Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Bertemu Rafli


__ADS_3

Setelah lelah bermain bersama Rio, Akbar kembali tertidur.


"Aku sudah donor darah untuk Akbar Za, mungkin dua hari lagi sudah bisa diambil."


"Terima kasih ya Yo. Semoga suhu tubuh Akbar stabil, sehingga tidak membutuhkan banyak kantong darah. Kadang aku kasihan melihat Akbar."


"Sabar lah Za, mungkin suatu saat akan ditemukan teknologi di bidang kedokteran yang bisa menyembuhkan penyakit Akbar."  


"Iya Semoga saja."


"Ya sudah aku bawakan kamu makanan. Kamu makan dulu, kamu harus tetap sehat, karena kunci kesehatan anak kamu ,adalah kamu Za."


"Terima kasih ya."


Rio duduk bersama Aufar, Rina dan Zakira. Mereka makan malam bersama saat itu.


"Besok Aufar sekolah?'' tanya Rio.


"Sekolah Om. Ya sudah besok Om yang antar dan jemput Aufar ya."


"Aufar melirik ke arah Zakira."


"Terima kasih ya Yo."


"Iya besok, setengah tujuh om jemput. Pulangnya Om antar ke rumah sakit."


"Iya Om."


Mereka pun kembali melanjutkan makan malamnya.


Setelah makan malam, Rio pamit pulang. 


Sebelumnya Zakira sudah meminta agar asistennya membawakan berkas-berkas di kantornya yang harus diperiksa.


Jam sembilan malam Akbar kembali bangun dan suhu tubuhnya kembali naik. Agar Akbar tidur nyenyak, Zakira kembali menggendong Akbar.


Sudah berkali-kali Zakira menguap tak kuat menahan kantuknya. Sekujur tubuhnya pun terasa lelah. 


Tepat jam dua belas malam, Akbar tidur dengan nyenyak suhu tubuhnya pun sudah menurun.


Zakira meletakkan Akbar karena harus mengerjakan pekerjaan kantornya.


Setelah menidurkan Akbar ,Zakira harus mengerjakan pekerjaan kantornya yang harus diselesaikan hari ini. 


Ia  harus memeriksa setumpuk berkas yang dikirimkan oleh asistennya dan harus selesai malam itu juga.


Berbekal dengan secangkir kopi, Zakira memaksakan dirinya agar tetap melek, padahal matanya memerah karena ngantuk.


Ia punya tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan yang ditinggalkan Raymond untuk Aufar.


Karena itu Zakira tidak mau perusahaan itu sampai mengalami kemunduran saat kepemimpinannya.


Sesekali Zakira mencuci wajahnya agar tidak mengantuk dan pekerjaannya selesai.


Pukul 03.00 pagi seluruh berkas setelah selesai diperiksa oleh Zakira saking lelahnya ia langsung tertidur di sofa, tempat dia mengerjakan tugasnya.


Setengah lima pagi, Zakira kembali terbangun karena suara adzan di aplikasinya. Setelah salat subuh, Zakira langsung mandi agar bisa mengasuh Akbar.


Setelah itu ia membereskan keperluan sekolah Aufar.


"Mbak jam berapa tidurnya?" tanya Rina.


"Jam 03.00 Subuh Rin."


"Kalau begitu nanti kalau ada kesempatan Mbak Zakira istirahat saja. kasihan karena Mbak, harus gendong Akbar selama berjam-jam."


"Iya kamu siapin Aufar ya, sebentar lagi Rio akan jemput Aufar, gak enak kalau sampai Rio menunggu terlalu lama."


"Iya mbak."


"Oh ya Setelah itu kamu ambil beberapa baju untuk kita Rin, sepertinya Akbar akan beberapa hari lagi baru pulang."


"Baik Mbak."

__ADS_1


***


Pukul setengah tujuh pagi Aufar sudah siap berangkat ke sekolah, sementara Zakira masih menggendong Akbar yang masih rewel.


"Assalamualaikum," terdengar suara salam kemudian pintu terbuka.


"Waalaikumsalam."


'Aufar sudah siap? makan bubur ayam sama Om dulu ya," kata Rio.


"Iya Om baru saja Aufar mau sarapan."


"Untuk Zakira, Mbak Rina dan Akbar juga ada nih. Silakan sarapan dulu."


"Akbar mau sarapan bubur ayam?" tanya Zakira.


Akbar menggangguk.


Zakira mendudukkan Akbar di atas tempat tidurnya kemudian ia menyuapi Akbar.


Setelah sarapan, Aufar pergi ke sekolah diantar Rio bersamaan dengan Rina yang juga ikut pulang kerumahnya.


Setelah semua sepi fan Akbar kembali tidur dan Zakira bisa beristirahat.


baru saja ia memejamkan matanya terdengar suara dering telepon.


Zakira buru-buru mengangkat telepon itu agar tak membangunkan Akbar.


Ternyata telepon itu dari Rafli.


"Hallo Assalamualaikum Mas Rafli."


"Waalaikumsalam. Za, Akbar dirawat di mana?"


"Di Rumah Sakit biasa Mas."


"lalu Bagaimana keadaan Akbar? Apa kamu sudah dapat donor darah untuk Akbar?"


"Sudah, Rio yang mendonorkan darah untuk Akbar."


"Ya sudah sebentar lagi mas sampai, sedang di perjalanan Za."


"Iya Mas."


Setelah menutup sambungan telepon Rafli, Zakira kembali mencoba terpejam. namun kali ini gedoran pintu kembali membuatnya harus terbangun.


Zakira membuka pintu.


"Eh Zahra."


"Iya bu katanya ibu mau menyerahkan berkas yang sudah ibu periksa dan tanda tangani."


"Oh iya semuanya sudah saya pelajari. untuk sementara jika ada rapat atau pertemuan dengan klien, pending saja dulu ya, Saya nggak bisa handle semua karena anak saya sedang sakit.


"Baik Bu."


Zakira menyerahkan setumpuk berkas yang sudah ia tandatangani agar Zahra bisa mengarsipkannya.


Setelah itu Zakira tak bisa tidur lagi karena Akbar sudah terbangun lagi.


***


Pukul sebelas, Aufar dan Rio kembali.


"Assalamualaikum," ucap Aufar sambil membawa sekotak donat dan tote bag berisi makanan.


"Waalaikumsalam. Eh bang Aufar sudah pulang," kata Zakira.


"Iya bunda. Om Rio belikan kita donat bentuk dan rasanya pasti enak-enak," kata Aufar sambil membuka kotak yang berisi donat."


"Wah donat," kata Akbar.


"Akbar mau yang mana?" kata Aufar.

__ADS_1


"Yang itu," tunjuk Akbar.


Aufar memberikan donat itu ke adiknya, mereka menikmati donat bersama-sama.


"Setelah makan siang tidur ya Nak," kata Zakira.


"Gak mau Bunda, Akbar bosan pengen jalan-jalan."


"Kalau begitu, gendong Om mau? kita jalan-jalan keliling rumah sakit."


Akbar mengulurkan tangannya meminta gendong pada Rio.


"Oh Sayang, badannya masih panas," kata Rio sambil meneluk Akbar.


"Ayo Za, kita bawa Akbar jalan-jalan."


"Iya."


"Aufar ikut Bunda!"


'Iya ayo ikut."


Akbar di gendong oleh Rio, sementara Zakira memegang standar infusnya.


Mereka membawa Akbar berjalan mengelilingi koridor rumah sakit.


Akbar meletakkan kepalanya di pundak Rio, sembari melihat lihat keadaan sekitar rumah sakit.


***


Rafli baru tiba di rumah sakit, ketika melewati koridor, dari kejauhan ia melihat Zakira,Aufar dan Rio berjalan melewati koridor.


Perasaan cemburu pun menghampiri Rafli. Rafli menghamipiri mereka.


Ketika tinggal selangkah, Rafli menghadang langkah mereka.


Zakira dan Rio terdiam menatap ke arah Rafli yang berdiri di hadapan mereka.


"Akbar, ayo sini ayah yang gendong," kata Rafli sambil meraih Akbar dari gendongan Rio


"Gak mau, Akbar mau gendong Om Rio," jawab Akbar sambil menggelengkan kepalanya.


"Akbar ini ayah Nak. Akbar gak kangen sama ayah?" tanya Rafli.


"Iya Akbar, Akbar gendong ayah saja ya," kata Rio yang tak enak hati.


Akbar pun menuruti perkataan Rio. Ia pun mau di gendong oleh Rafli.


"Ehm, kalau begitu aku permisi saja ya, Za." Rio merasa atmosfer yang berbeda ketika kehadiran Rafli, karena sepertinya Raffi tidak menyukai kehadirannya di sana.


"Oh iya, terima kasih banyak ya Yo."


"Om Rio mau kemana?" tanya Akbar.


"Om pulang dulu ya. Om ada perlu."


"Tapi Om, nanti datang lagi ya, hiks. Akbar mencebikkan bibirnya."


"Iya nanti Akbar mau Om belikan apa?" tanya Rio.


"Beli mainan, es krim sama donat lagi ya Om."


'Iya Sayang, Om pulang dulu ya."


Akbar mencebikkan bibirnya, karena sedih melihat Rio pulang. Selama ini Akbar dan Aufar lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rio dari pada Rafli.


"Makasih ya Yo,"kata Zakira.


"Iya Sama-sama."


Riko pergi meniggalkan mereka.


Setelah itu suasana tak lagi hangat sejak kehadiran Rafli. Zakira juga tidak tahu harus bicara apa pada Rafli.

__ADS_1


Semua tak Lagi sama sejak mereka berpisah. kedua anaknya tidak begitu akrab dengan Rafli karena memang mereka jarang bertemu dan jarang menghabiskan waktu bersama.


__ADS_2