia di kampung. Apa kah pria itu, pria preman yang menjadi suami Via.


"Dimana sekarang Via.?"


"Via keluar dari rumah, kami pikir dia akan kembali lagi ke rumahnya yang lama. Tapi ternyata dia dan suaminya tak tinggal di sana."


*


Tubuh Jul ambruk di atas tubuh polos istrinya. Satu jam mereka bergelut di atas ranjang. Jul tak mau melangkah turun dari ranjang sebelum Via memanjakan singkong milik nya.


Via pikir suaminya sudah bangun, saat ia dari kamar Arka. Ternyata Jul masih bergelung di dalam selimut. Dia marah karna mereka tak bercinta semalam. Dia bilang tak akan turun dari ranjang jika mereka tak bercinta dulu. Alhasil Via harus menunda dulu datang ke butik milik nya.


"Kamu sangat seksi sayang,"


Tangan besar Jul meraba raba lagi gundukan kenyal yang menjadi salah satu favorit nya. Siapa yang tidak tergila gila dengan Alvia. Wanita ini sangat pintar memanjakan suaminya di atas ranjang. Jul di buat tepar oleh permainan istrinya.


Nafas Via memburu setelah melepaskan sisa percintaannya. Satu jam lamanya ia duduk di atas paha suaminya, bergerak naik turun di atasnya dan Jul sendiri hanya merem melek di bawah. Dia marah karna semalam dia tertidur lebih dulu. Via tak dengar jika suami nya membangunkan nya. Alhasil pagi pagi ia cemberut tak ingin beranjak dari kasur. Itu sebabnya ia merayu pria gondrong ini.


Via menyerah ia menyudahi permainan nya, tapi Jul membalikkan tubuhnya. Mengukungnya dan bergerak maju mundur. Padahal Via sudah sangat lemas.

__ADS_1


"Ayo sayang, mandi" Jul merengek meminta Via bangkit.


"Gak, mas saja dulu, Via nanti saja."


Jul meringis, ia menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. Ia tau Via kelelahan, terlihat dari tubuhnya yang penuh keringat.


Jul memandikan istrinya, menyabuni tubuh polos istrinya yang putih mulus. Ia menatap pada benda yang akan bereaksi.


"Ishh, nanti lagi." Gumamnya sendiri.


Jul segera menyabuni tubuh polos istrinya. Jangan sampai singkong miliknya terbangun lagi dan minta di elus. Lawannya saja sudah tepar duluan. Dan dia tidak mau lagi pakai handbody seperti kemarin siang. Cukup satu kali ia mengurutnya memakai handbody. Bisa bisa kualitas bibitnya menurun.


Jul menyudahi mandinya dan dia menggendong Via kembali lagi ke kamar nya.


"Mas, Jul semalam pulang jam berapa.?"


"Sebelas." Via menyipitkan matanya mendengar pengakuan suaminya.


"Mas dari mana emangnya,?" Ia mencoba memancing Jul. Apa suaminya ini akan mengakui latar belakangnya yang dulu pernah tinggal di kota.


"Ketemu anak anak,"


"Panti asuhan.." Semakin penasaran.


"Bukan, anak motor." Via tersenyum tipis, tak menyangka suaminya akan jujur padanya. Setidaknya suaminya tak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Jul dulu pernah tinggal di kota, di sini Jul mentato tangan Jul. Jadi anak yang suka tawuran, suka bikin onar dan satu lagi suka balap liar....


Tapi itu dulu, sekarang Jul gak lagi. Itu sebabnya Jul sebenarnya gak mau datang lagi ke kota. Alasannya ya hanya satu, pasti mereka kejar kejar Jul untuk kembali lagi balapan liar."


"Karna mas yang memberikan mereka semua penghasilan, benarkan." Jul menatap mata istrinya dalam.


"Ingat ya mas, Via gak setuju jika mas balik lagi seperti dulu. Mas tau apa yang bisa Via lakuin."

__ADS_1


Jul meringis refleks tangannya menutupi bagian tengah pahanya, saat melihat mata istrinya mengarah kemana.


__ADS_2