Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Karma


__ADS_3

Bu Rita keluar dari rumah Rafli kebetulan berpapasan dengan Rafli baru saja pulang dari kerja.


" Ibu sudah mau pulang?" tanya Raffi sambil mencium tangan Bu Rita.


"Ngapain juga lama-lama di sini." Malah dijawab ketus oleh bu Rita.


"Oh iya, kalau begitu terima kasih ya Bu, karena sudah menjaga Zakira."


Bu Rita memicingkan matanya ke arah Rafli.


"Jadi kamu masih mau mempertahankan wanita itu Rafli. Kamu lebih memilih dia daripada ibu?"


"Kok ibu ngomong begitu sih Bu? Kalau disuruh memilih antara ibu dan istri aku,ya aku gak bisa pilih lah Bu."


"Ya sudah Rafli, berarti ibu sudah tak bisa berharap pada kamu lagi. Hancur sudah harapan ibu terhadap kamu. Kamu itu harapan satu-satunya keluarga kita, tapi tak bisa diharapkan. Lebih baik kamu menikah dengan perempuan mandul daripada menikah dengan perempuan pembawa penyakit seperti dia!" Cacar bu Rita  sambil menunjuk ke arah rumah.


Tak hanya Rafli para tetangga yang mendengar pun ikut syok.


"Dia dan anak haramnya itu sama saja, sejak ada anak haram itu, keluarga kita itu selalu ketiban sial!"


'Astaghfirullah azim ibu. Tak boleh bicara seperti itu Bu. Kesialan itu bukan karena anak yang terlahir di dunia. Tapi kesialan itu karena akibat dari perbuatan kita sendiri."


"Iya karena istri mu itu berzina dan kamu tak menceraikannya, makanya keluarga kita itu ketiban sial terus, sampai keturunan kita juga sial."


Tanpa perasaan bu Rita menghardik Rafli di depan rumahnya dan di dengar tetangganya.


Setelah puas menceramahi Rafli Bu Rita pulang dengan menggunakan ojek langganannya.


Sementara Rafli masih menatap bu Rita dengan bola mata yang berpendar.


Setelah Bu Rita menghilang dari pandangannya, Rafli menghampiri istrinya. Dia merasa tidak enak karena Zakira pasti mendengar hinaan dari ibunya.


Namun semua tak seperti ekspektasi. Zakira terlihat santai sambil bermain bersama Aufar.


"Sayang kamu dengar kata-kata ibu?" Tanya Rafli sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.


"Iya Mas, aku sudah dengar dan ini bukan pertama kalinya."


Rafli mengusap kepala Zakira yang terlihat tabah atas hinaan yang selalu diterimanya.

__ADS_1


"Sayang ,maafkan kata-kata Ibu ya."


"Gak apa-apa Mas aku sudah terbiasa dengan kata-kata ibumu. Aku juga sudah sering dipermalukan ibu."


"Iya sayang tadi aku menyuruh ibu datang, karena aku mengkhawatirkan kalian."


"Iya Mas aku ngerti. Tapi alhamdulillahnya aku memiliki anak yang berbakti pintar dan ceria seperti Aufar. Kamu tahu Mas, Aufar sama sekali tidak rewel. Justru dia membantuku mengambilkan makanan dan obat-obatan."


"Hah yang benar? Aufar mengambil makanan untuk kamu?" Tanya Rafli sambil menoleh ke arah Aufar.


"Iya bener mas. Aku pikir IQ Aufar melebihi anak normal lainnya deh, tapi sepertinya ESQ  Aufar  juga bagus, Karena setelah aku perhatikan, Aufar sepertinya mengetahui situasi dan kondisi dan bisa mengatasinya sendiri."


Rafli menarik Aufar kemudian memangkunya. 


"Yah kupikir Aufar juga punya IQ di atas rata-rata. Alhamdulillah kita memiliki Putra yang cerdas," imbuh Rafli.


"Iya Mas, Alhamdulillah, bagiku Aufar adalah anugerah, tak perduli orang berkata apa tentangnya."


"Iya sayang, aku juga begitu, bagiku Aufar adalah anugerah yang dititipkan Tuhan untuk kita."


Rafli mengusap kepala Aufar.


"Oh ya aku sudah cek saldo ATM yang diberikan oleh wanita misterius itu. Dan ternyata memang benar. Selama setahun ini mereka tetap mengirimkan uang perbulan dengan jumlah 30 juta sebulan."


"Iya Sayang. Aku berharap wanita itu memang tulus memberikan semua ini pada Aufar. Untuk sementara biarlah kita simpan uang itu dan jangan dipergunakan terlebih dahulu."


"Iya Mas aku juga merasa gajimu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kita ya walaupun seadanya. Yang penting kita tetap bersama."


Rafli mengusap punggung Zakira.


"Ya sayang, kalian adalah keluargaku dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungi kalian semampu aku."


Rafli dan Zakira  saling memandang dengan tatapan mesra.


***


Sepanjang perjalanan Bu Rita terus saja mengomel.


"Huh bisa-bisanya wanita itu berlagak sombong di hadapanku. Lihat saja aku pasti bisa mempengaruhi Rafli untuk meninggalkannya."

__ADS_1


Tak hanya kesal kepada Zakira tapi Bu Rita juga risih karena tukang ojek itu membawa motornya dengan kecepatan sedang.


'Ini lagi si Abang, bawa motor seperti bawa sepeda saja. Jalannya seperti siput, kapan sampainya?"


Mungkin karena kesal kepada Rafly, dan Zakira, Bu Rita ikut melampiaskan kekesalannya pada tukang ojek itu.


Meski disindir tukang ojek itu tetap saja membawa motornya dengan kecepatan standar.


Padahal Bu Rita ingin buru-buru pulang, dia bermaksud ingin menceritakan apa yang terjadi padanya di rumah Rafli kepada suaminya.


Karena sudah tak sabar ,Bu Rita menegur tukang ojek itu.


"Bang cepat sedikit jalannya!saya buru-buru," kata Bu Rita dengan ketus.


"Tapi Bu, saya nggak berani bawa motor laju-laju. Apalagi bawa orang tua seperti ibu," jawab tukang ojek itu.


"Apa kamu bilang, tua? Kamu aja yang tua, saya sih nggak tua. Pokoknya cepat sedikit bang!  Saya ingin cepat sampai di rumah."


"Baiklah kalau ibu menginginkan itu."


Tukang ojek itu menambah kelajuannya sedikit. Ketika melewati lampu merah,dari kejauhan tukang ojek melihat beberapa pengendara motor yang tiba-tiba jatuh di jalan raya.


 Tukang ojek itu pun mencoba mengerem. Namun sudah terlambat. Motor yang digunakan tukang ojek terpeleset akibat jalan yang licin ditumpangi oleh oli. Tukang ojek itu tak mampu mengendalikan motor yang ia bawa.


Bruak …duar! Bruak 


 Akh! Teriak Bu Rita ketika tubuhnya jatuh di atas aspal dengan kaki sebelah menimpa motor. 


"Aduh kakiku sakit!"keluh Rita.


Bu Rita mencoba menarik kakinya yang terjepit pada motor. Akan tetapi sia-sia. Sementara tukang ojek bu Rita tubuhnya terpental jauh.


Bu Rita harus menahan sakit pada bagian kakinya sambil menunggu pertolongan datang.


Namun karena banyaknya korban yang cedera dan luka-luka akibat peristiwa itu. Bu Rita pun terlambat dievakuasi.


Karena tidak kuat menahan sakit pada bagian kaki kirinya, bu Rita seketika pingsan.


Keadaan di jalan raya saat itu begitu rusuh dan sibuk. Kemacetan semakin mempersulit proses evakuasi korban.

__ADS_1


Polisi yang hendak menuju TKP kesulitan dalam menerobos padatnya harus kendaraan.


Bu Rita yang sudah tak sadarkan diri itu dibawa dengan mobil bak terbuka, beserta para korban lainnya. Mereka semua dibawa ke rumah sakit dan langsung mendapat penanganan.


__ADS_2