Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Salah Sangka


__ADS_3

Denisha menghampiri rumah Bu Mita. Setelah melakukan sebuah aksi tidak terpuji.


"Jadi kamu menyuruh seseorang untuk menabrak Zakira?"


"Iya Tante, habis aku kesal banget sama dia Aku pengen Zakira celaka saja."


"Aduh kamu tuh ya!"


"Loh kenapa Tante, boar saja di celaka, kalau perlu pendarahan dan keguguran."


Kamu salah jika mencelakai Zakira dengan cara seperti itu, karena jika Zakira keguguran bisa saja Rafli kembali padanya. Saya lihat masih ada rasa cinta di hati Rafli terhadap Zakira."


"Ehm bener juga ya, Tante. Kalau Zakira sampai keguguran, besar kemungkinan Rafli akan kembali padanya."


"Tante tolong aku dong Tante,bujuk Raffi agar mengusir zakira dari rumah itu. Aku nggak mau Rafli dan Zakira tinggal bersama di rumah itu. Bisa-bisa pertunanganku batal jika rating masih memiliki perasaan pada Zakira."


Srett! Terdengar suara mobil yang mengerem mendadak.


 


Bu Rita dan Denisa melihat ke arah luar. Mobil Raffi berhenti di depan rumah.


Rafli datang dengan wajah yang masam.


"Assalamualaikum." Setelah mengucap salam dia langsung duduk di sofa sambil menghembus nafas panjang.


Terlihat sekali wajah Rafli begitu kesal.


"Kenapa lagi sih Rafli?" tanya Bu Rita.


"Nggak papa kok Bu, capek aja."


"Capek kerja atau capek melihat tingkah istrimu itu?"tanya Bu Rita pada Rafli dengan nada menyindir.


"Capek dua-duanya," sahut Rafly.


Denisa dan bu  Rita saling lempar senyum. Mereka melihat kesempatan besar untuk berbicara kepada Rafli tentang pertunangannya dengan Denisa.


'Kebetulan ada Kamu Rafli, Ibu mau mengusulkan sesuatu. Bagaimana kalau kamu dan Denisa segera bertunangan saja, karena  tidak enak dengan orang tua Denisa.


Rafli memperlebar pupilnya menatap Bu Rita.


 "Dan kamu juga harus segera meninggalkan Zakira, kamu jangan tinggal serumah lagi dengan Zakira dong. Kalau serumah tentunya setiap hari dia akan bikin kamu kesal, lagi pula itu salah satu cara agar kamu bisa melupakan perasaan kamu terhadap Zakira."


Rafli memijat pelipisnya.


"Kalau bertunangan sementara tidak bisa Bu, aku bisa terkena sanksi. Dan aku rasa juga untuk sementara aku dan Denisa tidak bisa melanjutkan hubungan ini untuk sementara.Aku takut perselingkuhan ini diketahui oleh atasan dan kesatuan ku."


Denisa menoleh ke arah Rafli sambil membelalakkan bola matanya. Dia mulai merasa jika Rafli tidak serius terhadapnya dan menjalani hubungan ini hanya dengan setengah hati.


"Rafli kamu itu jadi laki-laki harus tegas, jika memang kamu berniat untuk menceraikan Zakira maka dari sekarang kamu harus memilih pisah rumah dengannya."


"Nggak bisa gitu dong Bu. Itu kan rumah dinas, apa yang akan dikatakan atasan dan tetanggaku jika aku tak tinggal di sana."


Bu Rita menghela nafas panjang. 


"Terserah kamu saja Rafli. Tapi yang harus kamu garis bawahi jika Ibu tidak akan pernah sudi menerima Zakira menjadi menantu lagi apa lagi Dia sudah mengandung anak haram yang akan membuat kesialan dalam hidup kita."


Raffi sedikit membelalakkan bola matanya mendengar ucapan Bu Rita.


***


Keesokan harinya Zakira keluar dari kamar dengan jalan berjinjit.

__ADS_1


Setelah siap, dia bermaksud untuk ke kantor dan memesan ojek online. Sementara Rafli ada di rumah. Dan belum berangkat kerja.


Sambil menunggu kedatangan tukang ojek online.


Seorang ibu-ibu menghampiri Zakira dan berbincang sebentar dengannya.


Ketika tengah asik ngobrol ,tukang ojek datang menghampiri Zakira. Zakira pun harus memutuskan obrolan mereka.


Mbak Rika saya pamit kerja dulu ya, tukang ojek Saya sudah datang.


"Loh, kok Mbak Zakira pergi pakai ojek sih, kenapa nggak minta antar sama mas Rafli aja?" Rika  sang tetangga sebenarnya sudah mendengar desas-desus keretakan rumah tangga Zakira dan Rafli.


Hanya saja mereka tidak tahu penyebab keretakan rumah tangga yang baru seumur jagung itu.


Karena kepo makanya Rika sengaja menghampiri Zakira yang berada di teras rumah.


"Nggak apa Mas Rafi lagi sibuk."


Dengan berjalan tersingkat-jingkat Zakira menghampiri tukang ojek dan berlalu dari tempat itu.


"Ternyata benar isu itu, rumah tangga mereka sepertinya sedang bermasalah," guman Rita.


Meski dengan lutut yang cedera Zakira memaksakan diri untuk tetap bekerja. Sesampainya di kantor pun Zakira  jadi pusat perhatian karena berjalan berjingkat-jingkat.


"Loh Za, kamu kenapa?"tanya Sinta.


"Gue ditabrak motor semalam."


"Yaelah lu kok nggak hati-hati sih. Kenapa nggak istirahat saja pastinya Pak Raymond nggak marah kok kalau kamu off satu hari."


"Enggaklah Aku mau kejar uang rajin. Kamu tahu sendiri kan aku butuh banyak uang."


"Oh gitu ya."


"Eh Sin kamu tahu nggak kontrakan yang dekat dari sini dan harganya murah?"


"Iya Sin. Gua rasa sebaiknya gua ngontrak. Daripada harus hidup bersama dengan mas Rafli. Ujung-ujungnya Kami juga akan berpisah. Jujur saja dalam keadaan hamil seperti ini aku ingin ketenangan dalam hidupku."


"Kenapa lu nggak tinggal balik sama paman lu Za?"


"Enggak lah Sin Ayah aku menitipkan aku pada Paman sampai aku menikah. Dan sekarang aku sudah menikah, berarti tanggung jawab Paman sudah terlepas. Lagi pula aku tak ingin keluarga pamanku di cemooh karena aku mengandung anak bukan dari benih Mas Rafli suamiku."


"Benar juga."


"Ya udah nanti gue cariin buat lo deh."


"Oke terima kasih ya Sin."


***


Waktu menunjukkan pukul 12.00 dan waktunya untuk istirahat.


Zakira masih sibuk mau kotak-katik handphonenya membalas pesanan kosmetik dari para pelanggan.


"Aduh kok perut ku tiba-tiba mules ya, mungkin belum sempat sarapan kali."


Zakira berjalan ke arah toilet. Ketika ia membuka celana kainnya, Zakira begitu kaget karena melihat ada bercak darah di pakaian dalaman nya.


"Astaga, Kenapa ada bercak darah. Apa ini Mungkin karena benturan semalam," guman Zakira.


Setelah memakai kembali pakaiannya, ia  berjalan dengan hati-hati.


Waktu menunjukkan pukul 01.00 siang. Dan kebutuhan saat itu Raymond sudah kembali dari makan siang.

__ADS_1


"Permisi Pak,"ucap Zakira.


Reymon melihat Zakira berjalan dengan tersingkat-jingkat.


"Ada apa Zakira. Kaki kamu masih sakit?" tanya Reymond.


"Iya Pak, tapi saya mohon ijin untuk ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit tapi kenapa?"


"Karena saya sepertinya mengalami pendarahan akibat jatuh semalam."


"Oh ya sudah kalau begitu saya antar."


"Tidak usah Pak saya tidak mau merepotkan saya bisa pesan taksi."


"Sudahlah Zakira. Kamu tak ingin terjadi sesuatu pada kandungan kamu kan?"


"Iya pak, tapi…"


"Tidak ada tapi! ayo saya antar."


"Iya pak terima kasih."


Mau tak mau Zakira menerima bantuan dari Raymond.


Zakira berjalan terjingkat-jingkat ia mulai merasakan perutnya terasa nyeri ketika berjalan.


Kemudian Zakira meraih tas miliknya yang terletak di atas meja.


"Zakira, saat kamu berjalan perut kamu terasa sakit?"


"Iya Pak."


"Kalau begitu Jangan kamu teruskan. Itu bisa membahayakan kandungan kamu."


"Lalu saya harus bagaimana Pak, kalau tidak berjalan?"


Reymond langsung mengangkat tubuh Zakira dan membawanya ke dalam lift khusus yang ada di ruangannya.


Zakira hanya bisa pasrah ketika Raymond mengangkat tubuhnya. Karena dia  sendiri tidak mau mencelakai janin yang ada di kandungannya.


Mereka pun lewat jalan belakang dan Raymond mempersiapkan mobil untuk membawa Zakira ke rumah sakit.


***


Rafly tiba di rumah setelah pulang kerja.


Dia teringat akan permintaan ibunya untuk segera mengusir T


Zakira  dari rumah itu.


Rafli berpikir sejenak. Rasanya ia tidak tega untuk mengusir Zakira apalagi Zakira dalam keadaan hamil.


Rafli termenung memikirkan hubungannya dengan Zakira.


Satu sisi dia membenci Zakira karena mengira Zakira berselingkuh selama dia menjalankan tugasnya di luar negeri. Satu sisi dia masih sangat mencintai Zakira.


Setelah berpikir sejenak. Rafli kembali meraih kunci mobilnya. Dia bermaksud untuk menjemput Zakira.


Tiba di kantor ternyata para karyawan sudah pulang. Rafli pun menunggu Zakira di rumah.


Dan sampai pukul 08.00 malam Zakira belum juga pulang. Dia mencoba menghubungi Zakira tapi nomor Zakira tidak aktif.

__ADS_1


Rafli pun kembali mendengus kesal.


"Ngapain aku harus mencari dia. Lihat saja kelakuannya, sudah jam segini belum pulang ke rumah. Mungkin memang benar, jika Zakira bukanlah wanita yang baik-baik," gumam Rafli.


__ADS_2