Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Kasihan Bunda


__ADS_3

Setelah melakukan Transfusi darah, suhu Akbar tak juga turun. Akbar pun terlihat gelisah dalam tidurnya.


Tangannya mengalami Tremor mungkin karena suhu tubuhnya yang terlalu tinggi.


"Astaghfirullah, Ya Allah belum turun juga."


"Mungkin karena Transfusi darah itu mbak," cetus Rina.


"Iya padahal sudah di beri obat penurun panas kan?"


"Iya baru setengah jam mbak, mungkin obatnya baru bereaksi."


Akbar sesekali menangis padahal saa itu ia tengah tertidur.


"Akbar, Akbar kenapa Nak ?" tanya Zakira sambil mengusap kepala Akbar.


Akbar membuka matanya sedikit. Kemudian menutup kembali.


Zakira menoleh ke arah Rina.


"Akbar kenapa ya Rin, Kok tangannya sampai Tremor gini?"


"Mungkin sakit mbak, tanganya kan baru satu minggu di transfusi, sudah harus transfusi lagi."


"Hiks, kasihan Akbar, ya Allah jika aku bisa menggantikan posisinya, biar saja aku yang sakit. Gak kuat lihat anak ku," tangis Zakira sambil menggendong Akbar yang masih tertidur.


Zakira mengangkat tubuh Akbar dan memeluknya.


''Tidur di pelukan bunda ya Nak," ucap Zakira pads Akbar.


Karena tak ingin terjadi sesuatu selama berjam-jam Zakira memangku Akbar sampai pinggangnya sakit. Sesekali Zakira jalan agar tidak merasa pegal saat memangku Akbar.


Rina membawa makan siang. Sebenarnya mereka sudah terlambat makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul dua siang.


"Mbak makan dulu, biar saya yang gendong Akbar."


"Nggak usah Rin kamu makan saja dulu, mbak masih kenyang. Kamu beri saja Aufar makan ya."


"Iya Mbak."


Rina memberikan Aufar makan, sebenarnya bocah itu sudah bisa makan sendiri.Namun agar ruang perawatan tidak kotor, Rina menyuapi Aufar.


Setelah makan dan menyuapi Aufar,Rina maksud untuk menggantikan Zakira menggendong Akbar.


'Nanti saja Rin, Akbar masih tidur, nanti kalau dipindahin dia bangun, kasihan baru saja nyenyak."


"Iyalah Mbak."


Setelah satu jam Zakira belum juga makan siang, perutnya sudah sangat lapar,tapi dia takut mengganggu Akbar yang sedang istirahat.


"Sepertinya Akbar tidur nyenyak setelah di gendong," kata Zakira.


Secara berkala mereka memeriksa suhu tubuh Akbar.


"Alhamdulillah mbak, sudah turun ke angka 37," kata Rina.


"Alhamdulillah, sepertinya kalau digendong Akbar baru nyenyak tidurnya. Jadi dia bisa istirahat."


"Iya mbak tapi ini tuh udah jam 04.00 sore, Mbak Zakira gak makan? Nanti sakit loh."


"Gak apa, aku nggak apa sakit yang penting anakku sehat-sehat saja. aku nggak selera makan kalau Akbar masih sakit seperti ini."


"Iya sih Mbak tapi kalau mbak yang sakit kasihan anak-anak Mbak, selain jadi ibu, mbak kan juga jadi ayah bagi mereka, mbak juga yang cari uang kan untuk mereka, biaya pengobatan Akbar sangat besar dan rutin lagi."


"Iya kamu bener juga, kalau saya sakit siapa yang akan bekerja untuk anak-anak saya. Siapa yang akan mengurusi mereka."

__ADS_1


"Ya sudah Rin, kamu letakkan makannya di atas nakas biar saya makan sambil gendong Akbar."


"Iya Mbak."


Zakira makan beberapa suapan saja untuk sekedar mengganjal perutnya. Yang penting saat itu Akbar bisa beristirahat dengan nyenyak.


***


Setelah mendonorkan darahnya untuk Akbar, Rio menghamipiri ruang perawatan Akbar.


Dia membawa sesuatu untuk anak berusia satu setengah tahun itu.


Riko masuk ke dalam kamar perawatan Akbar yang terlihat sepi sekali.


"Assalamualaikum," ucap Rio seraya membuka pintu.


Seketika Akbar terbangun dan langsung menoleh ke arah Rio.


"Waalaikumsalam."


"Eh Akbar baru bangu tidur ya?" Tanya Rio sambil berjalan menghampiri Akbar dan Zakira.


Akbar kembali memeluk Zakira dan menempel kepala di dada Zakira.


"Bagaimana kabarnya, Akbar?" tanya Rio sambil mengusap kepala Akbar.


Namun, Akbar takenjawab sedikitpun, ia kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Zakira.


"Akbar, di tanya Om tuh. Kabar Akbar bagaimana?"


"Sakit," jawabnya lirih.


"Duh kasihan," ucap Rio sambil mengusap kepala Albar.


Akbar menoleh ke arah mainan Transformer.


"Mainan ini bisa bergerak sendiri loh."


"Ayo buka, kita main sama-sama , Om juga belikan mainan untuk Abang, nih bang."


Aufar mendekati Rio yang menyodorkan kotak mainan kepadanya.


"Ayo Akbar gendong Om."


Karena ingin bermain, Akbar pun mau di gendong oleh Rio. Rina membantu menurunkan standar infusnya dan selang tranfusi darah Akbar.


Akbar duduk setengah berbaring di pangkuan Rio.


Sementara Aufar menghidupkan robot Transformernya.


Mobil mainan berwarna kuning itu berjalan kemudian perlahan bertformasi menjadi robot secara otomatis.


"Yey, bisa jadi robot Om!" seru Akbar sambil menunjuk.


Karena Akbar sedang asik bermain Zakira memanfaat kesempatan itu untuk bisa memberi Akbar makan.


Baik Aufar maupun Akbar begitu bahagia dengan main itu. Hingga saat Zakira memberikan obat padanya Akbar membuka mulutnya tanpa menolak sedikitpun.


Rio membuka kembali beberapa mainan yang ia bawa, selain robot ia juga membawa beberapa aktion figure.


Ada Spiderman, Iron man dan Ada juga kapten Amerika.


Akbar terlihat asik bermain dengan kedua aktion figure itu.


"Om, kalau besar nanti, Akbar bisa gak ya jadi kuat seperti Spiderman, Ironman dan kapten Amerika?"

__ADS_1


"Bisa dong, asal Akbar rajin minum obat, makan yang banyak biar bisa kuat."


Tiba-tiba Akbar mencebikkan bibirnya, bola matanya merah seketika.


"Tapi kata dokter Akbar gak bisa di sembuhkan Om hiks, hiks. Bagaimana Akbar bisa jadi kuat seperti mereka, kalau gak transfusi darah, Akbar jadi sakit, tubuh Akbar pasti lemah gak bisa di gerakkan hiks," tutur Akbar sambil menangis.


Zakira ikut mengetes air matanya begitupun dengan Rina.


"Cup cup jangan nangis ya, Siapa bilang penyakit Akbar gak bisa di sembuhkan. "


"Hiks hiks Om dokter yang bilang sama Bunda, saat Akbar tidur."


Rio semakin prihatin mendengar keluhan Akbar.


"Gak ada penyakit yang gak bisa di sembuhkan. Akbar tahu gak? Ada orang yang tulangnya bengkok dan gak bisa berjalan dengan teknologi yang canggih seperti saat ini, mereka bisa sembuh kok, kalau mereka bisa sembuh kenapa Akbar enggak?" bujuk Rio sambil mengusap kepala Akbar.


"Hiks hiks bener bisa sembuh Om?" Tanya Akbar sambil menatap Rio dengan tatapan yang berkaca-kaca.


"Iya, percayalah sama Om. Suatu saat nanti Akbar insyaallah bisa sembuh tanpa harus transpusi darah," kata Rio sambil meneteskan air matanya memeluk Akbar.


Zakira yang mendengar itu hanya bisa meneteskan air matanya.


"Terima kasih ya Om, cuma Om yang bilang kalau Akbar bisa sembuh. Oma aja bilang kalau Akbar gak bisa sembuh," tuturnya sambil menangis.


Riko semakin terharu dengan penuturan Akbar. Dibaliknya tubuh Akbar kemudian di peluknya.


"Akbar pingin sembuh kan?"


"Iya om."


"Karena itulah Akbar harus rajin minum obat ya."


"Akbar minum obat kok, Om,Tapi belum sembuh juga."


"Sabar ya." Rio mengusap pundak Akbar.


"Eh Om mau tanya nih, cita-cita Akbar mau jadi apa kalau sudah besar?"


"Akbar mau cari duit yang banyak , biar Bunda gak kerja lagi."


"Loh kenapa? Bunda kerja untuk Akbar dan dan Abang kan?"


"Iya kalau Akbar bisa cari duit, Bunda gak perlu harus kerja sampai malem. Biasanya Akbar sudah tidur, Akbar intip Bunda, eh bunda masih kerja Om, padahal sudah jam satu malam. Akbar kasihan sama Bunda, bunda pasti capek. Akbar saja main seharian capek, apalagi Bunda," ucap Akbar.


Mendengar penuturan putranya seketika air mata Zakira tumpah. Zakira meraih Akbar dalam gendongan Rio, kemudian menangis memeluk putranya itu.


"Hiks, Akbar sayang sama Bunda?" tanya Zakira.


"Sayang. Sayang sekali."


"Bunda juga sayang sama Akbar dan Aufar, karena itulah Bunda rela kerja siamg malam agar bisa membahagiakan Akbar dan Aufar. Semua yang bunda lakukan ini untuk kalian berdua Nak. Jadi jika Bunda meminta Akbar untuk transfusi darah atau minum obat itu bukan karena Bunda jahat. Bunda Sayang sama kalian berdua, hiks." Zakira menamgis tersedu-sedu memeluk Akbar.


Melihat kesedihan Zakira Aufar pun menghampirinya.


"Aufar juga Sayang sama Bunda," ucap Aufar sambil memeluk Zakira.


Zakira merentangkan tanganya untuk memeluk Aufar.


"Iya Sayang, Bunda sayang kalian berdua. Jadilah anak Sholeh dan berbakti karena dengan begitulah bunda merasa bahagia," tutur Zakira sambil menangis memeluk kedua anaknya.


"Iya Bunda," jawab mereka berdua secara serempak.


Ketiganya semakin memeluk erat.


Membuat Rina dan Rio ikut haru. Setelah melihat perjuangan Zakira dalam membesarkan dan merawat anaknya yang sakit, Rio semakin terkagum-kagum dengan wanita berumur 28 tahun itu.

__ADS_1


__ADS_2