
Rafli pulang ke rumahnya dengan wajah yang cemberut.
Bu Rita yang sudah bisa berjalan itu menghampiri putranya.
"Bagaimana keadaan Akbar, Rafli?"
Rafku menoleh sejenak ke arah Bu Rita.
"Akbar baik-baik saja Bu. Bahkan keadaan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Ehm, terkadang Ibu rindu ingin bertemu Akbar, Rafli. Kapan kamu bisa bawa Akbar ke sini?"
"Entahlah Bu. Sepertinya Zakira takkan mengizinkan Akbar untuk dibawa. Jika Ibu mau bertemu Akbar, maka kita saja yang menghampiri rumah mereka."
Bu Rita memutar bola mata ke segala arah.
"Kamu paksa dong Zakira, bukannya selama ini kamu juga memberi anak kamu nafkah. Itu berarti kamu juga berhak membawanya tinggal di rumah ini."
"Tidak bisa seperti itu Bu. Akbar itu butuh perawatan khusus. Jadi dia tak bisa di bawa begitu saja."
"Ya sudah, Kalau begitu kapan-kapan kamu bawa Ibu menemui Akbar."
"Oh iya Rafli, Apa kamu ada dekat dengan seorang wanita. Kamu sudah lebih dari 3 bulan menduda. Kamu punya wajah yang ganteng, pastinya ada dong perempuan yang mau sama kamu?"
"Gak ada Bu." Sahut Rafli sinis
"Nggak ada Rafli? Mungkin kamu saja yang nggak mau membuka diri. Ibu tahu kamu masih cinta sama Zakira. Tapi apa yang kamu harapkan dari wanita itu. Sudahlah Rafli, kamu harus buktikan pada Zakira jika kamu bisa mendapat wanita yang lebih baik darinya."
Rafli menyunggingkan senyum sinisnya.
"Sekarang tuh sudah terbukti Bu. Bukan hidup aku yang lebih baik tanpa Zakira, tapi hidup mereka lah yang lebih baik, tanpa aku di samping mereka."
Bu Rita menyeritkan dahinya.
Ia kurang paham apa yang dibicarakan oleh Rafli.
"Anak yang ibu bilang pembawa sial itu, justru kini menghantarkan Zakira pada sebuah kebahagiaan, kenyamanan dengan harta yang melimpah. Zakira yang sekarang bukan Zakira yang dulu, Bu. Mungkin ibu akan sungkan jika bertemu dengan Zakira lagi," tambah Rafli lagi.
"Bicara apa kamu Rafli. Nyatanya kalau nggak dari uang yang kamu berikan, mungkin Zakira nggak bisa membiayai anak-anaknya kan?"
"Zakira diberi wasiat oleh Raymon sebuah perusahaan bertaraf internasional. Perusahaan itu kini beralih kepemilikan dari Reymon sekarang menjadi milik Zakira dan Aufar. Mereka sekarang hidup senang Bu. Mereka tidak kekurangan apapun. Bahkan dari 3 tahun laba bersih perusahaan Cipta Karya, zakira kini memiliki uang tabungan sebesar 1 triliun."
__ADS_1
Bola mata bu Rita terbelalak kaget mendengar uang satu triliun.
"Yang benar Kamu Rafli? Kalau begitu Zakira sudah jadi miliarder dong?"
Rafli menyunggingkan senyum miring
"Tak hanya itu saja Bu, bahkan jika Zakira mau, posisi Reymond sebelumnya sebagai seorang CEO akan digantikan Zakira."
Lagi-lagi bola mata bu Rossa terbelalak.
"Sudah lihat kan Bu Siapa yang lebih bahagia. Ibu ingin aku berpisah dengan Zakira dan anak-anak ku agar aku mendapat kebahagiaan, akan tetapi kenyataannya Ibu salah. Sejak berpisah dengan mereka, aku tak pernah merasa bahagia. "
Rafli bangkit dengan kesal kemudian menuju kamarnya. Bu Rita menatap punggung Rafli yang meninggalkannya.
"Apa benar yang dikatakan Rafli jika Zakira sekarang menjadi seorang milioner? Jika memang benar begitu, aku harus memikirkan cara bagaimana agar Zakira bisa menerima Rafli kembali. Kasihan juga Rafli karena tak ada perempuan yang mau dengannya. Aku yakin Zakira pasti mau menerima Rafli kembali.
Bu Rosa tersenyum menyeringai.
***
Zakira dan Lauren sudah menandatangani surat kepemilikan aset dan perusahaan milik Raymond.
Rencananya hari ini juga Zakira akan pindah ke apartemen, atas permintaan dari Laurent.
Bahkan Lauren memberi sopir kepercayaannya untuk mengantar dan menjemput Aufar dan Zakira.
"Barang-barangnya Akbar sudah siap mbak" kata babysitter.
"Oh iya sebentar lagi kita dijemput, kamu siapkan saja ya barang-barangnya di depan pintu. Sebentar lagi ada mobil pengangkut barang yang datang.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka.
"Baru saya omongin, eh udah datang, "kata Zakira sambil menggendong Aufar dari atas tempat tidur.
"Assalamualaikum," terdengar suara Rafli mengucap salam.
"Sepertinya itu suara Mas Rafli. Mau apa dia?"guman Zakira
"Ayah! Oma!"Seru Aufar ketika melihat kedatangan Rafli.
"Oma? apa ibunya Mas Rafi juga datang, mau apa dia datang kemari?"tanya Zakira heran.
__ADS_1
Terdengar suara Bu Rita menyapa Aufar dengan ramah.
"Eh Aufar sayang. Sudah lama loh oma nggak ketemu Aufar. Sini duduk samping Oma."
Bukannya suudzon. Namun, Zakira curiga jika Bu Rita menginginkan sesuatu darinya. Karena selama ini Bu Rita tak pernah bersikap ramah kepada Aufar.
"Aufar sudah sekolah ya?"tanya Bu Rita.
"Sudah Oma."
Zakira tersenyum sambil menghampiri Bu Rita dan bersalaman dengannya.
Meski Bu Rita selalu jahat. Namun, Zakira tetap menghormatinya.
"Ibu dari mana?" tanya Zakira.
"Dari rumah."
Zakira bersalaman dengan bu Rita kemudian mendaratkan bokongnya di atas sofa, tepat berhadapan dengan Bu Rita
"Oh iya Zakira kata Rafli kamu mau kerja ya?"
"Iya Bu."
"Kalau kamu kerja, biar Aufar sama Akbar Ibu saja. Ibu kan tidak bekerja."
Zakira mengulum senyumnya.
"Tidak apa-apa Bu, terima kasih Saya sudah punya baby sitter untuk mengurus mereka berdua."
Bu Rita merasa begitu kecewa. Namun Ia tetap berusaha menutupi kekecewaannya itu.
"Kamu kok lebih percaya orang lain sih. Ibu ini kan neneknya, yang pasti lebih sayang lah dengan anak-anak kamu dibanding babysitter yang notabennya orang asing itu."
"Nggak apa Bu, mereka juga saudara saya Bu. Karena itulah saya berani mempekerjakan mereka untuk menjaga Aufar dan juga Akbar."
"Oh begitu. Kalau begitu boleh dong saya sesekali membawa Aufar dan Akbar ke rumah saya, kakeknya pasti seneng banget melihat cucunya datang ke rumah."
"Bagaimana ya?" Zakira ragu untuk menolak. Sebenarnya Ia tidak percaya sama ibunya Rafli.
Ayolah Zakira. Saya tidak mungkin menyakiti cucu-cucu saya."
__ADS_1
"Maaf Bu, saya tidak bisa. Kalaupun Akbar dibawa, harus ada Rina yang mengawasinya. Sementara Aufar, saya tidak percayakan siapapun untuk membawanya."
Bu Rita semakin kecewa. Namun ia berusaha untuk tak menampakkannya. Karena ia punya misi untuk menyatukan Zakira dan Rafli kembali, setelah lamarannya ditolak oleh beberapa orang wanita.