Janda Dua Kali

Janda Dua Kali
Marah


__ADS_3

Via menatap wajah suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Apa pernikahannya akan berakhir besok. Via sadar, dirinya sangat gila dalam melakukan tindakan. Apalagi ini adalah sebuah pernikahan.


"Loh Via, ko disini. Kan mas Jul sudah bilang, Via tunggu di kamar mas."


Jul memeluk tubuh istrinya, ia menghirup aroma tubuh yang memabukkan. Sepertinya saat ini wangi tubuh inilah yang akan membuatnya candu.


Via mendorong tubuh tinggi suaminya, ia melirik ke arah pintu yang terbuka.


" Loh nak Via disini." Amir kaget melihat menantunya ini sudah ada di rumah nya. Ia menatap pada kedua nya. Tak lama kemudian ia tersenyum tipis. Anaknya ini ternyata berjodoh dengan janda yang sudah menikah dua kali.


"Pagi pak.."


Amir mengangguk dan tak lama kemudian ia meninggal kan Jul dan istrinya. Di depan istrinya sudah ada di ruang tamu, mungkin menunggu anaknya.


"Kita ko yang kaya tamu ya pak, nunggu tuan rumah keluar." Sang istri membuka obrolan terlebih dahulu.


"Pak Jul mau gak ya, kalau kita adakan pesta pernikahan." Lanjutnya lagi.


"Kamu kan tau, dari dulu dia tak akan mau, jika menikah mengadakan pesta. Biarkan saja, itung itung sedekah,"


"Heran aku pak, anak jaman sekarang, perempuan main sosor aja. Aku saja sampek malu."


"Emang begitu,...Heran aja, kapan Jul mengenal Via. Apa dia datang untuk menikah dengan Jul ya. Aneh, anak itu, kan biasanya juga selalu di putusin sama pacarnya. Baru dua hari kenal langsung nikah. Pasti anak kamu udah di ajarin sama Via, gua yakin itu mah."


Leha melirik saja, ia juga berfikiran sama dengan sang suami.


"Ah bodoh ah, yang penting Jul udah nikah pak."


Alvia duduk di samping suaminya, sementara di depannya orang tua suaminya duduk menatap ke arah nya.


Vai menghembuskan nafas nya perlahan, baru saja orang tua Jul mengatakan jika mereka akan mengadakan pesta pernikahan. Tapi sepertinya Jul merasa keberatan , dia tak mau menggelar pesta pernikahan nya. Sementara ia sendiri juga belum siap. Bagaimana pun juga menggelar pesta pernikahan, adalah hal yang paling penting untuk Via. Keluarga nya sendiri dan mertua nya di kota tak tau jika ia sudah menikah. Bukan karena dia yang bodoh atau ingin menyembunyikan pernikahan nya. Tapi setidaknya mertuanya di kota dan keluarga nya harus tau terlebih dahulu.


Saat ini ia dan anaknya saja belum jelas. Apalagi ini di kampung, ia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

__ADS_1


" Maaf tapi sebelumnya saya ingin kembali ke kota. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya begitu saja."


Jul menatap datar wajah cantik istrinya. Ia pikir tadi istrinya berbohong jika mau kembali ke kota. Ternyata itu semua adalah benar. Tak lama kemudian ia mengeratkan giginya. Jika dia mau kembali ke kota lalu apa maksudnya dia mengajaknya menikah. Apa Via tak tau jika ia paling tidak suka tinggal di kota.


Sementara orang tua Jul sendiri melirik ke arah anaknya. Mereka berdua tau jika anaknya marah. Jul tak pernah mau ke kota, meski dengan alasan apapun.


"Besok saya akan kembali ke kota,"


Jul langsung menoleh ke arah wanita yang sudah menjadi istrinya.


"Apa maksud mu Via," Via menoleh dan tersenyum tipis melihat wajah datar Jul.


"Tidak ada, bukankah aku sudah bilang jika aku akan kembali ke kota."


"Alvia.."


"Jul..." Amir dan Leha berjengit mendengar teriakkan anaknya. Via menghembuskan nafasnya perlahan. Suaminya membentaknya, ia yakin Jul tak akan ikut ke kota dan akan tetap dengan pendiriannya.


"Ibu dan bapak maaf kan Via," Via berdiri melangkah meninggalkan rumah suaminya. Ia mengusap pipinya yang basah, ia pikir suaminya akan ikut dengannya. Lalu kenapa dia mencegahnya saat Bara menjemputnya. Ia pikir Jul menginginkan nya. Itu sebabnya ia menjerat pria itu dengan kepiawaian nya. Mengingat kejadian itu, Via tersenyum tipis.


Sampai di rumah Via membereskan barang milik nya.


"Ahh, kenapa harus kembali lagi, padahal aku juga ingin di sini bersama suami ku."


Alvia memang harus kembali ke kota. Mantan suaminya Bara mengancam perusahaan mertuanya jika ia tak kembali ke kota. Ya setelah mandi Via mendapat pesan singkat dari Bara, jika ia harus kembali jika tidak perusahaan mertuanya akan gulung tikar, karna Bara menarik semua saham milik nya.


"Bara brengsek."


Dert...Dert... Via mengambil ponsel miliknya, di lihatnya nama Bara di layar ponsel nya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia tak boleh emosi menghadapi Bara.


"Ya Hallo mas,"


"...."

__ADS_1


"Iya Via akan pulang besok, ya sudah Via mau membereskan baju Via."


Sementara tak jauh dari pintu, Jul mengepalkan tangannya mendengar Via berbicara di telepon. Itu artinya, Via sudah janjian akan pulang ke kota dengan Bara. Lalu apa maksudnya ia mempermainkan dirinya.


Via berbalik dan ia kaget melihat Jul sudah ada di depan pintu kamar nya.


"Mas.."


"Kau sudah mempermainkan aku Via," Jul tersenyum sinis. Tak lama kemudian ia menatap tajam pada wanita yang baru sehari menjadi istri nya.


"Kau sengaja mengajakku menikah, lalu kau akan meninggalkan aku begitu. Apa kau pikir aku butuh belas kasihmu huh....


Apa kau sengaja membuat mereka semua memutuskan aku agar aku menikah denganmu begitu. Pantas saja mereka semua memutuskan aku.?"


"Pikiran mu terlalu kotor sayang nya, memang nya aku mengenalmu sebelumnya."


Benar juga...


Wajah Jul kembali seperti semula, sementara Via sendiri mendengus melihat wajah bingung suaminya. Ia tau suaminya itu tak bisa marah padanya. Dan ia tau Jul hanya mengujinya.


"Kapan pulangnya," Jul melembutkan lagi suara nya, ia tak bisa bersikap keras pada Via. Apalagi dia adalah istrinya, baru kemarin mereka ijab qobul, masa iya dia akan menjadi duda, kan tidak lucu.


"Besok," Via tak mengalihkan pandangannya pada mata hitam Zulkarnain. Di pandang seperti itu, Jul salah tingkah. Matanya menatap ke sembarang arah, ia tak ingin Via menyadari jika ia sudah tergila gila padanya. Bisa besar kepala dia....


"Mas Jul mau ikut," Jul bereaksi, ia menoleh ke arah wanita di depannya. Tak lam kemudian ia menunduk.


"Jul gak betah di kota."


Via mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Ia mengecup bibir tebal Jul dan kedua pipinya.


"Mas pasti akan betah di kota, bukankah ada Via, dan lagi kita akan bebas menanam singkong."


Jul mengangguk mengiyakan, ia lalu mendorong tubuh istrinya ke arah kasur.

__ADS_1


"Ya " Via tersenyum tipis, ia pasti bisa menaklukan Zulkarnain. Pria yang baru sehari menjadi suami nya ini pasti akan bisa menjadi malaikat untuknya. Ia sudah lelah hidup dalam tekanan mantan suaminya.


__ADS_2