
"Via, mau bertemu dengan kak Rasya."
Ya Via baru saja menerima telepon dari ibu mertua nya jika Rasya sakit. Padahal Via sendiri sudah tau dari Jul suaminya, dan rencana nya Via mau menjenguk Rasya bersama Jul. Tapi tiba-tiba saja ibu mertuanya menelponnya dan dari seberang telpon nya ia bisa mendengar suara Hana yang meminta uang pada Rasya.
"Ya udah kalau gitu ayo masuk,"
Via mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, dan melirik ke arah Hana.
"Ayo sayang."
Seru Jul pada Via, Jul sama sekali tak menoleh pada wanita yang dari tadi melihat nya.
"Via, kau belum memperkenalkan aku dengan suami mu."
"Tak perlu, aku tak mau berkenalan dengan mu, ayo sayang."
Alvia tersenyum penuh kemenangan melihat wajah masam Hana. Ia mengikuti langkah lebar suaminya. Sedangkan Hana sendiri mendengus. Ia lalu berjalan dan mengikuti langkah Via dan suaminya. Masih penasaran dengan pria yang menjadi suami adik iparnya ini.
"Via Arka sama siapa,?"
__ADS_1
"Sama bibi,"
Jul mengangguk mengiyakan, ia lalu melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Via. Ia tau jika istri Rasya mengikuti nya dari belakang dan bersembunyi.
"Kapan sih Vi, kecebong Jul gedein nya, pasti lucu."
"Baru juga sebulan mas."
Jawab Via, ia melihat ibu mertua nya di luar dan menunggu nya. Tak lama Via mempercepat jalannya mendekati wanita paruh baya yang duduk di kursi tunggu.
"Ma.."
Neli mendongak melihat Via yang berdiri di samping nya, datang bersama suaminya. Bibirnya tersenyum tipis, rupanya pria ini selalu mengikuti menantunya ke manapun.
Mereka masuk ke dalam kamar rawat Rasya. Via menatap Rasya yang terbaring di ranjang pesakitan.
Rasya sendiri yang menyadari jika seseorang masuk membuka matanya. Ia tersenyum melihat Alvia datang. Tapi tak lama kemudian senyum Rasya hilang saat melihat pria di samping adik iparnya ini.
"Kamu kenapa membawa pria itu kemari Via.?"
__ADS_1
Alis Via bertaut, apa maksud Rasya berbicara seperti itu. Jul suaminya dan dia bebas pergi bersama dengan suaminya.
"Memangnya apa yang ingin kau katakan pada istri ku, jika aku tak ikut dengan nya.?"
Jul bersuara, ia tau apa yang ingin di katakan oleh Rasya dan ibunya. Mereka berdua pasti ingin menghasut istrinya lagi agar menuruti semua keinginan mereka.
Neli sendiri meremas tangannya, ia gugup saat mendengar suara bas suami Via. Semoga saja Rasya mengurung kan niatnya dan tak mengatakan nya pada Via.
"Kalaupun aku mengatakan nya pada Via, itu bukan urusan mu."
Jul tersenyum sinis, ia tak menjawab ucapan Rasya. Ia ingin mendengar apa yang Rasya dan keluarga nya inginkan dari istrinya.
"Andai Arsen masih hidup dia pasti akan membantuku membayar biaya pengobatan ku di luar negeri. Tubuh ku remuk seperti ini karna ulah mu Via. Kau memang adik tak tau diri."
Ucap Rasya tak tau malu. Dan Jul sendiri tersenyum miring, ia sudah tai apa tujuan mereka menelpon istrinya.
"Maaf nyonya, Alvia adalah istri saya, jika anda bangkrut sekalipun itu bukan urusan saya. Itu karna ulah anak anda yang terlalu serakah. Aku tau tujuan anda menghubungi istri ku."
Via mendesah lirih, melihat kesedihan ibu mertua nya. Tapi tak lama kemudian, ia melihat suaminya memberikan cek dan memberikan nya pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ku rasa itu cukup untuk membantu Anda nyonya. Jangan pernah hubungi istriku lagi selain tentang Arka. Saya permisi, ayo sayang."
Jul menarik tangan Via, membawanya pulang bersamanya. Ia sudah tak ingin lagi melihat mereka selalu memanfaatkan Alvia. Ia ingin hidup bahagia bersama keluarga nya tanpa orang orang munafik seperti mereka.