
Brumm...
Terdengar suara knalpot yang berbunyi seperti mobil. Mereka semua yang berada di dalam menoleh ke sumber suara. Ia mendapati bos nya menaiki motor balapnya.
Masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya dengan kepala mereka masing masing. Tapi apa yang mereka liat adalah kenyataan, setelah motor Zain keluar dari markas dan melaju kencang menuju ke arena.
Rizka sendiri tersenyum lebar, ia yakin jika Zain akan kembali lagi ke arena. Mengingat jika tadi pagi ia putus asa terhadap Zain, sekarang di depan matanya Zain kembali lagi, dan itu membuatnya senang bukan main. Itu artinya, ia akan sering bersama dengan Zain mulai saat ini.
Ia berjalan menuju motor milik nya dan mengejar Zain ke arena. Ia rindu dengan masa masa yang seperti ini dengan Zain. Tak hanya itu ia juga merindukan pria yang sudah lama di cintainya itu. Ia tak perduli jika Zain mempunyai istri sekalipun. Ia akan merebut Zain dari istrinya bila perlu. Ia sudah lama mencintai pria itu, dan ia tak bisa membuang rasa cintanya pada Zain, sampai kapanpun.
Sampai di rumah nya, Via menghembuskan nafasnya perlahan saat tak mendapati keberadaan mobil suaminya. Jul tak ada di rumah, apa dia benar benar sangat kecewa dengan nya.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, Arka yang sudah sekolah belum pulang. Ia lalu berjalan kembali ke luar. Ia menatap pada mbok Ida dan suaminya.
"Mbok biar Via aja yang jemput Arka." Serunya pada pembantu rumah suaminya. Sementara Ida yang baru saja melihat majikannya mendekat dan kemudian mengangguk mengiyakan.
"Ya neng, kirain tadi bukan neng Via. Ko tumben neng baru berangkat udah pulang."
Via tersenyum tipis mendengar pertanyaan pembantunya. Wanita tua ini dan suaminya benar benar sangat membantunya di rumah ini. Selain mereka yang ramah, mereka berdua juga sangat dekat dengan Arka.
"Ga papa mbok, di butik tak banyak kerjaan. Jadi Via pulang."
Ida mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian Via pamit pergi meninggalkan mereka berdua menyusul anaknya di sekolah. Kali ini ia memakai mobil milik suaminya yang biasa di pakai jemput Arka kesekolah.
Sampai di sekolah Arka, ia melihat pintu gerbang yang baru saja terbuka. Membuka pintu mobil dan berjalan menuju kumpulan anak anak.
"Mama.."
Arka berlari kegirangan saat melihat ibunya yang menjemputnya. Via yang melihat itu menggeleng kan kepalanya.
"Ga usah lari lari, nanti jatuh."
"Mana papa,?"
__ADS_1
Arka tak menjawab perkataan ibunya tapi justru bertanya di mana ayah barunya berada. Via tersenyum tipis, seperti aneh saja jika Arka memanggilnya papa.
Mengingat jika suami nya marah Via menghembuskan nafasnya perlahan. Ia lalu menggandeng tangan Arka menuju mobilnya berada.
"Ma makan yuk, Arka lapar."
"Ok.."
" Yey..." Arka kegirangan mendengar jawaban ibunya. Via sendiri mengusap kepala Arka, lalu melajukan mobilnya mencari kafe yang menurut nya cocok.
"Ayo ma turun."
Arka tak sabar ia turun terlebih dahulu, dan menunggu ibunya keluar. Kemudian mereka berdua berjalan bergandengan masuk ke dalam kafe.
"Ma di sana saja,!"
Via mengangguk dan berjalan ke pojok, mendudukkan dirinya sambil membuka buku menu yang tersedia. Arka juga tak kalah, ia menatap gambar menu di depannya.
"Ma Arka mau ini dan ini dan ini," Tunjuk Arka dengan jari kecil nya.
Arka mengangguk cepat dan Via memesan pesanan Arka dan dirinya. Tak lupa ia memesan es teh dan Arka jus jeruk.
*
"Kak... Kita cari makan yuk, Rizka lapar"
Jul menatap datar wanita yang sedari tadi mengikutinya. Tak lama kemudian, perutnya juga berbunyi nyaring hingga membuat Rizka tertawa renyah. Sementara Jul sendiri mengumpat dirinya sendiri. Pagi tadi memang dia belum makan, sampai jam sebelas siang perutnya belum terisi apapun.
"Dimana tempat nya.?"
Rizka tersenyum lebar, ia menyebutkan nama kafe yang biasa ia kunjungi dan Jul mengiyakan.
"Kak, pakai mobil kakak ya,?"
__ADS_1
Jul mengerutkan keningnya mendengar penuturan Rizka. Rizka sendiri yang di tatap datar oleh Zain meremas kaos oblong nya.
"Jangan salah sangka kak, kakak gak mau kan pakai motor kakak, dan kakak apa mau berboncengan dengan motor aku.?"
Jul membenarkan ucapan wanita di depannya ini. ia masih tak mengingat namanya. Biarkan saja, lagi pula tak penting.
Tak lama kemudian Jul mendengus mengingat perlakuan Via padanya. Memang tega sekali istrinya padanya.
"Ayo.."
Rizka tersenyum lebar, ia melangkah penuh semangat masuk ke dalam mobil Jul. Dan jul melajukan mobilnya ke tempat di mana wanita itu mengatakan tempat kafe berada. Maklum saja sudah enam belas tahun lebih ia meninggalkan kota dan sekarang sudah jauh berbeda tentunya.
Sampai di kafe Jul melangkah masuk ke dalam. Sementara Rizka sendiri berlari mengikuti langkah lebar Jul dan mereka masuk kedalam berbarengan. Seperti kekasih yang sedang berpacaran, Rizka menggandeng tangan Jul. Jul sendiri yang tak sadar dengan semua ini hanya cuek saja.
"Kak.. Duduk di sana saja ya..."
Jul tak menjawab, ia hanya nurut saat tangan nya di tarik oleh Rizka.
Di meja yang tak jauh di sudut kanan, Via mendongak saat mendengar suara perempuan yang pernah ia dengar. Dan matanya seketika melotot tak percaya saat mendapati suaminya di gandeng oleh wanita lain dan yang lebih parah lagi dia wanita yang pagi tadi datang kerumahnya.
Tangan nya terkepal erat melihat pemandangan yang tak jauh di depannya.
*
Bara tersenyum lebar mendengar penuturan Rasya, jika suami Via sangat marah. Ia yakin sebentar lagi pria kampung itu akan menceraikan Via. Dan ia yang akan datang pada Via menawarkan semua kebahagiaan yang tiada tara. Selain itu Via juga tak akan kekurangan uang. Dia akan menjadi nyonya Bara Emanuel.
"Aku tak sabar memiliki mu lagi Via."
Rasya bernafas lega saat Bara tak lagi mengancamnya. Ia sempat putus asa jika sampai Bara mengambil semua yang ia miliki. Mau tinggal di mana dia. Tak lama ia mengumpat istrinya yang terlalu boros menghamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
"Via, kali ini aku yakin jika suami mu akan meninggalkan mu. Dan akulah pemenangnya Via. Kau akan tetap menikah dengan Bara, terima kasih adik ipar."
Rasya tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia tau kelemahan Via. Ia yakin Jul pasti akan meninggalkan Alvia karna kecewa dengan nya yang memanfaatkan nya.
__ADS_1
Tentu saja ia tak ingin Bara mengambil fasilitas yang pernah Bara berikan padanya. Sebisa mungkin, ia akan menjadikan Via sebagai umpan agar ia tetap kaya.
Apalagi saat mengingat kembali jika Via bercerai lagi dengan suaminya, ia akan mendapatkan bonus kembali.