
Pencarian Reymond terus dilakukan. Namun tak juga membuahkan hasil.
Karena mempertahankan pernikahan dengan Zakira, hubungan Rafli dengan bu Rita pun merenggang. Bahkan bu Rita tak pernah mau menjawab panggilan ketika dia sedang menelpon.
Begitupun ketika Rafly datang ke rumah bu Rita. Bu Rita selalu menghindari pertemuan dengan putranya.
Hal itu menjadi dilema tersendiri bagi Rafli. Namun Rafli menguatkan hati untuk tetap mempertahankan pernikahan itu demi cintanya pada Zakira.
***
Waktu terus berlalu.
Zakira dan Rafli tengah menanti kelahiran anak mereka.
Karena tak ingin mengambil resiko Rafli dan Zakira memilih jalan persalinan caesar.
Rafli berada di luar ruang operasi, menunggu sang istri yang sedang menjalani pembedahan.
Rafly menunggu dengan gelisah karena mengkhawatirkan keselamatan istrinya. Dia berharap tak terjadi komplikasi saat persalinan Zakira.
Setelah satu jam menunggu terdengar suara tangis bayi. "Alhamdulillah sudah lahir."
Rafly sedikit lega, dia pun masih menunggu sampai sang istri keluar dari ruang operasi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam ruang operasi.
Rafli menoleh ke arah pintu ruang tersebut dan keluarlah seorang suster yang datang menggendong bayi.
Rafly segera menghampiri Suster itu.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya suster?"tanya Rafli.
__ADS_1
"Alhamdulillah kondisi Ibu dan bayinya sehat."
"Oh kalau begitu syukurlah. Kapan istri saya bisa keluar dari ruang operasi?" Tanya Rafli.
"Mungkin sekitar 1 jam lagi setelah di observasi pasca persalinan."
'Baiklah kalau begitu terima kasih suster."
Suster tersenyum dan sedikit bingung. Karena Rafly tak menanyakan tentang bayinya. Bahkan Rafly tak melirik sedikitpun kearah bayi yang digendong olehnya.
Suster itu pun berlalu sambil menimbang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki.
Sekitar setengah jam kemudian, Zakira dibawa keluar dari ruang operasi menuju ruang perawatan.
Saat itu keadaan Zakira sudah sadar dan dia melihat Rafli yang mengikuti langkah suster membawanya ke ruang persalinan.
Setelah memeriksa keadaan Zakira di ruang perawatan suster kembali dan meninggalkan Rafli dan Zakira.
"Alhamdulillah baik Mas."
"Mas kamu sudah lihat anak kita?" tanya Zakira.
Raffi terdiam. "Belum," jawabnya setelah beberapa saat.
Ada sedikit kecewa di hati Zakira. Dia merasa jika Rafly tidak peduli dengan anak yang dilahirkannya.
"Bagaimana dengan keadaanmu. Apa terasa sakit?"tanya Rafli mengalihkan pembicaraan mereka.
Zakira mengangguk kemudian menunduk sedih.
'Kamu harus banyak istirahat ya biar cepat sembuh."
__ADS_1
"Iya mas terima kasih," lirih Zakira.
Beberapa saat kemudian seorang suster datang membawa box berisi bayi Zakira.
Zakira tersenyum karena ia ingin melihat anak yang sudah dilahirkannya.
"Bu anaknya sudah bisa diberi ASI ya. Kalau ASI ibu belum memadai nanti hubungi saja suster untuk membuatkan susu formula."
"Iya suster terima kasih."
Iya sama-sama Bu, suster pun meletakkan bayi yang dilahir Zakira itu di samping Zakira.
Dengan penuh kasih sayang Zakira memeluk bayi mungil itu. Kemudian Zakira membuka penutup kepala bayi itu.
Bola mata Rafly itu terbelalak,ketika melihat wajah bayi itu begitu mirip dengan Raymond.
Hidungnya, matanya, membuat dada Rafly terasa sesak.
"Mas kita beri nama siapa ya bayi ini? tanya Zakira sambil mengusap rambut sang bayi.
"Entahlah Shakira itu terserah padamu jawab," Rafly datar tanpa menoleh ke arah Zakira sekalipun.
Rafly menyusun barang-barang Zakira. Tak sedikitpun ia menoleh ke arah bayi atau bertanya apa jenis kelamin bayi mereka.
Hal itu membuat Zakira kecewa fan sesih. Tapi dia berusaha untuk mengerti Rafli, mungkin seiring berjalannya waktu Rafly bisa menerima kehadiran anaknya, sebagai anak mereka.
"Mas Rafli, bisa minta tolong azankan anakku Mas," pinta Zakira.
Rafly diam beberapa saat dia masih membenahi barang-barang di atas nakas. Rafly seperti mencari kesibukan sendiri untuk menghindari sesuatu.
"Mas Rafli bisa tolong azan kan anakku?" tanya Zakira dengan suara parau. Karena sepertinya Rafli enggan untuk melakukannya.
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Zakira pun menetes. Ia tak menyangka jika juga tak bisa menerima kehadiran anaknya.