Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Ibu Tangguh


__ADS_3

Zakira berada di kantornya dengan setumpuk berkas yang harus ia periksa hari ini juga karena dalam beberapa hari kedepannya dia akan keluar kota menemani Aufar ikut lomba cerdas cermat tingkat nasional.


Telepon berdering di meja kantornya, seketika membuyarkan konsentrasi Zakira. Zakira mengangkat telepon itu


"Halo assalamualaikum, dengan ibunya Aufar?"


" Waalaikumsalam, Iya saya sendiri."


"Maaf Bu, Aufar tadi di gangguin salah seorang temannya. Karena terjatuh Aufar sempat mimisan jadi saya berharap Ibu bisa menjemput Aufar."


Zakira kaget, perasaan cemas pun menghantuinya.


"Tapi kondisi Aufar baik-baik saja kan Bu?"


"Kondisi Aufar baik-baik saja Bu, hanya saja saya sarankan agar Aufar diperiksa saja ke dokter."


"Baik Bu, saya akan segera ke sana."


"Bu kalau begitu terima kasih maaf mengganggu."


"Nggak papa saya yang harusnya berterima kasih karena Ibu telah menginformasikan hal ini kepada saya.''


"Kalau begitu saya tutup teleponnya dulu ya Bu Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Zakira menghela nafas panjang. diiriknya setumpuk berkas yang harusnya hari ini selesai ia periksa, tapi lagi-lagi ia harus menunda pekerjaannya itu dan harus ke sekolah menjemput Aufar.


Zakira keluar dari ruangannya saat itu juga, kemudian ia menghampiri sekolah Aufar.


Setengah jam Zakira sudah tiba di sekolah Aufar dan ia langsung menemui Aufar di ruang UKS.


Salah seorang guru menunggu Aufar yang sedang berbaring di tempat tidur yang ada di ruang UKS.


"Bagaimana keadaan Aufar Bu. Kenapa dia bisa sampai jatuh dan mimisan?"tanya Zakira seraya menghampiri Aufar yang sedang tertidur.


"Tadi Aufar berlari kemudian ada salah seorang temannya iseng ketika berlari dia menjulurkan kakinya hingga membuat Aufar jatuh, dan tubuhnya tengkurap di atas lantai mungkin saat jatuh hidung Aufar mengenai lantai hingga dia mimisan."


Zakira menghela nafas panjang.


Dilihatnya Aufar yang tengah tertidur.


'Ya Allah semoga tidak terjadi sesuatu pada Aufar,' batin Zakira sedih.


Auhar terbangun karena mendengar suara Zakira.


"Bunda," lirihnya 


"Ya Allah kamu baik-baik saja Nak?" tanya Zakira sambil mengusap-usap kepala Aufar.


"Iya bunda, Aufar tidak apa-apa. Bunda Jangan sedih dong,'' kata Aufar ketika melihat bola mata Zakira berkaca-kaca.


"Bagaimana tidak sedihnya Nak. Bunda takut terjadi sesuatu pada Aufar."


Aufar bangkit dari berbaringnya.


"Tuh kan Bunda, Aufar tidak apa-apa," kata Aufar.


"Ya sudah, biar Bunda nggak khawatir, Sekarang juga kita periksa kondisi kamu," ucap Zakira sambil membereskan tas dan sepatu Aufar.


Setelah siap Zakira mau minta izin kepada wali kelas untuk membawa Aufar periksa.


***


Zakira membawa mobilnya menuju klinik terdekat.


Ketika sedang menyetir, Ia kembali mendapat telepon.


"Aufar tolong angkat telepon bunda."


Aufar mengangkat telepon tersebut.


"Dari siapa Aufar?" tanya Zakira.


"Dari Kak Rina."

__ADS_1


"Hallo Assalamualaikum Kak Rina."


"Waalaikumsalam, Aufar Bunda di mana?"


"Ada nih sama Aufar."


"Kalau begitu tolong berikan teleponnya pada Bunda," terdengar kepanikan dalam pembicaraan telepon tersebut.


Zakira langsung meraih handphone yang diberikan oleh Aufar.


"Hallo ada apa Rin?" tanya Zakira.


"Mbak sebaiknya Mbak cepet pulang karena badan Akbar panas sekali."


"Akbar demam? tapi tadi pagi biasa-biasa saja." Zakira panik mendengar berita yang disampaikan Rina.


"Iya Kak tadi setelah makan aku mandi mandikan Akbar, saat itu aku lihat dia tidur jadi aku tunda mandinya. karena sudah jam 10.00 aku bermaksud untuk membangunkan Akbar. Namun, saat aku menyentuh tangan Akbar kulitnya terasa panas."


"Ya Allah kenapa lagi Akbar?" gumam Zakira dengan perasaan yang cemas.


"Sudah kamu ukur suhu tubuhnya?'


"Sudah mbak terakhir aku tensi suhu tubuhnya 40 derajat Celcius."


"Astaghfirullah. Akbar tak pernah setinggi itu."


"Iya mbak makanya aku panik."


"Ya sudah saat ini saya sedang dalam perjalanan, sekarang Akbar di mana dia masih tidur?"


"Masih Mbak, tadi saya paksa bangun dia hanya membuka matanya sedikit lalu tidur lagi."


"Ya sudah, kamu harus jaga dia jangan pernah tinggalkan dia, saya sedang dalam perjalanan pulang."


Zakira begitu panik, hampir saja ia kehilangan konsentrasinya untuk menyetir.


"Bunda Akbar kenapa?'


"Akbar demam, kita pulang dulu ya, kita jemput Akbar," kata Zakira dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Hiks, Iya Sayang, mari kita sama-sama doakan untuk kesembuhan adik," kata Zakira sambil menghapus air matanya.


mobil Zakira melaju menuju Apartemennya. Sambil menyetir dia terus berdoa agar tak terjadi sesuatu pada Akbar.


di dalam perjalanan Zakira meminta Rina untuk mempersiapkan kebutuhan Akbar.


Zakira tak menyangka Akbar demam dengan suhu tubuh setinggi itu, padahal baru seminggu yang lalu, Ia cuci darah Akbar.


Sesampainya di apartemen, Zakira langsung menuju unit apartemen miliknya, setelah memeriksa keadaan Akbar ,ia segera membawa Akbar ke rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, Akbar langsung di periksa di ruang UGD.


Zakira tampak cemas menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.


"Anak saya kenapa dokter?" Tanya Zakira.


"Sepertinya dia hanya terserang flu, oleh karena kondisi fisik yang lemah, karena itulah suhu tubuhnya meningkat akibat kekurangan hemoglobin dalam darahnya"


" Dan oleh karena hemoglobin dalam darahnya menurun, kami akan melakukan transfusi darah kembali."


"Transfusi darah? tapi baru minggu kemarin saya membawanya untuk transfusi darah dokter."


"Iya, apa boleh buat kita harus lakukan transfusi darah kembali untuk meningkatkan hemoglobin dalam tubuhnya agar tubuhnya bisa melawan penyakit sendiri."


"Iya dokter, lakukan apa saja yang terbaik untuk anak saya," kata Zakira sambil meneteskan air matanya.


"Baiklah, kalau begitu silahkan urus administrasinya, saya juga minta anda untuk menyediakan donor darah sendiri. mengingat saat ini stok darah golongan AB saat ini terbatas di PMI."


"Baik dokter."


Setelah memastikan keadaan Akbar sudah mendingan, Zakia menuju ke kasir untuk membayar biaya administrasi. Ia beruntung, sekarang dia punya perusahaan sendiri sehingga biaya pengobatan Aufar yang cukup besar bisa teratasi dengan mudah."


"Sekarang tinggal mencari golongan darah untuk Akbar."


Zakira memikirkan siapa yang akan dimintai tolong untuk mendonorkan darah untuk Akbar.

__ADS_1


"Siapa ya punya golongan darah yang sama dengan Akbar, " guman Zakira.


"Oh iya Mas Rafli kan ayahnya."


Zakira menghubungi Rafli.


"Hallo Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam Zakira. Ada apa ya?" tanya Rafli karena tak biasanya Zakira menelponnya.


"Mas Rafli dimana?"


"Lagi di luar kota Za, ada apa ya?" Tanya Rafli.


"Ehm gitu ya Mas. maaf Mas, aku butuh donor darah untuk Akbar."


"Akbar Kenapa lagi? bukannya minggu kemarin Dia sudah menjalani transfusi darah?"


"Iya Mas Hari ini Akbar sakit dan kata dokter hemoglobinnya kembali turun. Akbar butuh persediaan donor darah karena darah di PMI sudah menipis."


"Aduh Za, maaf ya, mas Rafli gak bisa pulang karena kita ada came di hutan. Mungkin sekitar dua hari lagi baru bisa pulang."


"Ya sudah Mas, nanti aku cari sendiri donor darahnya. Maaf ya mas mengganggu," lirih Zakira langsung menutup teleponnya.


Zakira menghampiri Rina dan Aufar yang menjaga Akbar.


"Rina, saya mau ke PMI ya, mau cari stok darah untuk Akbar."


Zakira melihat ke arah Aufar.


"Oh iya saya sampai lupa Aufar belum di periksa."


Zakira menghubungi para medis untuk memeriksa keadaan Aufar. Setelah keadaan Aufar baik-baik saja, Zakira meninggalkan Akbar dan Aufar dalam pengawasan Rina. Sementara dia harus ke PMI.


Zakira membawa mobilnya dalam keadaan kalut, jika tidak ada di PMI dia tak tahu harus mencari dimana." Ya Allah semoga masih ada stok darah di PMI."


. Ketika dalam perjalanan ke PMI, Zakira mendapatkan telepon dari asistennya.


"Iya Zahra ada apa?"tanya Zakira dalam sambungan teleponnya.


"Maaf Bu, apa Ibu lupa jika Hari ini ada rapat bersama pak Wira Bu?"


"Saya tidak lupa, hanya saja saya lagi sibuk mengurusi anak saya yang sakit. Kamu pending dulu ya rapat kita minta maaf kepada Pak Wira."


"Baiklah Bu."


"Iya Zahra."


Zakira menutup teleponnya karena buru-buru mengejar waktu untuk sampai di PMI.


Sesampainya di PMI, Zakira memarkirkan mobilnya kemudian langsung menuju meja administrasi.


"Pak, apa masih ada stok darah golongan AB di Sini?" tanya Zakira.


"Kosong mbak hanya tersisa satu," kata petugas.


"Ya sudah ini surat keterangan dokter."


Zakira menyerahkan surat itu dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Hanya satu? aku harus carib dimana lagi donor darahnya?"


Zakira keluar dari PMI dengan perasaan resah dan gelisah. bingung harus mencari kemana donor darah untuk Akbar.


Zakira teringat jika Raffi masih punya ayah dan ibu kandung, tapi kemungkinannya mereka tak bisa mendonorkan darahnya, karena gen salah satu orang tua Rafli pasti memiliki gen penyebab thalasemia.


Zakira menghempaskan nafas kasarnya. Di dalam mobil dia menyetir sambil sesekali menghapus air matanya.


"Ya Allah, kemana aku harus cari donor untuk menyelamatkan nyawa Akbar."


Zakira bermonolog sambil sesekali beristighfar. Ia punya banyak uang, tapi tak bisa membeli kehidupan untuk anaknya.


"Ya Allah hanya kepada mu lah hamba berserah, tunjukkan jalan bagi hamba agar bisa mendapatkan donor darah untuk anak hamba, Aamiin."


Zakira melanjutkan perjalanan sambil memikirkan cara untuk mendapatkan donor darah.

__ADS_1


__ADS_2