Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Anak Ke 2


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Kini kandung Zakira sudah menginjak 9 bulan.


Rafli berada di depan ruang operasi, bersama Aufar mereka menunggu kelahiran anggota keluarga mereka yang baru.


Setelah satu jam di ruangan operasi. Rafli tak juga mendengar suara tangis bayi, perasaannya pun semakin cemas.


"Aduh kenapa tak terdengar suara tangis bayi nya."


Rafli masih menunggu dengan cemas kelahiran bayinya. Sambil  melirik tas besar yang ia bawa.


Bu Rita saat itu baru tiba di rumah sakit, setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Rafli. "Rafli bagaimana dengan keadaan Zakira?"


"Zakira masih di ruang operasi Bu."


Beberapa saat kemudian seorang suster datang mendorong kereta bayi.


Rafli dan Bu Mita menghampiri suster tersebut.


"Suster anak saya kenapa tidak menangis?" tanya Rafli.


"Kami sebentar lagi akan memeriksanya secara intensif, untuk mengetahui penyebabnya."


Perasaan khawatir mulai timbul di hati Rafli. "Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kondisi istri Anda saat ini sudah stabil dan sebentar lagi juga akan dibawa keluar dari ruang operasi."


Rafli dan bu Rita memperhatikan bayi laki-laki yang ada di di dalam box-nya itu.


"Permisi ya. Saya akan bawa bayinya ke ruang perawatan intensif" Suster itu pun membawa berlalu meninggalkan Rafli dan bu  Rita.


Mereka berdua hanya bisa menatap kepergian Suster itu dengan perasaan cemas dan khawatir.


Beberapa menit kemudian Zakira keluar dari ruang operasi. Rafli mengikuti   suster  yang mendorong tempat tidur Zakira dan masuk ke ruang perawatan.


Bu Rita menatap sinis ke arah Zakira yang masih menutup matanya karena belum sadarkan diri.


'Awas aja kalau terjadi apa-apa pada cucuku,' batin bu Rita.


Karena cucunya belum bisa ditemui, Bu Rita pun bermaksud untuk pamit undur diri.


"Rafli!" Panggil Bu Rita.


"Ya ada apa Bu?"


"Rafli Ibu pulang dulu ya. Percuma juga ibu datang kemari toh nggak bisa lihat anak kamu, anak kamu dirawat di ruang intensif."


Rafli terdiam beberapa saat. Dia kecewa atas sikap Bu Rita yang tidak pernah bersimpati terhadap istrinya.


"Ya Bu doakan anak Rafli agar selalu sehat."


'Iya Rafli. Tentu ibu akan doakan yang terbaik untuk cucu ibu."


Bu Rita pun pergi dari hadapan Rafli


***


"Ayah ibu sakit ya?" Tanya Aufar ketika melihat Zakira terbaring dengan menutup matanya.


"Ya Aufar  jangan nakal ya. Sebentar lagi kita akan lihat dedek Aufar."


'Dede Aufar yang mana Yah?"


"Itu yang berada di dalam tabung kaca bersama suster."


"Kenapa nggak dibawa ke sini saja Yah?" tanya Aufar.


"Dedek mau diperiksa sama suster. Aufar doain agar dede cepat sembuh ya."


"Iya Yah."


"Aufar  turun dulu ya, Ayah mau beresin barang-barang kita, biar rapi. Nanti malam kita kan mau tidur disini jagain bunda."


Aufar turun dari gendongan Rafli.


"Nih sayang, Aufar kamu main saja Yah. Ayah sengaja bawa mainan yang banyak untuk kamu biar kamu nggak bosen di sini."

__ADS_1


"Iya Yah."


Sementara Aufar main, Rafli membereskan barang-barang Zakira dan menaruhnya di atas nakas.


Beberapa saat kemudian Zakira membuka mata


kemudian mengerjap-nerjabkan  matanya.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Rafli. Sebenarnya ada perasaan khawatir dalam diri Rafli tentang kesehatan bayi mereka.


'Mas anak kita di mana?" Tanya Zakira.


"Anak kita masih di bawah ruang intensif untuk dilakukan pemeriksaan. Karena saat dilahirkan anak kita tidak menangis Zakira."


"Apa tidak menangis?" Zakira mulai mengkhawatirkan kondisi bayinya.


"Tapi dia baik-baik saja kan Mas?" Tanya Zakira.


"Semoga saja sayang, kamu tenang saja ya." Rafli berusaha menenangkan Zakira walaupun dirinya sendiri merasa khawatir tentang keadaan bayi mereka.


"Baik kita perempuan atau laki-laki Mas?"


"Tadi aku lihat di boxnya laki-laki. Hanya saja berat badannya cuma 2,5 kg."


Bola mata Zakira perlahan berembun.


"Kamu nggak usah sedih gitu Sayang. Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa pada anak kita."


Zakira menerawang dengan bola mata yang berembun.


'Ya Allah tolong selamatkanlah bayiku,' batin Zakira dengan tatapan kosong.


***


Rafli melihat kesedihan Zakira, Karena itulah Iya ingin melihat kondisi bayinya. Dia berharap anak mereka tidak menderita penyakit serius.


"Kamu di sini dulu ya, aku mau lihat keadaan anak kita," ucap Rafli ketika barang-barang itu sudah tertata di tempat yang semestinya


"Iya Mas, kamu bawa Aufar sekalian ya." 


"Ayo Aufar kita lihat dedek."


Rafli menggenggam tangan Aufar Mereka pun keluar dari ruang perawatan Zakira.


"Kita mau ke mana yah?" tanya Aufar.


"Mau lihat dedek."


"Oh lihat Dedek."


Aufar berjalan sambil memperhatikan sekitarnya. Karena Aufar anak yang aktif, sambil berjalan dia menghitung tiang tiang yang dia lewati.


Rafli mendengarkan secara seksama hitungan Aufar itu.


"102, 103 104."


"Aufar bisa menghitung sebanyak itu tanpa salah?" guman Rafli.


Rafli menang jarang menemani keseharian Aufar, sehingga dia tak tahu jika Aufar lebih cerdas dari rata-rata anak seusianya.


Mereka pun tiba di sebuah bangsal.


''Pediatric Intensive Care Unit."


Rafli begitu kaget mendengar Aufar bisa membaca papan nama yang ada di ruangan tersebut.


"Apa sekali lagi Aufar. Coba kamu baca?"


'Pediatric Intensive care units,"sebut Aufar lagi.


Rafli terdiam menatap Aufar.


"Aufar pintar sekali," gumamnya.


Rafli menghampiri suster dan menanyakan tentang bayinya.

__ADS_1


"Suster Bagaimana keadaan bayi saya?"


"Saat ini Kami sedang melakukan tes uji laboratorium ya pak. Alhamdulillah tadi bayi anda menangis, meski suaranya tidak begitu besar. Kami pun memeriksa keadaan jantungnya yang memang berdetak lebih kencang, namun masih dalam keadaan normal."


Perasaan Rafli sedikit lega mendengar penuturan suster.


"Aamin semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan bayi saya suster."


Setelah mengetahui keadaan bayinya, Rafli kembali menemui Zakira.


Sepanjang perjalanan Aufar terlihat sibuk menghitung langkah kakinya. Bahkan dia bisa menghitung langkah kakinya itu hingga hitungan ribuan.


Rafli mengamati Aufar. 


'Sepertinya Aufar memang beda dari anak seusianya,' batin Rafly.


Setelah mengetahui jantung bayinya normal, Rafli merasa sedikit tenang. Karena biasanya bayi yang tidak menangis saat dilahirkan, mengalami kelainan jantung.


Rafli pun tiba di ruangan Zakira.Rafli menceritakan Bagaimana Aufal bisa membaca tulisan dalam bahasa Inggris dan bisa menghitung hingga menembus angka ribuan.


Zakira  hanya tersenyum mendengar cerita kekaguman Rafli itu. Mereka juga masih mengkhawatirkan keadaan bayinya yang masih berada di ruang perawatan.


Sore harinya karena proses pemeriksaan bayi Zakira sudah selesai, Suster membawanya ke ruangan Zakira. Bayi itu pun disambut bahagia oleh Rafli dan Zakira.


***


Keesokan harinya Rafli dipanggil oleh suster untuk menemui dokter karena hasil pemeriksaan pada bayi mereka sudah keluar.


"Kebetulan saat itu Bu Rita juga ada di sana. Beliau ingin mendengar sendiri hasil pemeriksaan darah bayi Rafli."


"Oke baiklah."


Rafli dan Bu Rita duduk di hadapan dokter.


Jantung Rafli  terasa berdetak kencang karena ia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.


"Bagaimana keadaan bayi saya Dokter" tanya Rafli.


Dokter itu kembali membacakan laporan tes darah di laboratorium.


"Anak anda menderita penyakit thalasemia."


"Thalasemia, penyakit apa itu dokter?" tanya Bu Rita.


"Thalasemia adalah penyakit kelainan darah dan merupakan penyakit keturunan yang terjadi karena adanya gen yang cacat pada salah satu atau keduanya. Artinya, penyakit ini merupakan warisan dari orang tua yang diturunkan lewat genetik dan tidak menular."


Dokter pun menjelaskan secara rinci faktor kenapa bayi Rafli mengalami Thalasemia.


"Jadi seandainya istri anda hamil dan melahirkan lagi, maka besar kemungkinan bayi anda kembali mengalami penyakit Thalasemia."


Bagai tersambar petir bu Rita dan Rafli mendengar berita tersebut. Seketika tubuh Rafli terasa lemah.


'Itu berarti, jika saya mau punya keturunan yang bebas dari Thalassemia, anak saya harus menikah wanita lain dokter?"


"Kemungkinan besarnya seperti itu."


Rafli kembali kaget mendengar ucapan dokter. Ketika perasaan Rafli menjadi hancur. Dia hanya bisa terdiam dengan bola mata yang merah.


"Hiks, cucu kesayangan ku, kenapa kau menderita penyakit itu Cu. Itu pasti karena ibumu itu." bu Mita begitu sedih mendengar berita tersebut. Pasalnya dia begitu mendambakan kelahiran cucunya itu .


Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Rafli dan Bu Rita keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu dengarkan Rafli gen kamu dan gen Zakira itu tidak cocok. Jika kamu ingin punya anak yang sehat dan normal kamu harus menceraikan zakira agar anak kalian tidak mengalami penyakit langka kasihan cucu ku hiks."


Rafli menoleh ke arah Bu Rita.


"Ini semua gara-gara kamu juga Rafli. Ibu sudah bilang jika kamu memelihara anak haram itu di keluarga kamu, kamu akan mengalami kesialan. Kamu lihat sendiri kan cucu ibu harus menderita penyakit langka itu. Seumur hidupnya dia tidak akan pernah sembuh hiks" ucap bu Rita.


Perasaan Rafly bercampur baur kala itu, sedih, kecewa dan marah. Rafli berjalan dengan tatapan hampa. Menuju ruang perawatan Zakira.


Sementara bu Rita terus saja memaki dan menggerutu karena mengira jika penyakit yang dialami oleh bayi Rafli itu karena gen Zakira yang rusak.


Bersambung dulu ya gengs


 

__ADS_1


__ADS_2