Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Jalan Yang Salah


__ADS_3

Setelah berhasil menuang racun di minuman Zakira, wanita yang mengenakan seragam suster itu keluar dari ruangan tersebut dengan berjalan melenggang.


Setelah tugasnya, selesai dia menghampiri mobil yang sudah menunggunya.


"Bagaimana berhasil?"  tanya seorang pria yang sedang menyetir.


Berhasil, tapi aku tidak tahu apa minuman itu di minum oleh Zakira. Sebelumnya aku sudah melihat suaminya pergi dengan menggunakan pakaian dinas. Dan aku yakin tak ada orang lain yang meminum minuman itu kecuali Zakira. Karena Zakira di tinggal seorang diri."


"Baiklah. Kalau begitu beritahu pada Reymond jika  tugas kita sudah selesai dan minta bagian kita."


Wanita itu menghubungi seseorang melalui sambungan teleponnya.


"Halo," terdengar suara berat di seberang telepon.


"Halo Remon kami sudah melaksanakan tugas dengan baik."


"Apa kau sudah memastikan jika Zakira yang meminumnya."


"Sudah. Karena saat ini suaminya sedang bekerja. Dan tak ada yang menunggu Zakira di sana."


"Baiklah. Akan ku transfer uang kalian," pungkas Reymond memutus sambungan teleponnya.


***


Reymond kini tinggal di Amerika karena melarikan diri. Sebelumnya dia sudah merencanakan untuk meracuni Reymond membayar orang untuk mengawasi Zakira.


Reymon tersenyum menyeringai di depan cermin mendengar keberhasilan rencananya. Dia pun mentransfer uang melalui m bankingnya.


Setelah itu ia  menulis sebuah surat di selembar kertas setelah selesai Reymond pun menandatangi sutat tersebut.


"Jika kau tak bisa aku miliki, kau pun tak akan bisa dimiliki oleh orang lain Zakira. Kita akan mati bersama dan kita akan bertemu di kehidupan selanjutnya."


"Di dunia ini kita sudah tak mungkin bersama. Kau pasti mengira aku ini orang jahat, padahal kau tidak tahu, aku sudah melakukan banyak cara untuk mendapatkan mu. Kau tidak tahu, betapa sakitnya mendapatkan penolakan berkali-kali. Kau lebih memilih laki-laki itu daripada aku!"


Reymond menatap dirinya di depan cermin kemudian tertawa.


"Haha, sekarang kita akan bersama Zakira kita akan mati bersama. Tunggu lah aku."


Reymond melirik sebuah botol putih kecil yang ada di atas nakasnya . Kemudian ia meneguk minuman itu sampai habis.


Tiba tiba Reymond merasakan tenggorokan terasa terbakar, seketika dia kesulitan untuk bernafas dan beberapa saat kemudian Reymond tergeletak di lantai dengan tubuh kejang-kejang.


Reymond tersenyum dalam sakaratul mautnya, dia berharap bisa bertemu dan bersama Zakira di kehidupan yang kedua.


Tubuh Reymond semakin berguncang karena kejang-kejang. Beberapa saat kemudian tubuhnya mengaku secara perlahan dari ujung kaki hingga ke bagian dada. Bola mata Reymond membelalak seperti ingin keluar karena merasakan dahsyatnya ketika ruh dikeluarkan dari jasadnya.


Buih yang keluar dari mulut Reymond semakin banyak dan baru berhenti ketika tubuhnya mengejang kaku.


Reymond menghembuskan nafas terakhirnya dengan sia-sia. Ternyata harta dan semua yang ia miliki membuatnya tak pernah merasa bahagia.


Penyakit Skizofrenia yang dideritanya membuat Reymond tersiksa. 

__ADS_1


Tak ada yang tahu tentang penyakit Reymond tersebut.


Beberapa saat setelah kematiannya Reymond ditemukan oleh asisten pribadinya yang bermaksud untuk membersihkan ruangan tersebut.


Selain jasad Reymond di temukan juga surat wasiat yang sudah ditandatangani.


Dalam surat tersebut, Reymond meminta kakak kandungnya untuk mencari keberadaan anak biologisnya. Yakni anak yang dilahirkan oleh Zakira.


Reymond menuliskan alamat lengkap kediaman Rafly, nama Rafly dan Zakira serta tanggal lahir dan rumah sakit dimana bayi itu dilahirkan untuk memudahkan pencarian.


Dalam surat itu Reymond menyerahkan seluruh hartanya untuk anaknya, ketika anak itu berusia tujuh belas tahun. Reymond meminta kakaknya yang tinggal di Amerika itu untuk menjaga hartanya tersebut.


Setelah kematian Reymond. Sang asisten menghubungi pihak keluarga agar Reymond segera disemayamkan dan dimakamkan dengan layak.


***


Pak Rusli sedang memakai kemejanya.


"Ayo Bu,kita ke rumah sakit."


"Tidak mau Yah. Aku tidak sudi karena anak yang dilahirkan Zakira itu bukan daging kita. Apalagi setelah Ibu tahu jika hanya biologis anak itu adalah seorang pembunuh, seorang penjahat. Ibu khawatir Rafly akan terus mendapat kesialan karena anak itu."


"Sudahlah Bu, Jika kamu tidak menyukai menantu mu dan juga anak yang dilahirkannya,kita datang untuk menghargai perasa Rafli saja."


"Ayah saja yang pergi. Aku nggak sudi. Karena Rafly lebih memilih perempuan itu daripada aku."


"Bu jangan begitu! Kalau ayah disuruh milih antara istri dan orang tua. Ayah juga gak bisa memilih. Udahlah buang saja egomu itu, kita sudah tua Bu."


"Ayolah Bu. Kita hanya datang untuk menghargai Rafli. Bagaimana pun Rafli itu anak kita satu-satunya harapan kita di masa tua. Sebagai orang tua, kita harus menunjukkan kepedulian kita agar anak kita juga berbakti kepada kita."


Pak Rusli terus saja membujuk bu Rita agar ikut  pergi ke rumah sakit. 


Akhirnya setelah dibujuk oleh Pak Rusli, Bu Rita luluh  juga. Mereka bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di sana Pak Rusli langsung menghubungi Rafli.


"Halo Assalamualaikum," terdengar suara serak dan parau pada sambungan telepon.


"Rafli kamu kenapa?"tanya Pak Rusli yang menerka keadaan putranya sedang tak baik-baik saja.


"Zakira Yah."


"Iya Zakira  kenapa Nak."


"Zakira di racun orang Yah."


"Hah diracun orang! 


"Iya Yah sekarang Zakira berada di ruang ICU sedang ditangani secara intensif."


"Kebetulan Ayah sudah berada di rumah sakit ini Rafli. Ayah akan segera ke sana nak."

__ADS_1


Pak Rusli dan bu Rita segera menghampiri Rafly di ruangan ICU.


"Bagaimana keadaan Zakira, Rafli?" tanya Pak Rusli ketika mereka saling berhadapan.


"Tidak tahu Yah, saat ini  Zakira masih belum sadarkan diri."


"Menurut kamu siapa pelakunya Rafli?"


"Tidak lain dan tidak bukan pasti  Reymond."


Bu Rita menyunggingkan senyum sinis.


"Apa ibu bilang Rafli. Mungkin saja si Remon bukan ingin membunuh Zakira, tapi dia ingin membunuh kamu. Untung saja yang terkena racun itu zakira bukan kamu," uca bu Rita dengan ketus.


'Ibu ngomong apa sih! Biar bagaimana Zakira  itu kan menantu kita. Istrinya Rafli, kalau terjadi apa-apa pada Zakira kita juga repot."


"Nggak kok Ibu nggak repot. Ngapain repot dia juga bukan anak kita. Anak yang dilahirkannya juga bukan cucu kita. Rafly saja  yang bodoh, masih mau menerima Zakira seperti nggak ada perempuan lain saja."


Rafli menatap sinis ke arah Bu Rita.


"Bu kalau ibu datang ke sini cuman mau mengata-ngatai Zakira lebih baik Ibu tidak usah datang, saat ini Raffi sedang sedih karena Zakira dalam keadaan kritis. Bukannya membantu berdoa Ibu malah berkata yang enggak-enggak."


Pak Rusli menepuk pundak Rafli.


"Sabar ya Nak ini ujian."


"Iya Yah. Tapi ibu selalu saja memojokkan aku," tutur Rafli dengan sedih 


"Sudahlah jangan dengar kata ibumu. Mari kita sama-sama berdoa untuk Zakira."


"Iya Yah."


Mereka pun berdoa untuk kesembuhan Zakira.


Setelah berbincang-bincang dengan Rafli mereka pun memutuskan untuk pulang tanpa menemui bayi yang dilahirkan oleh Zakira.


***


Suster mengganti popok bayi Zakira.


"Aduh pupuknya habis lagi."


"Aku tuh heran sama ayah bayi ini,"ucap suster pada rekannya.


"Loh kenapa?"


"Sudah 3 hari anak ini ada di ruangan ini, tapi tak sekalipun ayahnya melihat. Sepertinya ayahnya tidak peduli sedikitpun."


"Oh ini bayinya Zakira yang dirawat di ruang ICU itu kan."


"Iya. Kasihan sekali ya anaknya. Masak suaminya nggak mau lihat anaknya meski sebentar saja."

__ADS_1


"Hooh. Padahal ruang ICU dan ruang perawatan bayi kan dekat. Kasihan banget kamu dek, ucap Suster itu sambil menimang bayi Zakira 


__ADS_2