Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Jatuh Sakit


__ADS_3

Hidup akan tetap berjalan seperti yang sudah di takdirkan, jadi Zakira tidak mau banyak mengeluh, cukup jadi pendengar keluh kesah kedua buah hatinya.


Akbar pulang dengan membawa piala, ia dapat rangking satu dalam acara cerdas cermat yang se provinsi. Padahal usia Akbar belum genap 6 tahun dan dia duduk di bangku kelas 2 SD karena kecerdasannya yang luar biasa.


Zakira duduk sambil mendengarkan anaknya bercerita.


"Abang gak nyangka Bunda, Abang bisa menang. Padahal Abang melawan kakak-kakak yang badannya lebih tinggi dan besar dari pada Abang!" tuturnya dengan semangat.


"Oh ya, anak Bunda memang pintar Kok."


"Bunda nanti kalau Akbar sekolah, apa Akbar bisa dapat piala seperti Abang?'' tanya Akbar dengan gaya bicaranya yang cadel.


"Insyaallah Nak."


"Iya Dek, Nanti biar Abang yang ajari Adek, biar kalau ada lomba, kita bisa menang, biar bisa bikin bunda bangga."


Bulir bening menetes di pipi Zakira, mendengar cita-cita yang sangat mulia dari bocah kecilnya. Mungkin Aufar belum tahu tentang arti kehidupan. Namun dia sudah mengerti bagaimana cara membanggakan orang tuanya.


"Iya Abang, adek juga mau dapet piala yang banyak seperti Abang. Biar bisa membuat Bunda bangga," cetusnya.


"Sayang Bunda gak hadir di penerimaan piala, padahal banyak orang mau lihat Bunda, katanya Aufar di kasih makan apa sama Bunda sampai jadi pinter," tutur Aufar dengan polosnya.


Zakira kembali dibuat tersenyum dengan penuturan Aufar .


"Bunda kasih makan nasi lah, minum susu makan yang baik-baik yang sehat dan halal biar berkah."


"Akbar Bunda kasih makan apa?" tanya Akbar.


Zakira tersenyum lagi.


"Samalah Nak. Bunda gak pernah membeda-bedakan kalian berdua. Kasih sayang dan cinta Bunda terhadap Akbar dan Aufar sama besarnya."


Aufar dan Akbar saling melempar pandangan kemudian tersenyum mereka berdua bangkit dan langsung memeluk Zakira.


"Kami berdua Sayang Bunda!" serunya sambil memeluk Zakira.


"Hiks, Bunda juga Sayang kalian berdua."


Setelah beberapa saat saling berpelukan, Zakira melepaskan pelukannya.


"Sudah kita Bobo ya, sudah malam. Besok kan Abang mau sekolah."


"Iya tapi Bunda juga bobo ya."

__ADS_1


"Bunda belum bisa bobo, karena bunda masih ada kerja."


"Kenapa Bunda harus kerja lagi, bukankah dari pagi sampai sore Bunda sudah kerja? Bunda harus tidur juga. Akbar gak mau Bunda kerja terus."


"Iya, kalau begitu kita bobo ya. Ayo berbaring di tempatnya masing-masing."


Aufar dan Akbar mengambil tempat mereka masing-masing. Mereka tidur di samping Zakira yang juga ikut merebahkan tubuhnya di samping anak-anaknya.


"Sebelum tidur baca doa dulu ya."


"Iya Bunda."


Setelah membaca doa Aufar dan Akbar memejamkan matanya sambil memeluk Zakira. Mereka semua tidur di bawah ketiak Zakira.


Bagi mereka, Zakira adalah payung teduh yang melindungi mereka dari panas dan hujan. Zakira juga menjadi teman yang siap mendengar dan memberikan solusi untuk mereka.


Zakira tidur sambil merangkul tubuh mungil kedua putranya.


"Semoga anak ku tumbuh menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab dan mandiri, menjadi anak yang Sholeh sehingga bisa meringankan azab siksaan ku nanti di akhirat," ucap Zakira sambil menadahkan tangannya.


Kemudian di kecupannya kedua pucuk kepala anak-anaknya. Zakira menguap, matanya mengantuk karena tubuhnya terlalu lelah untuk di paksakan agar tetap terjaga.


Tanpa bisa melawan, akhirnya Zakira tertidur padahal masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan di malam itu.


Rafli tiba di rumahnya rasa lelah mendera sekujur tubuhnya. Rafli tak lagi bersemangat untuk bekerja. Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhnya terasa begitu lemas.


Rafli berbaring di atas sofa di ruang tamu. Tubuh terasa mulai meriang, Rafli pun menggigil.


Bu Rita keluar dari kamarnya dan melihat sang putra berbaring sambil meringkuk kedinginan .


"Rafli kenapa kamu berbaring di situ ? ayo sana masuk kamar!"


"Bentar lagi Bu, Rafli tidak enak badan ,rasanya kok meriang begini ya ."


Bu Rita menghampiri Rafli kemudian melihat wajah Rafli yang terlihat pucat .


"Wajah kamu pucat Rafli?sebaiknya kamu istirahat . Ayo sana masuk ke kamar kamu dulu! "


Karena tak ingin mendengar ocehan ibunya terus menerus Rafli, beranjak dari sofa dan hendak berjalan menuju kamar, tiba-tiba pandangannya terasa gelap saat melangkahkan kakinya , seketika itu Rafli pingsan, tubuhnya hampir saja ambruk ke lantai jika seandainya Bu Rita tidak menyangga tubuhnya .


"Ayah! Ayah!" Panggil Bu Rita dengan panik .


Ismail berjalan tergesa-gesa menghampiri Bu Rita

__ADS_1


"Ada apa ini bu, Rafli kenapa ?"


Tidak tahu yah, tiba-tiba saja Rafli tumbang, tadi ibu lihat wajahnya juga pucat .


"Ayo bu kita bawa ke kamar saja."


Rafli dibawa ke kamar dengan dibopong kedua orang tuanya .


Setelah sadar, Rafli diberi minum obat dan beristirahat .


Setelah 2 hari beristirahat sakit Rafli tak juga sembuh kedua orang tuanya pun berinisiatif memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit, yang tak berada jauh dari rumahnya .


Karena keadaan Rafli cukup memprihatinkan, ia pun harus dirawat di rumah sakit.


Rafli berbaring dengan infus di tangannya. Bu Rita dan Pak Ismail berada di samping Rafli untuk menemaninya .


Seorang dokter bersama seorang perawat menghampiri Rafli.


"Dokter sebenarnya anak saya sakit apa ya ?"tanya Bu Rita .


"Begini bu, menurut hasil pemeriksaan darah, ternyata pasien menderita thalasemia mayor, dan mulai saat ini pasien harus melakukan transfusi darah minimal dua minggu sekali ."


Mendengar hal itu seketika Bu Rita membelalakkan bola matanya.


"Tapi, dokter awalnya Putra Saya memang menderita thalasemia, tapi karena tidak terlalu parah tidak dibutuhkan transfusi darah dan keadaannya selama ini baik-baik saja ."


"Memang benar Bu, Tapi saat ini Thalasemia yang diderita pasien sudah masuk ke thalasemia mayor, dan saya pastikan seumur hidup pasien harus menjalani transfusi darah untuk menyelamatkan kehidupannya."


Bukan main terkejutnya Bu Rita, Rafli dan Pak Ismail saat itu.


Setelah memberikan penjelasan kepada Rafli dan kedua orang tuanya dokter memeriksa keadaan Rafli, kemudian ia keluar dari ruangan tersebut .


Setelah dipasang alat transfusi darah Rafli kembali tidur karena tubuhnya terasa begitu lemas.


Bu Rita dan Pak Ismail keluar dari ruangan Rafli.


"Hiks, Bagaimana ini Yah, Kasihan sekali Rafli harus menjalani transfusi darah dua kali dalam sebulan. "


"Ya mau gimana lagi Bu jika memang itu satu-satunya cara menyelamatkan nyawa Rafli ."


" Hiks, hiks Ibu sedih karena saat ini Rafli tak punya istri yang mengurusi saat sakit. Pasti tak ada wanita yang mau menikah dengan pria yang penyakitan seperti Rafli, hiks." Bu Rita menangis tersedu-sedu memikirkan nasib anaknya.


Pak Ismail yang juga terpukul penyakit Rafli hanya bisa diam tertunduk dan sedih.

__ADS_1


"Kasihan Rafli jika seumur hidupnya harus menduda ,bagaimanapun caranya ibu harus membujuk Zakira agar mau menikah dengan Rafli kembali hiks," tutur bu Rita sambil menghapus air matanya.


__ADS_2