Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Datang Untuk Memecah Belah


__ADS_3

Setelah dari ruang pemeriksaan dokter. Rafli menghampiri ruang perawatan Zakira.


Wajah Rafli tertunduk lesu ketika memasuki kamar itu. Membuat zakira bertambah cemas.


"Ada apa mas? Apa anak kita baik-baik saja?" Zakira mulai terlihat panik.


Rafli mengusap tangan Zakira. "Anak kita menderita thalasemia. "


"Hah? Thalasemia?"


"Iya Sayang kamu yang sabar ya."


Bola mata zakira mulai berembun. Ditatapnya bayi yang ada di sampingnya.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini, hiks."


"Sabar Sayang, selama kita bersama, kita akan bisa menghadapi cobaan ini. Kamu harus kuat agar anak kita juga kuat," ucap Rafli sambil mengusap kepala Zakira.


"Ayah, Aufar mau melihatnya dede boleh?" tanya Aufar.


"Boleh." Rafli menggendong Aufar kemudian mendekatkan Aufar ke putranya mereka.


"Cup…Sayang dede cup…" Aufar mencium pipi bayi itu.


"Aufar sayang sama dede Nak?"


"Sayang Yah." Aufar duduk di samping Zakira kemudian mengusap kepala adiknya.


"Kalau gitu, sebagai Mas, Aufar harus bisa menjaga dedek ya, apalagi jika ayah sedang tugas ke luar kota."


"Iya Yah.Aufar kan sayang dede."


 Rafli mengusap kepala Aufar. Rafli baru merasakan hikmah dari cobaan yang pernah ia dapatkan. Jika saja tak ada Aufar, mungkin mereka tak akan memiliki keturunan yang sehat. 


"Sayang dedek." Aufar kembali mencium bayi itu.


Zakira menghapus air matanya. 


"Yang sabar ya Sayang. Seperti apapun anak kita, kita akan rawat bersama."


"Hiks iya Mas. Seperti apapun anak ku, aku akan menyayangi sama seperti aku menyayangi Aufar." Zakira mencium lekat kepala bayinya.


Mereka berempat pun saling memeluk untuk saling menguatkan..


***


Setelah beberapa hari dirawat, Zakira diperbolehkan untuk pulang. 


Pagi ini Rafli bersiap untuk berangkat kerja. Dilihatnya sang istri yang masih terlihat pucat dan lemah tengah berbaring di atas tempat tidur.


Sebenarnya dia tak tega meninggalkan Zakira dengan anak-anak yang masih kecil karena kondisi yang belum stabil. Namun apa daya, tugasnya sebagai abdi negara tak bisa diabaikan.


Rafli menghela nafas panjang.


"Ya Allah, aku gak mungkin meninggalkan Zakira, Aufar dan bayi ku dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka semua, sedang tak ada yang menolong mereka."


Rafli menghempaskan nafas kasarnya. Perasaannya terasa begitu berat.


"Apa aku minta tolong sama ibu saja ya untuk menjaga Zakira," guman Rafli.


Rafli terus berpikir dan menimbang-nimbang. Bak buah simalakama. Akhirnya Rafli memutus untuk menghubungi bu Rita, Karena dia lebih mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.

__ADS_1


"Halo assalamualaikum bu," sapa Rafli di sambungan teleponnya.


"Waalaikumsalam Ada apa Rafli menelpon ibu. Pasti kamu butuh sesuatu?"


Perasaan tak enak mulai menggelayut di hati Rafli. Tapi dia buru-buru menepisnya.


"Bu Rafli boleh minta tolong gak?"


"Boleh, minta tolong apa?" sahut bu Rita dengan ketus.


"Bu Rafli mau berangkat tugas, boleh gak Rafli titip Zakira dan anak-anak Rafli?"


"Huh! Boleh saja sih."


"Alhamdulillah kalau begitu terima kasih Bu."


"Iya Rafli."


Setelah memutus sambungan teleponnya, Rafli menghampiri Zakira.


"Sayang, karena Mas harus pergi kerja, kamu jaga diri baik-baik ya. Nanti ada ibu yang akan membantu kamu."


"Ibu Mas. Kenapa harus minta tolong pada ibu, aku bisa sendiri kok."


"Nggak bisa Zakira. Melihat sendiri kondisi kamu seperti itu. Dan kondisi bayi kita yang juga seperti itu. Belum lagi Aufar yang pasti butuh sesuatu dan harus membuat kamu banyak  bergerak. Sudahlah sayang, apapun yang dikatakan ibu kamu anggap saja seperti angin lalu. Biar saja dia mau bicara apa. Penting ada orang untuk menjaga dan membantu kamu selama aku pergi kerja."


Zakira menundukkan wajahnya. Dia sangat keberatan jika Bu Rita harus berada di rumahnya. Namun karena itu atas permintaan Rafli, mau tak mau Zakira menuruti.


"Mas  pergi dulu ya. Oh ya tadi pagi Mas sudah masak untuk kamu. Kalau kamu lapar kamu tinggal makan saja."


"Peralatan bayi juga ada di tempat tidur. Semua sudah lengkap."


"Iya Mas terima kasih." Zakira mencium punggung tangan suaminya sebelum Rafli berangkat kerja.


Rafli menghampiri Aufar yang sedang bermain di sekitaran kamar mereka.


"Aufar, Ayah pergi dulu ya nak. Aufar jangan nakal. Aufar harus bisa bantu ibu jaga adik."


"Iya Yah."


Rafli mencium pucuk kepala Aufar sebelum ia berangkat kerja.


***


Zakira membuka matanya karena mendengar suara berisik di dapur.


Zakira melirik penunjuk waktu yang menunjukkan pukul 12.00 siang.


Karena tubuhnya yang masih lemah Zakira pun bangkit dengan perlahan. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan itu. Coba mencari keberadaan Aufar.


Ting ting bunyi di dapur masih terdengar.


"Aufar!"Panggil Zakira.


Beberapa saat kemudian Aufar datang dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan sayur dan tempe goreng.


"Iya Bunda."


"Hati-hati Nak!" Zakira begitu ngeri melihat kaki kecil Aufar melangkah sambil membawa sepiring nasi.


Aufar memberikan piring itu pada Zakira.

__ADS_1


"Bunda makan dulu, setelah itu minum obat."


"Aufar ingat jadwal Bunda minum obat?"


"Ingat Bunda, jam dua belas. Sebelum minum obat bunda harus makan dulu."


Zakira tersenyum penuh haru.


"Terima kasih sayang. Sini Aufar makan sama bunda."


"Aufar sudah makan Bunda, nih perut Aufar jadi sebesar ini." Aufar memperlihatkan perutnya yang memang sedikit buncit.


"Ehm anak bunda memang pintar."


Aufar tersenyum kemudian dia mendekati adiknya dan mencium adiknya." Bunda adik kok cuma tidur saja sih."


"Iya adik bangun paling hanya menyusu."


Selesai Zakira makan, Aufar mengisi gelas dengan air kemudian memberikannya kepada Zakira.


Aufar juga membawa obat-obatan untuk Zakira.


"Minum obat dulu Bunda."


'Ternyata anakku pintar, dia gak merepotkan justru membantu ku,meski umurnya baru tiga tahun.' batin Zakira.


Setelah makan, Zakira kembali beristirahat. Sementara Aufar kembali bermain.


Pada pukul 03.00 sore, bu Rita baru tiba di rumah mereka.


"Assalamualaikum," ucap bu Rita sambil menekan handle pintu Kemudian masuk.


"Waalaikumsalam," sahut Aufar dan juga Zakira.


Zakira kaget dengan kedatangan Bu Rita. Rasanya kehadiran mertuanya itu sudah tidak diperlukan lagi karena sebentar lagi Rafli juga pulang.


"Aku kemari atas permintaan Rafli. Jika saja Rafli tidak memintaku aku nggak akan sudi datang kemari."


Bu Rita masuk ke kamar kemudian menghampiri bayi Zakira yang tertidur.


"Zakira, Kamu tahu nggak kenapa kamu melahirkan anak yang menderita thalasemia?"


"Tau Bu, Thalasemia itu akibat salah satu gen dari kedua orang tuanya mengalami penyakit thalasemia. Atau perpaduan kedua gen orang tua tidak cocok sehingga menimbulkan kelainan darah pada keturunannya."


"Nah bener!"


"Kalau kamu tau diri, sebaiknya kamu pergi dari hidup Rafli. Kamu nggak mau kan punya keturunan yang menderita thalasemia terus," ucap Bu Rita.


"Apa kedatangan Ibu kemari hanya untuk mengatakan itu?" tanya Zakira.


"Ya tentu saja. Kau dan Rafli bisa hidup bahagia memiliki keturunan yang sempurna, seandainya kalian berdua memilih jalan untuk berpisah."


" Bu, penyakit Thalasemia memang ada. Dan semua terjadi atas seizin Allah. Kami bertahan dengan rumah tangga yang sudah kamu bina karena Allah. Kami pasrah atas kehendak Allah terhadap kami. Jika Allah menghendaki keturunan kami seperti itu, maka kami ikhlas. Namun kami yakin kami mampu menghadapinya," tutur Zakira sambil meneteskannya air matanya.


"Kamu sih enak Zakira. Kamu sudah punya Aufar anak kamu yang sempurna. Sementara Rafli hanya memiliki anak cacat."


"Cukup Bu! Saya dan Mas Rafli tak pernah menganggap anak kami cacat. Kami tetap bahagia atas kelahirannya. Jika kedatangan Ibu kemari hanya untuk memecah belah rumah tangga saya dan Mas Rafli. Lebih Baik Ibu tidak usah datang sama sekali."


Bu Rita seketika terdiam. Diletakkannya bayi itu kembali di samping Zakira. Dengan menghentakkan kaki Bu Rita melangkah keluar dari kamar Zakira.


 

__ADS_1


 


__ADS_2