Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Bujuk Akbar


__ADS_3

Zakira mencoba menghubungi beberapa orang yang ia kenal untuk mencari donor darah.


Baik itu dari karyawan maupun dari teman-temannya.


Sebenarnya ia bisa saja meminta pertolongan keluarga Rafli yang lain, hanya saja Zakira khawatir jika keluarga Rafli juga mengidap penyakit yang sama karena pasien yang menderita thalasemia tak terlihat seperti mengidap penyakit ini, bahkan banyak yang tak menyadari dan salah satunya adalah Rafli.


Zakira mengutak Katik handphonenya mencari kontak yang bisa dia hubungi.


Tiba-tiba dia teringat akan Rio.


"Oh iya aku tanya Rio saja ."


saat itu juga Zakira menghubungi Rio.


"Halo assalamualaikum Rio,"


"Waalaikumsalam Za."


"Rio aku bisa minta tolong sama kamu gak?"


"Bisa dong. Kamu butuh bantuan apa?"


"Yo, punya kenalan nggak seseorang yang memiliki golongan darah AB."


''Golongan darah AB, kebetulan golongan darah aku AB, Za."


"Alhamdulillah, yang benar Yo?"


"Bener lah, kenapa aku harus bohong."


"Kalau begitu kamu bisa bantu aku kan Yo? Aku butuh donor darah golongan AB."

__ADS_1


"Oh jangan kan donor darah, hati aku juga aku siap donor in untuk kamu Za." Rio tersenyum di sebarang telepon.


"Ehm dasar modus. ya sudah yo. Nanti kita janjian di PMI ya, aku mau antar darah untuk Akbar dulu."


"Gak usah Za, kamu urus aja anak kamu biar aku yang datang sendiri ke PMI."


"Oh iya kalau begitu terima kasih ya Yo."


"Sama-sama Za."


"Alhamdulillah akhirnya aku punya donor darah untuk Akbar."


Zakira langsung melaju menuju rumah sakit. Saat ini pikirannya sedikit tenang, karena telah mendapatkan donor darah untuk Akbar.


Sesampainya di rumah sakit Zakira langsung memberikan kantong darah itu pada dokter dan dokter langsung memasang transfusi darah untuk Akbar.


Akbar membuka matanya karena merasa ada jarum yang menusuk kulitnya.


"Hiks, Bunda kenapa Akbar disuntik lagi?" tanyanya sambil menarik tanganya.


"Maaf ya Sayang, ini semua agar Akbar sembuh," tutur Zakira sambil menetes air matanya.


"Tidak mau! Akbar gak mau di suntik lagi, hiks."


Akbar meronta-ronta sambil menarik tangannya agar tidak di suntik.


"Tidak, sakit! sakit! kemaren sudah di suntik kenapa sekarang di suntik lagi!" teriak Akbar.


Hati Zakira seperti teris-iris melihat rintihan dan keluhan kesakitan dari Akbar. sebenarnya ia tak ingin menyakiti putranya itu. Namun ,ini semua terpaksa demi kesembuhan Akbar.


"Tenanglah nak, tidak sakit kok," bujuk Zakira.

__ADS_1


"Tidak mau Bunda, bukannya Akbar sudah ditransfusi darah kemarin. Bunda jahat! Bunda suruh om dokter suntik Akbar," omel Akbar meski cara bicaranya masih Cadel.


"Jangan seperti itu Sayang. justru karena Bunda sayang dengan Akbar karena itu lah Bunda ingin Akbar sembuh."


"Bunda jahat hiks, Bunda bohong, katanya dua bulan lagi baru di suntik," tangis Akbar lagi.


"Gak Nak, bunda hak bohong itu karena Akbar tiba-tiba jatih sakit."


Segala macam bujukan dan rayuan dilakukan oleh Zakira agar Akbar di pasang alat transpusi darah.


Akhirnya Aufar ikut angkat bicara untuk membujuk Akbar


"Iya Akbar, Sakit nya kan sebentar saja, nanti kalau akbar gak mau suntik kasihan Bunda, Bunda pasti sedih," bujuk Aufar sambil mengusap kepala adiknya.


Zakira terus saja menangis. Sebenarnya dia benar-benar tak tega membiarkan jarum suntik itu melukai putra"nya yang sudah cukup menderita.


Akbar menatap Zakira yang menangis sambil sesekali menghapus air matanya.


Melihat Zakira seperti itu, Akbar ikut sedih.


"Iya Bunda, Akbar mau di suntik, tapi bunda jangan menangis ya," ucap Akbar dengan bibir yang mencebik.


mendengar hal itu Zakira jadi sangat terharu. Di peluknya Akbar.


"Terima kasih Sayang. Percayalah suatu saat nanti kamu akan mengerti jika apa yang bunda lakukan ini untuk kebaikan kamu, hiks. Karena Bunda begitu menyayangi kamu." Zakira menamgis memeluk Akbar.


"Iya Bunda, Akbar juga Sayang sama Bunda," ucap Akbar sambil mengusap punggung Zakira yang memeluknya.


Dokter dan Suster yang melihat ikut terharu. Mereka tahu bagaimana perjuangan Zakira dalam mengobati anaknya, meskipun ia seorang single parents.


Setelah di bujuk Akhirnya Akbar merelakan tanganya untuk di pasang alat transpusi darah.

__ADS_1


Akbar tetap tersenyum meski ia merasakan kesakitan karena tak ingin melihat Zakira bersedih.


__ADS_2