
Via duduk gelisah di jok mobil, sesekali melirik ke arah suaminya. Ia mendengus melihat wajah tenang Jul. Sedangkan ia gelisah bukan main. Bagaimana jika tiba tiba saja mereka tertangkap, dan di masukan ke dalam penjara.
"Mas,"
Jul menoleh pada istrinya, ia menautkan kedua alisnya melihat wajah pucat Via.
"Via kenapa, sakit.? Kita ke rumah sakit ya."
"Mas bagaimana jika kita masuk penjara. Mas Jul kenapa melakukan ini, Via gak mau di penjara ya mas."
Jul terkekeh saat sadar apa maksud istrinya. Ia menginjak pedal gasnya, melajukan dengan kecepatan tinggi.
"Mas..."
"Wow, keren Om.."
Jul tertawa mendengar putra sambungnya memujinya. Sementara Via, dadanya berdetak lebih kencang. Bibir nya tak berhenti bergumam, jangan sampai mereka mati mengenaskan. Setengah jam kemudian Jul memarkirkan mobilnya di rumah mewah berlantai dua.
Ia lalu turun dan membuka pintu belakang.
"Ini rumah Om.?"
Jul mengangguk mengiyakan. Sementara Via masih di dalam mobil. Ia menepuk pipinya berkali kali, kalau dia masih hidup.
"Sayang ayo keluar."
Jul mengagetkannya, ia keluar dengan kaki yang masih terasa lemas. Dan menatap tajam suaminya yang tertawa. Ia juga melihat ke arah depan, mau apa mereka bertiga datang kemari. Dan lagi, rumah siapa ini.
" Mas, kita mau apa kemari.?"
Jul tak mendengar ia mengambil koper dan memanggul nya lagi, menggandeng tangan kecil Arka di sampingnya.
"Via, mau apa berdiri di situ terus. Jul pegel nih."
"Tapi,_"
Jul tak sabar melihat istrinya, ia melepaskan tangannya pada Arka dan menggandeng tangan istrinya.
"Arka ayo masuk,"
Bocah kecil itu mengangguk dan berjalan mengikuti langkah ibunya. Sementara Via yang di gandeng tangan nya bingung.
"Wahh..."
Arka berlari kegirangan melihat rumah yang begitu mewah. Apalagi ada anjing kecil yang berdiri menyambutnya. Tentu saja Arka langsung mengambil dan menggendongnya.
Via sendiri masih bingung, ia menatap di sekeliling nya. Tak lama ia melihat suaminya yang memanggul koper besar miliknya naik ke atas.
"Eh, mas mau di bawa kemana koper Via."
__ADS_1
"Kamar..."
Kamar...
Ia berlari mengikuti langkah suaminya. Mau apa suaminya menyimpan koper milik nya di kamar, apalagi kamar orang.
Clek...
"Mas, apa apaan kau masuk ke kamar orang sembarangan. Siniin koper nya."
Bruk... Jul membanting koper milik istri nya. Ia lalu menarik Via dan membantingnya ke kasur empuk king size.
"Mas.."
Jul membungkam bibir istrinya yang sedari tadi cerewet. Sementara Via gelagapan mendapat kan serangan bibir panas suaminya.
Tak hanya bibir, tangan besar itu mulai aktif bergerilya masuk ke dalam kaos milik istri nya. Mencari titik sensitif wanita di bawah kungkungan nya.
Uh....
Bibir Via melenguh saat bibir Jul berpindah ke leher jenjangnya dan memberi tanda merah di sana. Apalagi tangan besar itu menekan dua gunung kembarnya.
"Kau sangat seksi Vi,"
Jul melepaskan kain yang menempel di tubuhnya dan membuangnya asal. Via sendiri melotot melihat benda tumpul Jul yang sudah berdiri tegak. Aneh saja, bukankah tadi pagi mereka sudah bercinta di rumah mertuanya. Dan benda itu kenapa berdiri lagi.
"Jangan macam macam ya mas, ini di rumah orang."
"Gak, ini rumah Via.."
Jul menerkam lagi Via yang kebingungan. Tangannya merobek baju Via hingga kancing nya terlepas dari tempatnya.
"Mas... "
Jul membungkam bibir Via dengan bibir tebalnya. Lidahnya menerobos masuk mengabsen gigi gigi Via dan membelit lidah. Puas dengan bibir Via, ia kembali turun dan menyesap bergantian dua bukit kembar milik istri nya. Via melenguh saat rasa geli dan nikmat menjadi satu. Tangan nya menjambak rambut Jul yang masih gondrong. Sementara tangan Jul sendiri, turun ke bawah dan ke bawah.
Ia tersenyum tipis saat menemukan rumput liar yang sedikit basah.
Nafas Via memburu, ia meracau merasakan tangan Jul yang menggesek di bawah sana. Jul tertawa kecil melihat wajah istrinya yang memerah, saat ia melepaskan tangannya. Ia tau sebentar lagi Via akan sampai, tapi ia menarik tangannya.
"Mas..."
"Singkong Jul lembek lagi,"
Hah...Via melotot tak percaya, ia segera bangkit dan ia mendelik saat benda tumpul itu di depan wajahnya.
"Panjul.."
Gigi Via gemerutuk, merasa di bohongi. Ia tersenyum miring melihat suaminya tertawa. Ia menangkap singkong dan memasukan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Vi..."
Kaki Jul bergetar, ia mendongak saat merasakan singkong miliknya di manjakan oleh bibir Via. Hampir saja ia limbung ke belakang, saat Via menyesapnya kuat.
"Via,..."
Tunggu saja pembalasanku...
Via gencar memainkan singkong yang semakin mengeras. Apalagi singkong itu sepertinya berkedut.
"Via.."
Plukk...
Via bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi. Jul membuka matanya lebar-lebar saat singkong miliknya di biarkan nganggur. Apalagi ini sudah di ujung tombak. Ia melihat Via berjalan ke kamar mandi dengan santainya.
"Alvia.."
Brakkk...
Jul berjengit mendengar pintu di tutup kasar. Ia mengusap dadanya yang kaget.
" Ko jadi Via yang marah," Tak ayal ia menyusul langkah Via ke kamar mandi. Ia meringis merasakan sakit di kepala bawahnya. Bibir nya menggerutu, mengumpat Via yang tega pada singkongnya.
*
Ratna duduk termenung di teras rumah nya. Baru saja, ia tau jika Jul pergi ke kota bersama istrinya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Ada sedikit penyesalan telah memutuskan hubungan dengan pria itu. Hampir empat bulan ia berpacaran dengan Zulkarnain, tapi pria itu sangat kaku seperti kanebo kering. Setelah ia memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Jul juga menikah dengan wanita cantik dari kota. Sebenarnya kapan mereka berpacaran, kenapa begitu mendadak.
"Sayang, ngapain di situ."
"Gak,"
Ratna menjawab singkat suaminya, ia lalu masuk ke dalam rumah. Tak perduli dengan suaminya yang heran melihatnya.
*
"Leha, ga ada Panjul, sepi banget rumah nya ya."
Amir menggeser tubuhnya mepet ke arah istrinya. Tangan tuanya menyingkap perlahan daster milik istri nya.
"Kalau kita bikin adiknya Jul gimana, di luar hujan."
Leha mendelik tajam pada suaminya. Ia menyingkirkan tangan itu yang sudah bertengger di tengah pahanya.
"Ingat ya pak, ibu masih marah,"
Amir tersenyum masam, ia menggeser lagi tubuh nya dan melipat tangannya untuk di jadikan bantal.
"Nasib.."
__ADS_1