Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Tamu Asing


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Rafli sedang menemani Zakira memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Sang dokter tersenyum melihat hasil tes urine yang dilakukan oleh Zakira beberapa saat yang lalu.


"Alhamdulillah selamat ya Bu, Anda positif hamil," ucap bidan itu pada Zakira.


"Alhamdulillah aku hamil Mas," kata Zakira sambil mengusap perutnya.


"Iya Sayang kamu hamil, ibu pasti senang mendengar ini."


"Saya resep kan vitamin, ibu harus lebih banyak istirahat dan lebih banyak makan makanan yang bergizi," ucap bidan itu sambil menyodorkan selembar kertas.


"Iya Bu terima kasih," kata Rafly sambil menggendong Aufar yang sebelumnya duduk di pangkuan Zakira.


Setelah pemeriksaan Mereka pun keluar dari ruang bidan.


"Alhamdulillah sebentar lagi Aufar akan punya dede," ucap Rafly sambil mencium pipi Aufar.


"Sayang, Bagaimana kalau aku ambil asisten rumah tangga untuk membantu kamu menjaga Aufa." 


"Asisten rumah tangga sepertinya nggak perlu deh Mas. Aku bisa kok mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri."


"Iya sayang aku tahu itu, tapi kamu dengar sendiri kan apa kata bidan tadi. Kamu nggak boleh capek jadi aku pikir, demi kesehatan kamu, aku akan cari asisten untuk kamu. Ingat loh sayang kamu pernah hamil dan pendarahan sampai harus bed rest di rumah selama beberapa bulan. Dan aku nggak mau kejadian itu terulang lagi."


"Ehm Iya deh Mas. Kalau memang itu keinginan kamu. Sebenarnya aku mikir, kalau kita bayar asisten rumah tangga tentu itu akan membebani kita."


"Tidak apa-apa sayang, lebih parah lagi jika kamu sakit karena kecapean."


"Ya udah deh terserah kamu saja."


"Nah gitu dong."


Rafli menelpon ibunya untuk memberitahukan berita gembira atas kehamilan Zakira.


"Yang bener Rafli? Zakira hamil?"


"Iya Bu Zakira hamil. Usia kehamilannya baru 8 Minggu."


"Alhamdulillah akhirnya calon cucuku sebentar lagi hadir di dunia."


"Baiklah Rafli biasanya kalau orang hamil itu kan suka ngidam-ngidam gitu. Coba deh kamu tanya Zakira dia mau makan, apa biar ibu yang masakin. Duh Senangnya mau punya cucu."


"Haha Iya Bu, nanti aku tanya Zakira dia mau makan apa. Pasti dia senang dengan masakan ibu."


"Iya Ayo cepat tanya Zakira, dia mau makan apa? biar Ibu bisa segera memasaknya. Ibu sudah tidak sabar untuk mengelus perut Zakira,  Rafli.


"Siap Bu."


"Jangan lama-lama loh mumpung masih pagi, ibu bisa belanja-belanja."


"Iya, nih Rafli langsung tanya.*


Bu Rita memutus kan sambungan teleponnya.


Tiba-tiba saja dia mendengar suara mobil  berhenti di depan rumahnya.


Bu Rita keluar dan kaget ketika melihat sebuah mobil mewah terparkir ,di depan rumahnya dan yang membuatnya kaget lagi ketika pintu mobil terbuka seorang bule cantik keluar dari mobil tersebut.


 Bu Rita menatap heran ke arah bule yang berjalan menghampiri rumahnya.


"Siapa orang itu?  mau apa di kemari?" gumam Bu Rita mengintip dari kaca jendela.


"Excuse me!" Seru bule itu.


Bu Rita menghampiri bule di depan pintu.


Dia bingung jika harus berbicara bahasa Inggris.

__ADS_1


"Permisi," ucap bule lagi barulah bu Rita keluar.


"Iya, mau cari siapa?" Tanya Bu Rita.


"Saya mau cari Rafli dan Zakira ada?" Tanya bule itu lagi.


"Rafly dan Zakira tidak tinggal di sini. Memangnya ada perlu apa anda mencarinya?"


"Oh tidak saya hanya memastikan jika ini rumah Rafli dan Zakira."


"Iya ini rumah orang tua Rafli dan Zakira."


"Kalau begitu,  saya mau tanya, apa benar Zakira memiliki anak berusia sekitar 2 tahun?" tanya Lauren.


Bu Rita menatap curiga ke arah bule tersebut dipandangnya Lauren dari atas hingga ke bawah.


Siapa bule ini kenapa dia tahu jika Rafli dan Zakira punya anak berusia 2 tahun.


"Iya benar namanya Aufar. emangnya ada apa?" Tanya Bu Rita dengan nada sinis.


"Oh tidak ada apa-apa, hanya ingin memastikan saja. Apa boleh saya tahu, alamat Rafli dan Zakira saat ini?"


"Mereka tinggal di mess jalan Adisucipto."


"Oh ya sudah kalau begitu Terima kasih ya Nyonya."


"Iya."


Bu Rita menatap kepergian Lauren dengan heran..


"Si bule itu kenapa ya mencari Rafli dan Zakira, cari si anak haram itu lagi," dengus bu Rita.


***


Sore harinya bu Rita datang membawa sayur asem, karena Zakira sedang ingin makan sayur asem.


"Waalaikumsalam," sahut Rafli sambil bergegas membukakan pintu.


Saat itu  Aufar sedang main mobil mobilan di ruang tamu. Mendengar ada yang mengucapkan salam Aufar pun mengikuti Rafli.


Kreak …pintu rumah pun terbuka.


"Eh Ibu," sapa Rafli.


"Ibu datang bawakan sayur Asem untuk Zakira, Nih." Bu Rita menyodorkan rantang berisi sayur.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Bu."  Rafli mengantar makanan ke dapur.


"Ibu duduk dulu ya, Zakira sedang mandi Bu!" Seru Rafli dari dapur 


"Iya." Bu Rita mendaratkan bokongnya di atas sofa yang ada di ruang tamu.


Aufar menghampiri Bu Rita. Melihat Aufar yang mendekatinya bu Rita segera membuang wajahnya.


"Oma!" Panggil Aufar. Bu Rita melorotkan bola matanya ke arah Aufar.


"He diam,saya bukan Oma kamu. Sana, sana jangan deket-deket ya."


Aufar yang baru berusia dua setengah tahun itu tidak mengerti. Dia terus mendekati bu Rita bermaksud untuk mengajaknya bermain 


"Oma!" panggilnya lagi  dengan nada manja.


Bu Rita melotot bola matanya. "Hus sana! Jangan dekat-dekat," ucapnya sambil menepiskan tangan Aufar yang menarik gamisnya.


Aufar tertunduk sedih. Dia menatap bu Rita dengan tatapan berembun.


"Aufar! Mandi dulu Nak!" panggil Zakira.


Aufar pun menoleh kemudian berjalan menghampiri Zakira.

__ADS_1


Setelah mandi dan memakai Aufar pakaian Zakira keluar menemui bu Rita.


"Ibu dari mana?" tanya Zakira sambil mencium punggung tangan bu Rita.


"Dari rumah. Bawain kamu sayur asem, katanya kamu ngidam sayur asem."


"Oh iya Bu, terima kasih ya."


"Aufar sudah salim sama oma Nak?" tanya Zakira.


"Gak mau, Oma jaat!"


Bu Rita membelalakkan bola matanya. 'Anak ini bisa-bisanya ngatain saya jahat,' batin Bu Rita 


Zakira tersenyum.


"Gak boleh gitu, ayo salam sama Oma," bujuk Zakira.


"Permisi!" Terdengar suara seseorang di depan pintu.


"Iya!" Zakira menghampiri seseorang di depan pintu. Zakira kaget ketika melihat seorang wanita bule berdiri dan tersenyum kepadanya.


"Oh anda siapa ya?"


 tanya Zakira


"Perkenalkan saya Lauren dari Amerika." Lorent memperkenalkan diri.


Bu Rita kembali menatap Laurent.  'Bule ini lagi,' batinnya.


"Saya Zakira, silahkan masuk."


Lauren pun masuk dan duduk di sofa.


Mendengar ada tamu, Rafli pun ikut duduk di sofa.


Lauren melirik ke arah Aufar, Kemudian tersenyum.


'Dia mirip Reymond,' batin Lauren.


"Ada perlu apa ya?" tanya Zakira.


Begini saya dari perusahaan Amazing dari Amerika serikat. Anak anda Aufar, mendapatkan hadiah khusus dari perusahaan kami.


"Hadiah apa?" tanya Zakira.


"Aufar akan mendapatkan beasiswa dari prasekolah sampai kelak dia kuliah dan semuanya akan ditanggung oleh perusahaan kami."


Zakira kaget mendengar ucapan Loren yang sedikit tak masuk akal. Begitu pun Rafli dan bu Rita.


Melihat ekspresi ketiga orang tersebut, Lauren berusaha menjelaskannya.


"Anda tentang saja, kami tidak memungut bayaran sedikitpun. Justru kami ingin memberikan hadiah ke dua bagi Aufar."


Baik bu Rita, Rafli maupun Zakira sendiri bingung dengan ucapan bule tersebut.


Lauren kemudian mengeluarkan sebuah ATM dan menyerahkan pada Zakira 


"Ini ATM milik Aufar, berisi uang 30 juta rupiah saat ini . Setiap bulan kami akan transfer 30 juta sebulan untuk kebutuhan Aufar."


Seketika bola mata bu Rita terbelalak kaget. Begitu pun  Rafli dan Zakira yang saling pandang memandang karena kaget dan bingung.


"Nanti setiap bulannya kami akan mengirimkan Aufar uang sebesar tiga puluh juta, uang itu bisa digunakan untuk berbelanja kebutuhan Aufar sebulan," ucap Lauren lagi.


'Tiga puluh juta sebulan?' batin Bu Rita.


 


.

__ADS_1


__ADS_2