
"Maaf saya tak bisa menerima ini," tolak Zakira.
Bu Rita membelalakkan bola matanya melihat sang menantu yang menolak pemberian wanita bule itu.
"Loh kenapa? ini tanpa bayaran apa-apa nyonya. Kami iklas memberikan sumbangan ini. " Lauren menegaskan.
"Iya tidak, terima kasih. Saya bisa mencukupi kebutuhan Aufar kok,"
ucap Zakira meneluk Aufar.
Lauren menghembuskan nafas panjang. Dia tak tahu lagi bagaimana caranya menjalani wasiat dari mendiang saudaranya itu..
"Nyonya. Tolong terima ini."Loren kembali menyodorkan kartu ATM itu.
" Kalau anda takut, anda silahkan cek nama saya dan identitas saya di internet." Lauren menunjukkan paspor dan kartu identitasnya.
"Saya tidak berbohong. Anda tidak perlu takut saya tak akan mengambil Aufar dari anda. Sya hanya menjalankan misi dari seseorang dan kami tak akan meminta apapun dari anda, termasuk Aufar."
Zakira diam seribu tatapan masih kosong luris kecarah depan.
"Ayolah Zakira ambil saja lumayan kan untuk Aufar. Jadi biaya hidup Aufar gak perlu di tanggung Rafli lagi. Uang Rafli bisa di simpan untuk beli rumah, dan kebutuhan anak kamu yang lainnya. Jadi gaji Rafli gak habis terus untuk membiayai kamu dan Aufar."
"Astaghfirullah Ibu. Ngak begitu juga Bu," protes Rafli.
"Iyalah. Rejeki jangan di tolak. Kalian itu jangan pura-pura kaya. 30 puluh juta itu beberapa kali lipat gaji kamu Rafli. Hari gini mana ada orang yang baik jati sampai memberikan uang sebanyak itu. Istri kamu saja tuh sok kaya, sok gak butuh."
"Sudah terima saja." Bu Rita meraih ATM tersebut.
"Terima kasih ya Nyonya. Maaf anak dan menantu saya itu malu. Tapi nanti kalau anda sudah pergi, pasti mereka mau kok gunakan uang tersebut."
Loren tersenyum karena dia kurang mengerti apa yang di katakan oleh bu Rits.
"Oh iya, Kklau begitu saya permisi dulu."
"Iya silahkan," sahit bu Rita.
Lauren menghampiri Aufar.
__ADS_1
" Aufar sini boleh saya cium kamu?" tanya Lauren pada Aufar.
Aufar mendekati Lauren kemudian dia mencium Lauren.
Bahagianya Loren bisa mencium keponakan sendiri.
"Uh manisnya kamu," ucap Loren sambil mencium pipi Aufar.
Setelah berbicara pads Aifar Lauren pun pamit undur diri.
"Kalau begitu saya permisi, tuan dan nyonya."
'Oh iya sama-sama. Terima kasih juga ya nyonya," ucap bu Rita sambil melambaikan tangannya.
Zakira dan Rafli mengantar Lauren hingga ke depan pintu.
Setelah mobil Lauren menjauh mereka pun kembali menutup pintu.
Bu Rita mengibas-ngibas kartu ATM tersebut.
Rafli dan Zakira menatap ke arah Bu Rita.
"Berikan ATM itu Bu. ATM itu tak boleh jatuh ke tangan yang salah," ucap Zakira sambil menadahkan tangan ke bu Rita.
"Haha, dasar munafik Zakira. Tadi saja gak mau. Sekarang kamu malah takut ibu yang ambil, iya kan?"
"Bukan begitu Bu. Zakira hanya tak mau pemberian wanita itu di salah gunakan. Mereka memberikan ATM itu untuk Aufar. Itu bearti hanya Aufar yang boleh menggunakannya."
Bu Rita melorotkan bola matanya kemudian tersenyum miring.
"Bilang saja kamu tuh pelit Zakira!"
Zakira kaget mendengar ucapan bu Rita
"Ibu kenapa ngomong begitu?!" tanya Rafli yang tak enak hati pada Zakira.
'Iya dong. Zakira pasti takut jika uang dalam ATM ini kamu gunakan Rafli."
__ADS_1
"Bukan begitu Bu," lirih Zakira.
"Eh ingat Zakira, Rafli tuh sudah keluar banyak uang untuk Aufar jadi wajarlah kalau Raffi ikut merasakan uang tersebut. Kamu bayangin saja ya, dari melahirkan sampai beberapa tahun ini Aufar hidup dari hasil keringat Rafli. Rafli tuh memberikan semua kebutuhan untuk kalian, sampai -sampai melupakan saya sebagai ibunya."
"Ibu ngak usah gitulah. Ini kan susah kewajiban aku sebagai kepala rumah tangga," sangah Rafli.
"Iya Rafli, ibu tahu. Tapi istri kamu ini loh terlalu serakah. Masa uang tiga puluh juta mau untuk Aufar sendiri. Memangnya apa aih yang di belanjakan Aufar sampai 30 juta."
Zakira dan Rafli memilih diam dari pada berdebat dengan bu Rita.
Eh Rafli mulai dari sekarang tabung uang kamu. Kamu belum punya rumah, biar saja Aufar dia sudah punya uang sendiri."
Rafli hanya diam saja
Zakira ibu sudah susah-susah payah memasak untuk kamu. Jangan tidak di makan sayur asem saya. Ya sudah saya pulang dulu."
"Iya bu terima kasih."
Rafli dan Zakira menutup pintu rumahnya.
Rafli menghamipiri Zakira yang terlihat sedih.
"Sayang sabar ya. Kata-kata ibu jangan kamu ambil hati. Aku iklas jika hasil kerja keras ku di gunakan untuk kebutuhan rumah tangga kita.
"Iya Mas. Sebenarnya aku takut menggunakan uang itu. Aku takut mereka akan meminta balasan suatu saat nanti. Apalagi mereka itu orang asing."
"Ya sudah ATM nya di simpan saja. Untuk kebutuhan Aufar biar menggunakan gaji bulanan ku saja ya."
Zakira mengangguk lirih.
"Ya sudah yuk kita makan. Katanya kamu pingin makan sayur asem."
Rafli menuntun Zakira menuju meja makan. Dia pun mengaut nasi ke piring Zakira.
Sebelumnya Zakira memang sangat ingin makan sayur asem hanya saja karena ucapan bu Rita tadi dia kehilangan selera makannya.
Rafli memangku Aufar kemudian menyuapinya makanan.
__ADS_1
Hanya karena Rafli lah Zakira berusaha untuk memakan sayur asem tersebut, walaupun begitu sulit saat masuk ke tenggorokannya.