Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Kegondokan Jul


__ADS_3

Bara mengendarai mobilnya masuk ke dalam rumah sakit. Sepanjang jalan ia mengumpat Jul. Masih tak terima dengan Via yang menikah dengan orang lain.


"Brengsek....Aku akan merebut Via darimu, dia hanya milikku, apapun caranya dia akan menjadi milikku seutuhnya. Pria kampung seperti mu sama sekali tak pantas mendapatkan Alvia."


Kakinya melangkah lebar, menuju ruang dokter sahabat nya.


Brakk...


"****..."


Bara mengumpat lagi saat sampai di ruangan dokter, dia juga di suguhi pemandangan yang menyakiti matanya. Apalagi dia saat ini sudah lama menjomblo. Melihat bagaimana temannya itu menyesap salah satu gunung kembar yang menggantung di depan, ia yakin itu. Untung saja wanita itu membelakanginya.


Wanita berbaju putih itu langsung turun dari pangkuan kekasihnya, dan membenahi baju milik nya yang sudah terbuka dan mengancingkan lagi.


"Kenapa dengan wajahmu kawan.?"


Bara tak menjawab ia masih melihat wanita yang keluar dari ruang pribadi temannya. Kemudian ia menatap Michael datar.


"Obati lukaku," Michael menatap pipi merah Bara dan bibir yang mengeluarkan darah.


"Memangnya apa yang kau lakukan?,"


Michael mengambil obat di lemari dan mengoleskan salep pada bibir Bara. Ini pasti karna mantan istrinya, siapa lagi jika bukan Alvia.


"Sampai kapan kau akan seperti ini. Via sudah tak mencintai mu lagi. Kau harus nya sadar diri kawan. Bukankah kau sendiri yang bermain api."


Bara menatap tak suka pada temannya. Ia meringis merasakan perih di bibirnya sebelah kiri.


"Alvia menikah dengan pria lain. Aku akan merebut nya kembali. Aku yakin, Alvia tak mencintai pria itu. Hanya pria kampung dan udik, tak pantas mendapatkan Via."


"Via sudah menikah, dengan siapa.?" Michael kaget, sedangkan Bara menatap tajam. Ia tak menjawab nya. Pikiran nya melayang mengingat kejadian tadi. Siapa sebenarnya pria yang menjadi suami Via. Dia seperti tak asing, dan pernah melihatnya.


Tak lama ia menggelengkan kepalanya, tentu saja ia pernah melihatnya di kampung saat menyusul Via. Dan di sana juga mereka beradu.


Michael menggelengkan kepalanya, ia heran dengan temannya ini. Dia sendiri yang bermain api, dia sendiri yang terbakar. Bukankah itu adalah hasil dari perbuatannya dulu, yang menyia nyiakan Alvia.


"Coba saja jika kau dulu tak bermain api, kau dan Via pasti sudah memiliki anak dan bahagia. Wanita cantik yang kau bilang itu sekarang menjadi simpanan seorang pria."


Bara mendengus, ia juga menyesal telah tergoda dengan wanita itu. Sial sekali nasibnya.

__ADS_1


*


Jul menatap tajam wanita yang menjadi karyawan istrinya. Apa dia tak tau jika Via baru saja merayunya. Wanita ini benar benar menyebalkan. Dan sekarang Via kembali lagi pada baju bukan pada dirinya.


Sementara Sarah sendiri menunduk, ia kaget saat melihat mata tajam Jul yang mengarah padanya.


"Yang ini bisa diperbaiki, dan ini, nanti di potong saja, jadikan lengan pendek, kau mengerti Sarah."


"Ya mbak.."


Sarah mengangguk dan membawa baju sedikit rusak ulah Bara tadi yang mengamuk. Via sendiri melangkah pada manekin yang rusak. Ia mengutuk Bara, mantan suaminya itu sangat menyebalkan. Bagaimana mungkin dia merusak barang miliknya, mereka tak tau apa apa.


Jul mendekat dan menarik tangan istrinya. Ia gondok dengan Via, merayu hanya sebentar dan sama sekali belum luluh dirinya dan sudah di cuekin begitu saja.


"Mas mau apa?"


Jul mengunci pintu ruang sempit di butik Via. Ia menatap tajam pada istrinya.


"Jul masih marah ya,"


Via, menarik nafasnya dalam, tak lama kemudian ia mengelus dada bidang suaminya.


"Jangan menemui bara lagi, aku tak suka. Apa kau senang berdekatan dengan dia terus. Apa kau juga tak mengatakan jika kita sudah menikah."


Jul, bicara ngegas pada istrinya, ia masih emosi saat melihat Bara mengecup bibir istri nya. Ia lalu mengangkat Via dan langsung menyambar bibirnya. Via sendiri gelagapan mendapat serangan mendadak dari suaminya. Apalagi Jul menyesap bibirnya kuat.


Jul tak menghiraukan pukulan tangan Via di dadanya, ia tak ingin melihat bekas Bara di bibir istrinya. Ia akan menghilangkan dengan mencium bibir Via seperti yang Bara lakukan tadi.


"Mas,.."


Buk... Via memukul lengan suaminya, hampir saja ia kehabisan nafas karna ciuman panasnya.


"Ingat jangan sampai ketemu sama Bara lagi, Jul tak suka."


Ia lalu meninggalkan istrinya dan keluar butik. Via sendiri yang melihat kepergian suaminya, hanya menatap bersalah. Ia sendiri juga tak tau jika Bara akan melakukan hal gila. Padahal sebelumnya Bara tak pernah melakukan ini padanya.


Jul mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ia pergi ke perusahaan milik nya.


Sampai di sana ia turun dan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kak.."


Jul menoleh, ia kaget melihat wanita kemarin yang bertemu dengannya. Ia tak tau siapa namanya. Tapi sepertinya dia sangat mengenal dirinya. Ia tak menggubris, melangkah masuk ke dalam lagi. Sementara Sandi yang melihat Rizka menatap Bos nya tak berkedip itu hanya menghela nafas.


Ia yakin jika Rizka mempunyai rasa dengan Bos nya itu. Pantas saja wanita itu ngeyel ingin Jul kembali lagi ke sirkuit. Rupanya dia ingin menjadi partner lagi di arena.


"Apa mungkin ini yang membuat dia tak ingin dekat dengan pria, dan menikah."


Sandi bergumam dalam hati, ia menyayangkan wanita secantik Rizka yang masih single di usia dewasa. Tiga puluh empat tahun itu sudah sangat matang menurut nya.


Jul duduk di kursi sofa, Farel sendiri yang menatap lembar kertas di tangan nya terlonjak kaget.


" Bos," Ia lalu beringsut berdiri dari kursi kebesaran Bosnya.


"Diamlah lakukan saja tugasmu, aku hanya ingin tidur."


Jul bersilonjor kakinya, menutup mata nya dengan lengan kanannya. Sesekali ia mengumpat Bara.


"Sialan.."


Farel berjengit kembali, ia baru akan mendudukan bokongnya lagi pada kursinya. Dan Bos nya itu mengumpat.


"Cari kelemahan Bara, aku tak ingin pria itu mengganggu istriku terus. Bila perlu beri dia pelajaran."


Farel menatap bingung, siapa yang di maksud dengan Bos nya. Apa mantan suami istri nya, Via.


"Apa kau mendengar ku Farel.?"


"Ya..Bos."


Farel mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian Rizka masuk ke dalam.


" Permisi tuan Farel, apa saya boleh bertemu dengan teman saya."


Farel mengangkat sebelah alisnya, melihat wanita cantik di depannya ini yang memakai celana jins robek robek. Kemudian ia melirik ke arah Bos nya.


"Maaf nona anda ingin bertemu teman anda. Tapi di sini tak ada orang lain selain_"


"Ada apa kau mencari ku.?"

__ADS_1


Farel menoleh ke arah Bos nya, ia sudah menduga jika wanita itu mengenal Bos nya. Pasti mereka salah satu dari anggota geng nya.


__ADS_2