Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Dilema Besar


__ADS_3

Ketika sedang menggendong anaknya, Raffi mendapat telepon dari ayahnya.


"Halo assalamualaikum Yah?"


"Waalaikumsalam Rafli. Ayah sedang berada di rumah sakit. Ibumu sedang menjalani operasi patah kaki Rafli."


"Patah Kaki?" Rafli begitu kaget mendengar berita yang disampaikan oleh ayahnya. Entah apa lagi yang dibicarakan oleh ayahnya itu.


"Oke Yah, sebentar lagi Rafli ke sana."


Rafli meletakkan handphone tersebut sambil meletakkan bayi mereka yang sudah tertidur lelap.


Zakira keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri Rafli.


'Mas, mau kemana?"


"Mau ke rumah sakit melihat ibu."


"Ibu, ibu kenapa?"


"Kata ayah ibu kecelakaan dan harus di operasi."


"Astagfirullah. Kecelakaan di mana Mas? kapan?"


"Katanya, pulang dari rumah kita sayang."


"Innalillahi."


"Aku pergi dulu ya Sayang.Maaf meninggalkanmu lagi." Rafli memakai jaket kulitnya kemudian menghampiri Zakira dan menciumnya.


"Iya Mas hati-hati."


***


Sekitar 30 menit perjalanan Rafli tiba di rumah sakit.


Dia langsung menghampiri ayahnya yang masih menunggu di depan ruang operasi.


"Bagaimana keadaan ibu Yah."


"Bagian betis kiri Ibu patah. Begitupun tangan dan kakinya. Karena kepalanya terbentur ,Ibu juga mengalami cedera kepala ringan."


"Ya Allah. Kasihan sekali ibu."


Beberapa saat kemudian operasi telah selesai dilakukan. Bu Rita di bawa keluar dari ruang operasi.


Selama beberapa jam, bu Rita masih tak sadarkan diri. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


Rafli juga mengkhawatirkan  keluarganya, apalagi kondisi Zakira  yang belum pulih.. Namun jika ia pulang nanti, pasti lah bu Rita akan tersinggung, karena ketidakhadiran Rafli.


Rafli menghubungi Zakira untuk mengetahui keadaannya.


"Kemungkinan Mas Raffi nggak bisa pulang Za. Ibu masih belum sadarkan diri."

__ADS_1


Zakira menghela nafas.Rasanya berat ditinggal sendiri dalam keadaan kondisi yang belum fit. 


"Ya sudah Mas kamu tunggu saja ibu kamu sampai siuman. Aku nggak papa kok," lirih Zakira.


"Iya Sayang, maafkan aku ya."


"Iya Mas."


"Kamu kunci rumah baik-baik Za."


"Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu."


"Iya Mas."


Zakira melirik bayinya dan juga Aufar. Kemudian ia berjalan perlahan mengunci pintu rumahnya.


Pada pukul dua dini hari, bu Rosa siuman. 


"Ibu sudah sadar?" tanya Rafli.


"Ibu, ibu dimana Rafli?" Bu Rita terlihat ketakutan.


"Ibu di rumah sakit," 


"Di rumah sakit? Itu berarti ibu belum mati kan?"lirih bu Rita sambil mengingat-ingat kejadian yang menimpanya.


Rafli tersenyum.


"Kenapa bicara seperti itu, bu?"


 Rafli melihat bola mata bu Rita berembun dengan tiba-tiba.


"Hiks hiks, kamu sudah melihat kan Rafli apa,yang menimpa ibu ini karena kesialan anak itu. Kenapa saat ibu mendatangi rumah itu, ibu selalu mendapatkan hal buruk."


"Ibu! ibu ini bicara apa sih? Kenapa terus menyalahkan Aufar?"


"Pokoknya ibu gak suka Rafli! Kamu harus menceraikan Zakira apapun alasannya. Jika tidak, lebih baik kamu jangan temui ibu. Anggap saja ibu sudah mati! Ibu muak dengan kamu yang tak pernah mendengar kata-kata dari ibu."


"Astaghfirullah bu. Ibu ini bicara apa? Kasihan Zakira bu. Jika Rafli meninggalnya bagaimana Zakira menghidupi anak-anaknya.'


"Ya kamu berikan nafkah untuk anak kamu saja Rafli, biarkan Zakira menikah lagi."


"Gak bisa Bu. Rafli gak bisa melakukan itu."


"Terserah Rafli! Kalau memang itu pilihan kamu, itu berarti ibu sudah tak punya anak lagi! Kamu pergi saja Rafli! Pergi!"


"Akh!" Bu Rita merasakan sakit pada bagian kepalanya.


Pak Bondan yang baru saja tiba segera menghampiri Rafli.


"Rafli kenapa dengan ibumu?"


"Ibu tadi marah-marah Yah. Ibu meminta aku untuk menceraikan Zakira."

__ADS_1


"Ya sudah, Rafli kamu pulang saja. Mungkin ibu butuh istirahat."


"Kamu jangan pernah datang lagi Rafli! Ibu tidak sudi menerima kamu! Sebelum kamu menceraikan Zakira!"


Seketika air mata Rafli menetes. 


''Tapi Bu, apa salah Zakira hiks."


"Ibu gak mau punya keturunan dari anak-anak Zakira, Rafli. Lihatlah putra kamu, dia mengalami penyakit aneh. ibu hanya ingin keturunan yang sehat Rafli. Dan sampai ibu mati pun ibu gak akan mau menerima kehadiran kamu sebelum kamu menceraikan Zakira!"


Dengan tangan dan  tubuh yang gemetar bu Rita mengatakan hal itu.


"Ya Allah, ibu tega sekali."


"Kamu yang tega Rafli. Kamu bisa punya dua istri,tiha istri, emapt istri, tapi ingat kamu cuma punya satu ibu! Dan ibu tak akan pernah ridho jika kamu dan Zakira masih bersama."


Seketika Rafli berlutut mendengar ucapan yang keluar dari mulut bu  Rita. Rafli menangis sejadi-jadinya sambil bersimpuh.


***


Kreak…  Zakira terbangun karena mendengar ada yang membuka pintu rumahnya.


Dengan hati-hati Zakira turun dari atas ranjang.


"Mas Rafli ngagetin saja," ucap Zakira ketika melihat sekelebat bayangan Rafli melewati kamar.


Rafli duduk di atas  sofa. Di ruang tamu. Zakira melihat wajah Rafli yang terlihat sembab.


Karena khawatir terjadi sesuatu. Zakira pun menghampiri suaminya.


"Mas kenapa?  apa yang terjadi pada ibu?" tanya Zakira.


Bukannya  menjawab Rafli malah menangis. Hal itu membuat Zakira semakin bingung.


"Mas Ibu tidak apa-apa kan?"


"Ibu tidak apa-apa. Hanya saja…."


"Hanya saja apa Mas?"


Rafli menatap Zakira dengan tatapan berembun. Kedua netra mereka bertemu. Zakira menangkap ada keraguan pada sorot mata Rafli.


Rafli menggenggam tangan Zakira.


Kemudian Ia menceritakan permintaan Bu Rita terhadapnya.


15 menit Rafli menceritakan hal itu sambil menangis tersedu-sedu. Sementara Zakira tak bisa berkata-kata karena hatinya terasa hancur berantakan.


"Jika memang ibumu tak pernah ridhi akan rumah tangga kita. Lebih baik kita memang berpisah saja Mas. Aku tidak mau kau menjadi anak durhaka yang membangkang permintaan ibumu. Dua kali aku merasakan bagaimana sakitnya mengandung dan melahirkan, tentu saja itu juga yang terjadi pada ibumu. Aku dan ibumu sama-sama seorang ibu. Aku juga punya harapan besar terhadap anakku. Jika memang ibu menginginkan perpisahan kita. Aku rela Mas. Daripada seumur hidupmu kau diliputi perasaan bersalah pada ibu. Aku tak ingin ada sesuatu yang menghalangimu untuk masuk surga, karena kau tak bisa menyentuh telapak kaki ibu, hiks."


Keduanya pun kembali menangis sedih.


Rafli memeluk Zakira dengan erat, seakan tak rela kehilangan wanita yang begitu dia cintai. 

__ADS_1


Sungguh dilema berat bagi Rafli harus meninggalkan keluarga demi mendapatkan ridho dari sang ibunda.


Bersambung.


__ADS_2