Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Mengutarakan Maksud


__ADS_3

Sejak mengantar pulang Rafli dari rumah sakit, Denisa semakin rajin mengunjungi Rafli.


Seperti hari ini Denisha datang dengan menggendong anaknya serta membawa parcel buah untuk Rafli dan bu Rita.


Denisa pun banyak mengalami perubahan, dari tutur katanya Denisha terlihat lebih dewasa. Sehingga ia menjadi orang yang enak untuk di ajak bicara.


Rafli bersandar pada sofa ruang tamunya. Untuk sementara ia tidak bisa bekerja.


Terkadang Rafli merasakan kesepian dan kebosanan karena tinggal di rumah tanpa ada kegiatan yang berarti.


"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam membuat lamunan Rafli seketika buyar.


"Waalaikumsalam , Eh Denisha, masuk saja," kata Rafli.


"Iya Mas, lagi ngapain?" tanya Denisa basa-basi.


"Nggak lagi ngapa-ngapain cuman duduk melamun saja, karena gak tahu harus ngapain juga."


"Loh memangnya Tante ke mana, Mas? anak Mas Rafli nggak pernah main ke sini?"


"Pernah tapi gak sering. mungkin nggak ada yang ngantar karena bunda nya lagi hamil."


Mereka pun mengobrol-ngobrol ringan.


Kehadiran Denisha menjadi penghibur hati bagi Rafli yang memang kesepian .


Apalagi Denisa memiliki balita perempuan. Membuat Rafli jadi merasa tak sendiri.


Bocah cantik itu turun dari pangkuan ibundanya .


"Cici sini duduk sama Om?" kata Rafli seraya menarik perlahan tangan Cici bayi berumur 1 tahun yang baru bisa berjalan itu.


Cici pun menghampiri Rafli. Mereka pun ngobrol dan bercanda-canda bersama bayi itu.


Bu Rita baru saja pulang dari berbelanja. Tiba di depan pagar rumahnya. Bu Rita melihat mobil Denisha terparkir di halaman rumahnya.


"Oh ada Denisha ternyata."


Bu Rita berjalan mengendap-ngendap Ia ingin melihat apa yang terjadi pada Rafli dan Denisha.


Dari teras rumah ia melihat Rafli begitu senang bisa bermain bersama Cici.


Bu Rita pun tersenyum.


"Sepertinya Denisha masih mencintai Rafli, semoga saja dia mau aku jodohkan kembali dengan Rafli."


"Assalamualaikum," kata Bu Rita di depan pintu rumah.


'Waalaikumsalam," sahut mereka semua.


"Eh ada Denisha, kapan datangnya?"


"Baru aja Tante. Tante dari mana?"


"Dari pasar, biasalah belanja sehari-hari untuk kebutuhan memasak."

__ADS_1


"Tante mau memasak untuk makan siang ?" tanya Denisha


"Iya makanya belanja dulu tadi, kamu dulu aja ya Denisha . Biar tante masak dulu, nanti kita makan siang Sama-sama ."


Bu Rita membawa barang-barang belanjaannya menuju dapur. Tak disangka Denisha ikut menghampiri Bu Rita.


"Masak apa Tante ?" tanya Denisha ketika melihat Bu Rita membongkar barang-barang belanjaannya.


"Ini masak sayur asem kesukaan Rafli."


"Mau aku bantuin tante?".


"Nggak usah, kamu jaga saja anak kamu."


"Nggak apa-apa Tante, mumpung Cici lagi main sama Mas Rafli."


"Oh ya sudah kalau kamu mau bantu."


Denisha pun mulai membantu Bu Rita menyiapkan makan siang untuk mereka. Sementara terdengar suara tawa cici dan Rafli dari arah ruang tamu.


Rafli dan Cici terlihat begitu akrab.


Dalam kesempatan inilah Bu Rita bermaksud untuk menggali informasi tentang Denisha.


"Denisha kamu sudah resmi bercerai dengan suami kamu?"


"Sudah Tante, kita udah resmi cerai kok dan masalah kami sudah selesai."


"Oh.. apa kamu nggak punya keinginan untuk menikah lagi ?" tanya Bu Rita dengan maksud untuk memancing.


Denisha tersenyum malu-malu.


"Pasti ada yang mau lah, kamu cantik seperti ini."


"Saya juga sedang mencarikan jodoh untuk Rafli. Ya semoga saja ada wanita yang mau menerima Rafli apa adanya, dengan keadaannya yang seperti itu," kata Bu Rita lagi.


Denisha tidak menjawab, Namun Ia hanya tersenyum.


"Memangnya Mas Rafli belum ada calon ya Tante?"


"Ya begitulah, Saya rasa nggak ada wanita yang mau sama Rafli."


"Ah nggak usah ngomong begitulah Tante, pasti ada kok wanita yang mau menerima mas Rafli apa adanya."


"Sebenarnya, saya sih maunya kamu yang jadi istrinya Rafli, cuman ya saya sadar diri lah, Denisha."


"Sadar diri?"kenapa Tante.


"Saya yakin kamu dan mama kamu pasti nggak akan mau menerima Rafli."


Denisha tertunduk sambil mengulum senyumnya.


"Kalau belum coba kan, belum tahu Tante," kata Denisha sambil tersipu-sipu.


Bagaikan dayung bersambut, Bu Rita membelalakkan bola matanya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Beneran Denisha, saya sangat berharap agar kamu dan Rafli bisa bersama. Apa kamu masih mau menerima Rafli dengan keadaannya yang seperti ini?" tanya bu Rita semangat yang menggebu-gebu .


Denisha terdiam beberapa saat.


Sebenarnya dari dulu cinta saya sama Mas Rafli nggak pernah berubah Tante. Makanya, saat saya mengetahui Mas Rafli sakit, saya memutuskan untuk pulang dan menemuinya di rumah sakit."


Bola mata Bu Rita perlahan berembun.


"Benarkah Denisha? jika sampai saat ini kamu masih mencintai Rafli?"


"Iya Tante."


"Kalau begitu, kamu mau saya lamar kamu untuk Rafli?" kata Bu Rita.


Denisha kembali tersenyum sambil menundukkan wajahnya.


"Kalau Mas Rafli mau, saya nggak keberatan kok Tante."


Alhamdulillah! Wanita tua itu menatap Denisha dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Bu Rita segara menghambur memeluk Denisha.


"Terima kasih Denisha, Saya yakin hanya kamulah satu-satunya yang wanita yang bisa membahagiakan Rafli."


"Iya tante sama-sama. Semoga saja saya dan Mas Raffi bisa berjodoh kali," kata Denisha seraya menghapus air matanya.


"Baiklah kalau begitu, saya akan datang ke rumah orang tua kamu segera. semoga saja kali ini mama kamu tidak menolong menolak lamaran kami lagi."


"Iya semoga saja Tante, aku juga akan kasih pengertian ke Mama. semoga saja Mama mengerti kalau selama ini aku hanya mencintai mas Rafli."


"Masalah keturunan, aku dan mas Rafli juga sama-sama punya anak, jadi aku tidak mempermasalahkan jika suatu saat kamu memutuskan untuk tidak memiliki keturunan lagi untuk mencegah penularan penyakit itu."


Bu Rita semakin terharu, dipeluknya Denisha kembali.


"Ya Allah terima kasih Denisha, Akhirnya saya punya harapan untuk kebahagiaan Rafli, "kata bu Rita


"Iya Tante, saya juga berharap bisa hidup bahagia bersama pria yang saya cintai."


Mereka berdua saling melempar senyum bahagia.


"Ya sudah, kalau begitu kita masak dulu. Kita makan siang sama-sama, nanti saya bicarakan sama Rafli tentang lamaran ini. kamu juga tolong berikan pengertian kepada sama mama kamu ya."


"Iya pasti Tante ,saya akan bujuk Mama agar bisa menerima Mas Rafli."


"Alhamdulillah, Terima kasih Denisha."


"Sama-sama Tante."


Mereka kembali memasak sementara Rafli bermain bersama Cici.


Di ruang tamu Rafli memainkan rambut Cici yang diikat menyerupai ekor kuda. Saat itu cici duduk di pangkuanya.


Rafli mencium pipi Cici berkali-kali karena gemes melihat pipi cici yang padat dan bulat.


Sebenarnya ia begitu ingin memiliki anak perempuan dan memiliki keluarga lagi, hanya saja Ia seperti kehilangan harapan untuk membina kembali rumah tangganya akibat penyakitnya.

__ADS_1


Setelah Denisha dan bu Rita selesai memasak, mereka semua makan siang bersama. Makan siang saat itu terasa lebih nikmat di rumah Bu Rita, karena kehadiran Denisha dan juga Cici yang membawa keceriaan. Tak seperti biasanya mereka hanya makan siang berdua.


Bersambung


__ADS_2