Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Penghasut


__ADS_3

Bu Rita menghampiri seorang wanita yang sedang berbelanja di supermarket. Setelah berbelanja di supermarket wanita itu menuju sebuah butik.


Melihat situasi yang sangat pas, Bu Rita memberanikan diri mendekati wanita yang sebenarnya tidak ia kenal sebelumnya.


"Ehm permisi Nyonya," sapa Bu Rita.


Wanita itupun menoleh.


"Iya Anda siapa ya?" karena tak mengenal Bu Rita, wanita itu menatap Bu Rita dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Anda nyonya Mira kan? Ibu dari Rio Regan?"


"Iya ada apa ya, anda kenal anak saya?" tanya Nyonya Mira.


"Saya tidak begitu kenal dengan putra Anda, tapi saya punya sesuatu hal yang penting yang ingin saya sampaikan untuk Anda nyonya. ini semua demi masa depan Putra anda sendiri."


Nyonya Mira menatap heran ke arah Bu Rita.


"Masa depan apa Ya maksudnya?"


"Begini nyonya Ada yang ingin saya bicarakan dengan Nyonya, apa bisa kita bicara di cafe, atau dimana saja agar lebih nyaman."


"Baiklah, saya bayar belanjaan saya dulu."


Bu Rita tersenyum menyeringai, sambil menatap punggung Nyonya Mira yang berjalan menghampiri kasir.


Karena mereka sedang berada di pusat perbelanjaan, Nyonya Mira membawa Bu Rita untuk duduk di sebuah food court yang tak jauh dari butik tempat ia berbelanja.


Mereka duduk saling berhadapan. Nyonya Mira memesan minuman untuk mereka sebelum memulai obrolan.


"Silakan, Apa yang anda ingin sampaikan?" kata Nyonya Mira membuka obrolan mereka.


"Begini Nyonya, akhir-akhir ini saya melihat kedekatan antara mantan menantu saya dan Rio."


"Mantan menantu anda? itu berarti seorang janda?"


"Iya nyonya."


"Lalu, ada yang salah?" tanya Nyonya Mira sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan


"Zakira itu di ceraikan oleh putra saya karena dia mengidap penyakit thalassemia."


Seketika bu Mira membelalakan bola matanya.


"Karena itulah Bu, sebelum Putra Ibu menjalin hubungan yang lebih serius lagi, Saya bermaksud memperingatkan saja. Jangan sampai Rio menikahi wanita yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir, Bu. karena yang jadi korban adalah anak-anak mereka ketika lahir. Ibu nggak mau kan punya cucu yang menderita penyakit yang sama dengan cucu saya saat ini?"


Nyonya Mira menatap lekat ke arah bu Rita.


"Cucu saya sudah menjadi korban Bu, cucu saya menderita penyakit thalasemia dan itu karena faktor genetika yang diturunkan oleh Zakira."


"Apa benar seperti itu Bu?" Nyonya Mira sedikit ragu dengan penuturan Bu Rita itu.


"Benar Bu, coba saja ibu tanya pada Rio jika Ibu tidak percaya. Apakah saat ini anaknya Zakira itu sedang dirawat."


"Saya khawatir Zakira sengaja tidak memberitahu Rio tentang penyakit genetiknya itu, agar Rio mau menikahinya."


Bu Mira menatap serius ke arah Bu Rita, wanita itu mulai terpengaruh dengan ucapan Bu Rita.


"Sayang loh Bu, pria ganteng seperti Rio harus mendapat janda dua anak penyakitan lagi." Bu Rita semakin memanasi Nyonya Mira yang masih tetap menyimak kata demi kata yang terlontar dari mulut bu Rita

__ADS_1


"Saya rasa Rio itu diguna-guna oleh Zakira, karena ya begitu, anak saya juga di guna-guna sama perempuan itu."


Nyonya Mira sampai bergidik ngeri.


" Bahkan Bu, Zakira itu pernah melahirkan anak hasil perselingkuhan bersama bos nya."


"Astaghfirullahaladzim," kali ini nyonya Mira langsung bereaksi.


"Yang benar saja Bu? menantu Ibu sebelumnya pernah selingkuh dengan bosnya sampai melahirkan anak?"


"Ya ampun Bu, saya itu gak bohong. Makanya saya heran sama anak saya, sudah diselingkuhi, istrinya hamil anak selingkuhannya, bukannya menceraikan istrinya, anak saya malah mempertahankan hubungan dan rela membangkang perintah saya Bu. "


"Saya tuh sakit hati banget," ucapan Bu Rita menggebu-gebu sambil memukul-mukul dadanya


"Ya Allah apa Rio juga diguna-guna Ibu."


"Iya, saya yakin Bu."


"Saya bisa buktikan jika anak Zakira yang pertama itu bukan cucu saya! Nih saya punya bukti foto mereka."


Bu Rita menunjukkan foto keluarga Rafli dan Zakira, saat itu Aufar berusia 2 tahun di galeri ponselnya.


"Tuh ibu lihat sendiri anaknya Zakira. wajahnya mirip bule kan? beda dengan anak saya."


Bu Mira memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Bu Rita. setelah melihat foto itu, Nyonya Mira kembali menatap Bu Rita.


"Makanya Bu, sebaiknya Ibu carikan Rio perempuan yang baik-baik, jangan seperti Zakira."


"Dan asalkan Ibu tahu, Zakira bahkan mengguna-guna selingkuhannya untuk bunuh diri, kemudian selingkuhannya itu membuat surat wasiat agar seluruh perusahaan dan aset yang ia miliki di atas namakan Zakira dan putranya," tutur bu Rita menggebu-gebu.


"Astaghfirullahaladzim." Nyonya Mira sampai mengusap dadah mendengar ucapan dari Bu Rita yang sangat-sangat meyakinkan itu.


'Iya lah Bu. Zakira itu anak yatim piatu, dari mana dia bisa punya perusahaan sebesar itu, kalau gak main dukun."


Setelah cukup lama ngobrol bersama Nyonya Mira. Bu Rita memutuskan untuk pulang, dan ia yakin sekali ini usahanya pasti akan membuahkan hasil.


***


Sudah seminggu Akbar menjalani perawatan di rumah sakit, setiap ada kesempatan Rafli selalu mengunjungi anak-anaknya dan menemani mereka selama di rumah sakit.


Hal itu membuat Rio jadi jarang menemui Akbar, karena tak ingin merusak suasana.


Zakira membereskan barang-barang mereka, karena sebentar lagi mereka akan pulang ke rumah.


Hari ini Raffi mendapat tugas pagi, Karena itulah ia tidak bisa mengantar Akbar pulang ke rumah.


"Assalamualaikum," ucap Rio di depan pintu.


"Waalaikumsalam," sahut mereka semua yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Om Rio!" Panggil Akbar yang terlihat senang ketika melihat kedatangan Rio.


"Iya Sayang. sudah mau pulang ya?"


"Iya, om Rio kenapa jarang ke sini?" tanya Akbar.


"Maaf ya, Om sibuk."


"Ayo gendong Om saja." Rio menggendong Akbar, sementara Zakira dan Rina mengumpulkan barang-barang mereka untuk dijadikan satu agar tidak tertinggal saat dibawa.

__ADS_1


"Aufar dimana?" tanya Rio ketika tak mendapati Aufar.


"Aufar ikut kegiatan lomba, karena Akbar masih sakit, wali kelasnya yang mewakili aku Yo. awalnya aku nggak kasih izin,Aufar masih kecil, tapi kepala sekolahnya yang izin langsung sama aku. karena mereka berjanji akan menjaga Aufar, ya aku akan kasih izin saja. lagi pula ada beberapa orang temannya juga."


"Nginep kah?"


"Ngak, katanya mereka pulang hari ini juga."


"Oh begitu."


"Sudah siap yuk pulang sama Om."


beberapa saat ada seorang pria menghampiri ruang tersebut. pria itu mengangkut barang-barang Zakira yang akan dibawa pulang ke apartemen.


sementara Zakira pulang bersama Rio.


***


Mereka berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Za, kapan-kapan kamu berkenalan dengan keluarga aku yuk," cetus Rio sambil melirik ke arah Zakira.


Zakira menyunggingkan senyum tipis.


"Memangnya ada apa?"


"Ya aku mau kenalin kamu sama mama aku sama kakak aku."


Zakira kembali tersenyum tipis.


"Emangnya kamu nggak malu ya Yo, memperkenalkan aku dengan keluarga kamu."


"Loh kenapa harus malu?"


"Sekarang aku tanya sama kamu, kamu mau kenalin aku dengan keluarga kamu sebagai apa? sebagai teman atau teman dekat?"


"Ya teman dekat lah, kalau aku mau memperkenalkan kamu kepada keluargaku, itu berarti aku serius Za."


Zakira mengulum senyumnya kembali.


"Aku jadi insecure loh Yo, kalau harus berkenalan dengan keluarga kamu."


"Insecure? kenapa?"


"Aku seorang janda, punya anak dua, sementara kamu masih lajang, kalau hanya sekedar berteman biasa okelah, tapi kalau untuk hubungan yang lebih lanjut sepertinya aku nggak bisa. aku yakin orang tua kamu pasti berat menerima aku dan anak-anak aku," cetus Zakira to the point.


Haha, Rio tertawa renyah.


"Justru karena itu aku mau coba bicara sama orang tuaku. Aku mau ceritakan tentang kamu kepada mereka. Tapi, kamu tuh belum menerima pernyataan cinta aku."


Zakira kembali tersenyum tipis.


"Aku nggak mau berharap terlalu jauh Yo, kalau memang kamu serius, kamu omongin saja dulu sama orang tua kamu. Kamu ceritakan tentang aku apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, nggak ada yang ditambah dan nggak ada yang dikurangi. karena aku tidak mau ada konflik di kemudian hari, karena orang tua kamu merasa tertipu dengan jati diri aku."


" Jika orang tua kamu menerima aku, barulah aku bersedia menerima pernyataan cinta kamu."


"Yang bener ya Za. Orang tua aku mau menerima kamu apa adanya kamu mau melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius."


"Iya Yo."

__ADS_1


"Baiklah, nanti pulang dari kantor aku akan bicarakan ini pada Mama aku."


" oke," sahut Zakira seraya tersenyum.


__ADS_2