Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Bertemu di Rumah sakit


__ADS_3

Lebih sebulan sudah Reymond dan Zakira menjadi suami istri dan sampai saat ini mereka sekalu mesra dan harmonis.


Sekarang Zakira hanya fokus mengurusi rumah tangganya, sementara Reymond yang mengurusi perusahaan.


Zakira pagi-pagi sibuk di dapur untuk menyiapkan bekalan bagi anak-anaknya.


Meskipun mereka memiliki asisten rumah tangga. Namun, untuk urusan makan dan minum, Zakira sekarang yang handle.


Zakira sedang menumis bumbu untuk memasak sambal orak arik tempe sebagai pelengkap nasi kuning bekalannya.


Ketika tumisan bawangnya menyeruak menyebarkan aroma harum. Zakira tiba-tiba saja merasa mual.


Iya langsung mematikan kompornya kemudian berlari ke kamar mandi.


Zakira muntah sejadi-jadinya di kamar mandi.


Reymond mendengar suara muntah di kamar mandi Ia pun segera menghampirinya.


"Bunda? kenapa?" tanya Reymond .


"Aku mual mas, berasa pengen muntah terus."


"Ya sudah Istrihat saja. Nanti biar saja asisten rumah tangga kita yang melanjutkan masaknya."


Aufar dan Akbar menghamipiri Zakira.


"Daddy, bunda kenapa?"


"Gak apa-apa kok sayang."


"Mas, nanti setelah mengantar anak-anak kamu, antar aku oeriksa ke dokter bisa nggak ?"


"Bisa dong."


"Ya sudah, kalian makan duluan ya. Nanti biar bi Inem yang siapkan bekal makan siang untuk kalian. Bunda mau ganti baju dulu."


"Siap Bunda!"


Kedua Putra dan suaminya begitu menikmati sarapan yang dimasak oleh Zakira.


Beberapa saat kemudian Zakira turun dengan menggunakan pakaian yang rapi


"Bunda nggak makan ?"tanya Raymond


"Nggak Mas, kagi nggak nafsu makan."


"Ya sudah kalau gitu minum susu saja . Nih sudah Daddy persiapan kan."


Zakira pun meminum susu buatan Reymond .


Setelah siap, mereka pun berangkat menuju sekolah. Setelah mengantar Akbar dan Aufar Zakira dan Reymond menuju Klinik.


Saat yang bersamaan mereka bertemu dengan bu Rita.


"Assalamualaikum bu." bu Rita menoleh ke arah Zakira.


"Waalaikumsalam."


Saat itu Zakira melihat Bu Rosa yang terlihat begitu sedih.


"Ibu di sini bersama siapa?" tanya Zakira.


"Bersama Rafli."


"Mas Rafli?"


"Iya beberapa bulan ini kesehatan kesehatan Rafli semakin menurun. Seminggu sekali ia harus transfusi darah."


Bu Rita menangis sedih.


"Innalillah, yang sabar ya Bu. lalu Mas Rafli dimana sekarang Bu?" tanya Zakira.


"Rafli sekarang sedang dirawat di rumah sakit ini."


"Di ruangan mana Bu?"


"Ruang 003."


"Oh iya, nanti setelah saya periksa, insyaallah kami jenguk mas Rafli Bu."


"Iya Zakira, Terima kasih ya."


"Sama-sama Bu. Kalau begitu kami permisi dulu Bu .


Zakira dan Raymond berjalan menghampiri bagian pendaftaran.


"Ke dokter Luna ya mbak," kata Zakira.


"Iya mbak. Silakan saja menunggu di depan ruang pemeriksaan."

__ADS_1


Zakira dan Reymond berjalan melewati koridor menuju ruang pemeriksaan.


"Sayang, kamu mau periksa ke dokter kandungan?" tanya Reymond.


"Iya Mas. Sepertinya aku sedang berbadan dua," kata Zakira.


Reymond tersenyum.


"Benarkah?"


"Makanya aku mau periksa. semoga saja dugaan ku benar," kata Zakira.


"Iya semoga saja, aku sangat berharap bisa segera punya anak lagi," kata Reymond sambil mengusap punggung Zakira.


Keduanya saling melempar senyum bahagia penuh harapan.


"Nyonya Zakira!" Panggil suster.


Zakira beranjak dari tempat duduknya begitu juga Reymond .


"Silakan ibu, ada keluhan?" Tanya Dokter.


"Tadi pagi saya merasakan mual, saat mencium bawang yang saya tumis, saya curiga jika saya hamil dokter," kata Zakira.


"Baiklah kalau begitu kita lakukan saja pemeriksaan ya."


Dokter memberi Zakira sebuah wadah yang terbuat dari stainless kemudian memberi satu alat tes kehamilan.


Zakira melakukan tes urine itu didampingi oleh suster yang mengantarnya ke toilet dimana dokter itu meneriksa.


Beberapa saat kemudian, Zakira keluar dengan senyum merekah di bibirnya.


Reymond juga ikut tersenyum karena sepertinya sang istri membawa kabar bahagia.


Zakira menyerahkan alat tes kepada dokter.


"Alhamdulillah Ibu, positif hamil Bu."


Zakira dan Raymond saling menatap dengan tatapan berembun.


"Alhamdulillah Mas aku hamil."


"Iya sayang."


Dokter menanyakan kapan hari terakhir Zakira mendapat menstruasi untuk menentukan usia kehamilannya, menurut hasil perhitungan dokter Zakira saat ini hamil 4 Minggu.


"Saya resepkan vitamin ya, Ibu. Banyak beristirahat, makan yang bergizi dan hindari stres selama masa kehamilan."


Wajahnya yang bahagia, perlahan hilang dan berganti dengan wajah yang cemas.


"Dokter istri Saya sudah dua kali menjalani operasi caesar, apa tidak akan berbahaya untuk dirinya?"


Zakira langsung menoleh ke arah Raymond ketika mendengar pertanyaan dari suaminya. Saking bahagianya Zakira, ia lupa jika dirinya sudah dua kali menjalani operasi.


"Terakhir operasi sesarnya berapa tahun yang lalu ibu?" tanya dokter.


"Terakhir sekitar 7 tahun yang lalu."


"Oh tidak apa-apa. Insya Allah aman."


"Alhamdulillah."


"Iya dok terima kasih."


Zakira dan Reymond keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan bahagia.


"Alhamdulillah mas, aku hamil lagi."


"Iya tapi aku masih khawatir Sayang, aku takut terjadi sesuatu pada kamu saat persalinan nanti."


"Insya Allah mas kita serahkan saja sama ya Allah, perbanyak berdoa dan sedekah saja Mas, semoga Allah menjauhkan kita dari segala macam musibah."


"Amin ya rabbal alamin."


"Sebagai wujud syukur atas kehamilan kamu ini. Mas akan sedekah apa saja dan dan berapa saja hari ini, jika ada orang yang membutuhkan bantuan."


"Alhamdulilah, Terima kasih Mas."


"Iya Sayang, semoga janin yang kamu kandung selalu sehat, begitu juga kamu," kata Reymond .


"Aamiin."


"Oh ya Mas, tadi aku udah janji sama ibu, mau jemput Mas Rafli, kita lihat keadaan Mas Rafli ya Mas."


"Iya."


Zakira dan Raymond mencari ruangan di mana Rafli dirawat setelah mendapati ruangan tersebut, mereka mengetuk pintu kamar itu, kemudian masuk.


Rafli berbaring dengan wajah yang pucat dan mata yang berkantung.

__ADS_1


Zakira dan Reymond menghampiri Rafli.


Zakira sampai kaget melihat kondisi Rafli.


Rafli yang dulunya bertubuh tegap gagah dan tampan, kini sudah semakin kurus dengan wajah yang pucat.


Tak terasa air mata Zakira menetes melihat sang mantan suami yang mengalami perubahan yang sangat drastis.


"Assalamualaikum Mas Rafli," Ucap Zakira dengan suara parau menahan air mata.


"Waalaikumsalam Zakira, kamu tahu dari mana saya dirawat di sini?" tanya Rafli heran.


"Oh tadi bertemu Ibu mas di lobby rumah sakit."


"Mas Rafli kok nggak ngasih tahu kalau Mas Rafli masuk rumah sakit?"


Rafli hanya tersenyum.


Beberapa saat kemudian bu Rita masuk ke dalam ruangan bersama seorang dokter.


Zakira dan Raymond pun menepi karena sepertinya dokter akan memeriksa keadaan Rafli.


Mereka melihat Rafli diperiksa. Dokter juga membaca hasil pemeriksaan hasil rontgen Rafli.


"Keadaan pasien sudah semakin parah. Pasien saat ini harus menerima transfusi darah terus-menerus untuk tetap bisa bertahan hidup, tapi kondisi tersebut dapat menimbulkan beberapa komplikasi, karena akan menumpuk nya zat besi di dalam darah, bisa berakibat fatal bagi pasien sendiri. karena saat ini sumsum tulang pasien sudah rusak dan tidak bisa memproduksi sel darah baru."


Rafli terbaring sambil memejamkan matanya mendengar diagnosa dokter itu. Ia hanya bisa pasrah.


Sementara Bu Rita seketika itu ia menangis.


"Hiks, hiks lalu apa yang bisa saya lakukan dokter, agar anak saya punya kesempatan hidup lebih baik ?"tanya Bu Rita sambil menangis tersedu-sedu.


"Karena ini sudah darurat, sebaiknya kita lakukan transplantasi sumsum tulang belakang. Ibu bisa mencari donor sumsum tulang belakang sendiri dari pihak keluarga, ataupun dari pendonor. hanya saja jika dari pendonor ibu harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal."


"Hiks, Ya Allah. Saya tidak punya keluarga dekat dokter. kalaupun ada keluarga kami juga menderita thalasemia," kata bu Rita sambil menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah Bu nggak usah dipikirkan, Rafli juga sudah pasrah kok," lirih Rafli.


"Hiks, tidak bisa begitu Rafli, selama Ibu masih hidup ibu akan berusaha agar kamu bisa sembuh, Nak."


"Di mana mencari pendonor sumsum tulang belakangnya dokter ?"tanya Bu Rita.


"Ibu bisa cari sendiri Bu, atau menunggu antrian. Karena tak semua orang bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangnya."


Hiks, tangisan Bu Rita semakin pilu.


"Dokter, apa saya bisa menjadi pendonor sum-sum tulang belakang untuk pasien?" Tanya Reymond .


Seketika bu Rita dan Zakira menoleh ke arah Reymond.


"Apa bisa dokter?" tanya bu Rita.


"Bisa, asalkan HLA pasien dan pendonor punya kemiripan 50 persen. Hanya saja untuk melakukan tindakan transplantasi butuh biaya sekitar 800 juta sampai 1 M."


Seketika bu Rita sesak nafas.


"Tidak apa-apa dokter, biar saya yang akan membayar biaya tersebut," kata Reymond .


Zakira melotot kan bola matanya.


"Mas, kamu...?"


"Iya Sayang, bukannya aku sudah berjanji untuk sedekah apa saja dan berapa saja untuk orang yang membutuhkan hari ini," kata Reymond sambil mengusap perut Zakira.


Zakira begitu bangga dan bahagia mendengar ucapan Reymond .


"Terima kasih mas." Zakira tak mampu menahan haru, ia pun langsung meneluk Reymond .


"Iya Sayang, saya punya hutang dengan Rafli, dan saya rasa inilah cara saya untuk menebus kesalahan tersebut. Lagi pula Rafli adalah ayahnya Akbar, Rafli juga pernah membesarkan Aufar, saya rasa ini tidak seberapa dengan apa yang sudah di lakukan Rafli untuk kita semua," kata Reymond .


Rafli meneteskan air matanya. memanglah tidak rugi melakukan perbuatan baik, karena Allah akan membalas kebaikan itu suatu saat nanti.


"Terima kasih Nak, saya berhutang bayak pada kamu," kata bu Rita sambil menatap Reymond .


"Iya Bu tidak apa-apa."


"Baiklah, kalau begitu, tes di lakukan saat ini saja, jika sudah cocok, maka kita bisa atur jadwalnya operasinya ."


"Siap dokter," kata Reymond .


Zakira menetes kan air matanya, kemudian ia memeluk bu Rita.


"Kita doa kan semoga mas Rafli cepat sembuh ya Bu. Bisa menjalani hidup normal dan bisa punya keluarga baru yang bahagia," ucap Zakira tulus.


"Hiks, iya Nak. Ya Allah terima kasih karena engkau sudah menghadir kan orang-orang baik untuk kami," kata bu Rita.


Rafli pun meneteskan air matanya.


"Terima kasih," kata Rafli pada Zakira dan Reymond .

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2