
Rafli menghampiri Zakira untuk pertama kalinya, setelah dua Minggu mereka tak bicara.
"Ini uang belanja untuk kamu," ucap Rafli sambil menyodorkan uang tersebut pada Zakira.
Zakira meraih uang tersebut, sebenarnya dia tak enak hati untuk menggunakan uang dari suaminya.
Itu juga karena Rafli tak pernah meminta haknya lagi.
Rafli langsung berlalu meninggalkan Zakira.
Zakira menghitung uang yang diberikan oleh Rafli dan masih sama dengan jumlah yang biasanya Rafli kirimkan.
Zakira pun menyimpan uang itu.
Beberapa saat kemudian Rafli kembali lagi menghampiri Zakira.
"Oh ya, ada yang ingin aku katakan pada mu," ucap Rafli sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Apa?"
"Aku ingin kau berkenalan dengan calon istri ku."
"Calon istri? Untuk apa berkenalan dengan calon istrimu ? Setelah menikah aku juga akan pergi dari sini. Jadi silahkan kau menikah lagi tak ada urusannya denganku."
Zakira mencoba untuk menahan dirinya agar tak menangis.
"Dia yang minta, katanya dia ingin bertemu denganmu dan bicara dengan mu."
"Untuk apa? Apa dia meminta pembenaran untuk bisa memilikimu, meski kau masih berstatus suami ku? Aku tak akan melegalkan perselingkuhan."
Rafli menoleh ke arah Zakira dengan kesal.
"Apa? Kau bicara seperti itu seakan-akan kau itu wanita yang paling suci! Apa kau sadar apa yang terjadi padamu sekarang. Kau mengandung anak haram!"
"Cukup Mas?" Bentak Zakira
"Kau boleh menghinaku, mencaci maki ku! Tapi kau jangan pernah menyebut anak ku ini anak haram. Anak ini tak tahu apa yang terjadi pada ku, seperti dirimu yang juga tak tahu apa yang terjadi padaku hingga aku mengandung anak ini. Jika kau tak mau mendengar penjelasan ku dan tak mau menerima ku, silahkan saja! Tapi jangan pernah kau sebut anak ini anak haram, aku tak akan terima!"
Zakira menghampiri Rafli, kemudian menggembalikan uang yang diberikan oleh Rafli.
"Jika merasa telah menafkahi ku kau bisa bertindak semena-mena terhadap ku! Maka ambil saja uang ini! Kau gunakan saja uang ini untuk keperluan mu!" ucap Zakira dengan bibir yang gemetar.
Rafli menatap Zakira dengan lekat. Zakira segera membuang wajahnya dan pergi meninggalkan Rafli kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Zakira kembali menangis selama beberapa saat, setelah itu Zakira kembali seperti biasanya. Zakira pikir berlarut dalam kesedihan takkan berubah keadaannya. Dia harus bangkit karena kini tak ada lagi tempatnya untuk bersandar.
***
Keesokan harinya Zakira menyiapkan sendiri makanan yang akan dibawanya ke kantor.
__ADS_1
Zakira harus bisa menghemat pengeluarannya sebagai persiapan setelah dia persalinan.
Zakira mencoba untuk tak menggunakan uang yang diberikan oleh Rafli, uang tersebut masih Rafli letakkan di atas meja.
Setelah siap, Zakira pergi ke kantor tanpa mengambil uang itu.
Rafli menghampiri sofa dan mengambil kembali uang itu.
Setibanya di kantor, Zakira langsung menuju meja kerjanya. Dia melihat ternyata Sinta juga sudah masuk kerja.
"Hay Za, kok muka lo layu gitu sih?"
Zakira tertunduk dengan bola mata yang berkaca-kaca.
" Lo habis nangis ya?" terka Sinta.
"Iya Sin. Lo tau gak sekarang gue hamil."
"Wah bagus dong, kalau begitu selamat ya Za."
Zakira menundukkan wajahnya.
"Loh kok lu tambah sedih sih, Za?"
"Gue bukan hamil anak Mas Rafli Sin. Gue hamil dari perkosaan di malam itu."
"Astaga Za! Terus si Rafli tahu?"
"Tau Sin, dan Setelah gua melahirkan, Rafli akan menceraikan gue. Bahkan saat ini saja dia sudah memiliki calon istri pengganti gue Sin."
"Iya Sin, gue sedih sekali. Apalagi mas Raffi dan keluarganya selalu mengatakan jika anak yang gue kandung adalah anak haram."
"Iya Za, gue tahu bagaimana perasaan lo. Yang jelas lu jangan pernah gugurkan anak itu Za. Siapa tahu anak itu akan membawa berkah dalam kehidupan lu nantinya. Jika Rafli benar-benar mencintaimu harusnya dia percaya pada loh dan menerima lo apa adanya."
"Iya Za, tapi gak ada yang percaya sama omongan gue." Bulir bening menetes di pipi Zakira.
Ketika sedang asyik berbincang, Raymond tiba di hadapan mereka. Raymond menatap wajah Zakira yang terlihat sedih.
"Zakira, ada apa? Kamu punya masalah?" tanya Reymond.
"Ah tidak ada Pak." Zakira buru-buru menghapus air matanya. Mereka pun kembali bekerja dan Reymon kembali ke ruangannya.
***
Pukul 04.30 sore, Zakira tiba di rumah, dan langsung mendaratkan bokongnya di atas sofa di ruang tamu.
Tak lama berselang, Rafli juga pulang. Tapi ia membawa seorang wanita.
Zakira menduga itu adalah kekasih suaminya.
Sebenarnya Zakira malas untuk bertemu wanita itu. Namun karena dia sudah sampai di rumah, mau tak mau Zakira menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Ayo masuk Denisa," ajak Rafli.
"Eh kamu sudah pulang Za, kebetulan aku bawa Denisa untuk bertemu dengan kamu."
Denisha tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Zakira.
Setelah berkenalan dengan menyebut nama masing-masing Denisha duduk.
Zakira memasang wajah tak bersahabat saat itu ,dia berharap wanita itu segera pergi dari rumahnya.
"Apa kabar kamu Zakira?" tanya Danisha.
"Tak perlu berbasa-basi seperti itu, Katakan saja apa maksudmu datang ke rumahku?" tanya Zakira.
Rafly melirik ke arah Zakira seraya membelalakkan bola matanya.
Denisa tersenyum miring.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin bersilaturahmi."
"Bersilaturahmi atau mau pamer kemesraan di depanku?" tanya Zakira tegas.
Zakira beranjak dari tempat duduknya.
"Silahkan saja kalian melakukan apapun yang kalian mau. Tapi sebaiknya jangan lakukan di rumah ini."
Zakirah menoleh ke arah Rafli.
"Mas Rafli, aku bisa mengadukan kepada atasanmu jika sekali lagi kau membawa wanita ini ke dalam rumah kita," pungkas Zakira seraya berlalu dari Rafli, tapi ia kembali lagi menghampiri Rafli seakan tidak puas.
"Ingat Mas Rafli, pria terhormat tidak menjalin hubungan dengan dua orang wanita sekaligus. Apa kau pikir dengan mendapat izin dariku kau bisa berbuat seenaknya."
" Aku masih istrimu dan aku masih punya hak di rumah ini. Karena itulah aku minta kau bawa wanita ini keluar atau kalau tidak akan ku sebar berita perselingkuhan kalian."
Mendengar itu Rafli tersulut emosi.
"Apa kau mengancamku?! Bukannya kau yang berselingkuh?!"
"Kau menuduhku berselingkuh, tapi kau tidak punya bukti!"
"Tidak punya bukti bagaimana? lihatlah perutmu yang sudah membuncit itu."
"Ya, Aku mengakui aku hamil bukan darimu, tapi dengan tegas kukatakan aku tak pernah selingkuh! Demi Tuhan, aku hamil karena di perkosa oleh seseorang."
"Cih, tetap saja kau itu wanita kotor!"sahur Denisa.
Zakira menoleh ke arah Denisa kebetulan dia tepat berada di samping Denisha, plak… satu tamparan mendarat secara tiba-tiba di pipi Denisa.
Seketika Denisa membelalakkan bola matanya sambil menyentuh pipinya yang terasa panas itu.
"Aku memang hamil bukan dari benih suami ku, tapi itu bukan karena aku menginginkannya. Sementara kau sendiri menganggap dirimu suci, tapi kau terang-terangan merebut suami orang lain! Lalu Siapa yang lebih kotor di antara kita?!"
__ADS_1
Denisa dan Rafly hanya bisa membelalakkan bola matanya menatap Zakira yang pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Bersambung gengs