Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Kecurigaan Rizka


__ADS_3

Rizka mengikuti mobil Zain saat keluar dari perusahaan otomotif milik Farel. Ia mengerutkan keningnya mendapati Zain turun dari mobil BMW klasik dan masuk memasuki rumah mewah berlantai dua.


Apa benar, Zain pemilik mobil BMW itu. Tapi kenapa masuk ke dalam sini. Apa ini juga rumah Zain, jika benar ini rumahnya, Zain berarti sangat kaya.


Rizka menatap pria yang turun dari mobil BMW dan benar dia adalah Zain. Ia lalu berbalik pada satpam yang berjaga di pintu gerbang.


"Pak, maaf mau tanya. Apa benar ini rumah nya Zulkarnain."


Pria paruh baya itu menatap pada wanita yang memakai celana Levis yang sobek sobek. Di tatap seperti itu oleh satpam Rizka mengatakan jika ia ingin mencari pekerjaan dan Zulkarnain yang mencari jasa nya.


"Ya nona, ini rumah tuan Zulkarnain, silahkan masuk."


Rizka menggeleng kan kepalanya, ia beralasan lagi jika berkasnya ketinggalan di rumah.


Rizka mendekat ke arah sepeda motornya. Ia menoleh kembali pada rumah mewah berlantai dua. Apa mungkin kak Zain menjadi simpanan tante girang di rumah mewah. Dan malam ini mereka akan menghabiskan malam bersama. Itu sebabnya Zain bisa membeli mobil yang harganya selangit itu.


Sampai di rumah kontrakannya.. Rizka membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Masih belum bisa menebak apa yang Zain lakukan di rumah mewah itu. Atau mungkin saja Zain datang mengembalikan mobil yang ia sewa.


Hampir enam belas tahun lamanya Zain tak pernah muncul di depan mereka semua. Tiba tiba saja Zain datang kembali dengan wajah yang berbeda. Tentu saja siapapun akan bertanya tanya.


Sedangkan Jul yang baru saja masuk ke dalam rumah nya. Tak mendapati keberadaan Via yang menyambutnya. Tak lama ia mendengus, berjalan menuju arah dapur. Dari butik Via, ia sama sekali belum menyentuh nasi kembali. Pantas saja perutnya berbunyi sedari tadi.


" Harusnya Jul yang marah bukannya dia. Suami pulang bukannya di sambut dan di beri makan. Justru dia yang acuh, dan marah."


Dari arah belakang Via menggelengkan kepalanya, suaminya itu memang pria kampung tak bisa lepas dari sepiring nasi. Pantas saja badannya yang besar, dan liat.


Jul berjengit saat merasakan tangan lentik melingkar di pinggang nya yang kokoh. Ia tersenyum merasakan tangan istrinya. Ia yakin Via akan kembali lagi merayu nya yang marah.


"Apa mas tak bisa sehari saja tak mencari sepiring nasi."

__ADS_1


Gigi Jul gemerutuk mendengarnya, ia lalu berbalik dan menatap tajam pada istrinya. Istrinya ini memang benar benar keterlaluan. Via sendiri terkekeh melihat mata Jul yang melotot ke arahnya. Ia berhasil menggoda suami nya. Tak lama kemudian ia berjinjit mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Apanya yang lapar mas."


Via mengedipkan sebelah matanya menggoda Jul, dan di bawah sana dia sengaja menempelkan gundukan miliknya pada singkong Jul yang masih tidur anteng. Apalagi saat ini Via memakai kain tipis yang membalut tubuhnya yang montok. Dan Jul baru saja sadar jika Via memakai kain kelambu. Dan seketika itu membuat singkong miliknya bergerak dan mengembangkan.


Via tersenyum lebar merasakan benda yang sudah menonjol sempurna menabrak miliknya. Ia sengaja menempelkan dan bergerak menggesek singkong yang masih tertutup rapat.


Ah..


Jul memang tak bisa menolak pesona janda dua kali ini, sebelum dia menjadi istrinya tertuanya. Dia selalu saja menggodanya dengan berbagai macam gaya yang ia punya. Hingga Jul tak bisa berpaling sedikitpun dari Via, dari permainan Via yang memabukkan.


"Mas mau makan nasi dulu apa makan ini dulu."


Ahh.."Via.."


Jul mendesah saat singkong yang masih terbungkus di remas oleh tangan lentik Via.


Via tersenyum, hanya dengan ini suaminya tak marah lagi padanya. Ia yakin itu, Jul akan melupakan kejadian saat di butik siang tadi.


Di dapur, sepasang suami istri sedang bertukar keringat. Jul memang tak bisa marah dan menolaknya. Ia selalu di buat tepar dengan permainan istrinya. Seperti saat ini, matanya merem melek saat Via menunduk memakan singkong miliknya.


"Vi... " Jul mengerang, merasakan miliknya berkedut hebat, tak lama kemudian ia membuka matanya dan menoleh kiri kanan. Ia mengumpat saat sadar mereka berdua tak di kamarnya. Tak ada kasur yang bisa mendudukkan dirinya yang keenakan. Apalagi berbaring sambil menikmati permainan istrinya di atasnya.


Miliknya semakin berkedut dan ia menarik Via ke atas dan membalikkan tubuhnya.


Ahhh..


Hanya cara ini yang mendukung nya saat ini. Membalikkan tubuh Via dan menghujam nya dari belakang. Ia juga mengumpat, tak ada sofa di dapur apalagi kasur. Mungkin besok ia akan menyimpan sofa dan kasur lantai di sini, agar memudahkan dia bercinta dengan Via saat di dapur, seperti saat ini.

__ADS_1


Via sendiri yang merasakan hujaman Jul pada miliknya hanya mendesah lirih. Ia juga takut jika Arka datang dan memergoki mereka bercinta disini. Sedangkan pembantunya itu, dia tak di rumah. Dia tinggal di rumah belakang bersama suaminya yang sama sama bekerja di rumah ini menjadi tukang kebun.


Setengah jam kemudian Jul mengerang bersama Via. Ia memuntahkan lahar panasnya ke dalam rahim Via.


Sedangkan Via sendiri mengusap keningnya yang di banjiri oleh keringat. Dia tak menyangka akan gila bercinta dengan suami nya di dapur.


"Besok Jul mau kasih sofa sama kasur, biar bisa baring."


Via melotot mendengarnya, ia lalu berbalik dan menatap suaminya. Tak lama kemudian ia mengambil pakaian nya yang berserakan di lantai.


"Mas jangan aneh aneh, nanti mbok Ida tanya buat apa, mas mau jawab buat gelud gitu."


"Hooh.." Buk...


Jul terkekeh melihat Via yang melotot padanya. Ia lalu mencium bibir nya yang tadi mengemut singkongnya.


"Sayang mas lapar.."


Via memutar bola matanya jengah, mendengar suara memelas suaminya. Tak lama kemudian ia membuka kulkas dan mengeluarkan isi dalam nya. Mana mungkin Via akan membiarkan suaminya kelaparan.


Sementara Jul sendiri mengikuti langkah istrinya, sesekali ia akan membantu Via membalikkan ikan yang di goreng.


*


"Mir, Jul betah ya di kota? Padahal sudah lama dia gak balik lagi kesono. Apa mungkin anak Lo itu nakal lagi di sana ya."


Bugg...


"Enak aja Lo bilang anak gua nakal. Dengar ya, anak gua tuh paling alim, kapan emang Lo dengar anak gua hamilin anak orang, kurang ajar Lo emang, anak baik gitu di bilang nakal." Amir nyolot dan ngegas saat Panji mengatakan anaknya nakal di kota. Anak pendiam gitu, mau nakal. Dia saja yang jadi bapak nya setia sama Leha yang cerewet. Suka nerocos dari pagi tembus pagi juga kupingnya masih anteng kagak budeg.

__ADS_1


.


.


__ADS_2