Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Menolak


__ADS_3

"Berhenti!" teriakan seorang pria menggema di ruangan itu. Namun, tak cukup membuat Rafli menghentikan serangannya kepada Raymond.


Dua orang pria lainnya datang untuk melerai kemudian mereka menarik kedua tangan Rafly agar menjauh dari tubuh Raymond.


"Dasar bangsat! bedebah!" Caci maki Rafli sambil menggerak-gerakan kakinya yang ingin menendang-nendang Raymond kembali.


"Sabar Pak, Apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda bisa menyerang Pak Raymond."


Huah-huah Rafli masih mengatur nafasnya yang masih saja memburu, ingin rasanya menghabisi pria yang tergeletak di lantai dan babak belur karenanya itu.


"Anda tanyakan sendiri pada bos bejat anda itu! Saya punya alasan tersendiri untuk menghajar bahkan membunuhnya sekalipun!"


Dua orang pria lainnya menghampiri Raymond dan membantu Raymond untuk berdiri.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada anda Pak Raymond? Kenapa laki-laki ini berani memukul anda di ruangan anda sendiri?" tanya salah satu karyawan.


"Dia menuduh  saya telah membawa kabur istrinya. Padahal saat ini istrinya di rumah sakit," ucap Reymond dengan nafas yang tersengal-sengal.


Seketika Rafli membelalakkan bola matanya.


"Kau berbohong !kau tidak pernah bilang jika Zakira di rumah sakit saat ini."


"Istrimu itu mengalami pendarahan, aku membawanya ke rumah sakit. Tapi kau menuduh kami berselingkuh," ucap Raymond yang kembali memutar balikan fakta.


"Bukannya Anda sendiri yang mengakui jika anda lah orang yang telah menghamili istri saya!"


Teriak Rafli dengan kencang.


Keempat pria tadi langsung membelalakkan bola matanya mendengar ucapan dari Rafly.


"Apa buktinya jika aku yang melakukan itu?!"tantang Reymond 


Rafli teringat akan rekaman suara yang kini dipasang di saku kemejanya.


'Tidak aku tak boleh memberitahu nya jika aku telah merekam semua perkataannya, biar ku jadikan barang bukti di pengadilan,' batin Rafly 


Sambil mengatur nafas.


 Rafli tertunduk. Dia tak ingin melihat wajah Raymond yang akan membuatnya emosi dan menghancurkan segalanya.


"Jamal! lapor pada polisi karena dia telah melakukan penganiayaan terhadap saya!" Teriak Reymond


"Baik Pak, saya akan lapor kepada polisi," ucap salah seorang karyawan Reymond.


"Ayo, kamu sudah bikin kekacauan di sini! Sekarang juga kamu saya bawa ke ruang keamanan sambil menunggu polisi datang."


Sinta  bersembunyi di toilet, dia takut bertemu  Rafly.


"Ya Tuhan, semoga semua ini cepat terbongkar dan pak Reymond segera mendapatkan hukuman."


"Zakira maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini, aku takut karena pak Reymond mengancam ku," ucap Sinta lirih.

__ADS_1


Rafly kemudian ditarik keluar dari ruangan itu menuju ruang pengamanan. Saat itu asisten Reymon sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.


Setelah Rafly pergi dari ruangan Reymond barulah Sinta kembali ke mejanya.


Sinta duduk dengan tubuh yang gemetar. Dia membuka penutup air mineral dan meneguk air  untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. 


Sinta kembali meneguk air mineral agar kembali tenang.


"Sinta! Kau dipanggil pak Reymond," seru Jaka dari arah pintu.


"Hah! Ada apa lagi ini."


Karena takut di marahi oleh Reymond.


Dengan langkah kaki yang gemetar Sinta menghampiri ruangan Reymond.


"Ada apa Pak?"


"Sinta! Kau harus bersedia menjadi saksi yang akan memberatkan Rafli," titah Reymond.


"Loh kenapa saya Pak, saya kan tidak melihat kejadian dengan mata kepala saya sendiri."


"Pokoknya kalau saya bilang kamu harus jadi saksi, ya harus  jadi saksi, katakan hal yang akan memberatkan Rafly, biar dia masuk dalam penjara. Kalau perlu sampai dipecat."


"Kamu juga harus mempengaruhi Zakira, agar dia membenci suaminya dan menganggap saya adalah malaikat penolongnya!"


Sintia menatap tajam ke arah Reymond.


Reymond kaget mendengar ucapan Sinta.


Sinta langsung pergi begitu saja.


"Sinta mau kemana kamu?!  Kamu masih punya  hutang seratus juta pada saya!" 


Tanpa memperdulikan Reymond, Sinta terus berlalu dan membereskan barang-barangnya. 


"Aku sudah tak tahan jika harus bekerja dengan pak Reymond! Biasa-biasa aku juga akan di penjara karena mengikuti rencana bodohnya, hiks."


Sinta menghapus air matanya. Dia menguatkan diri untuk mengakhiri semua ini, meskipun nyawanya sendiri jadi taruhannya.


Setelah barang-barang Sinta beres, Sinta menelpon suaminya untuk menjemputnya. 


"Mas, jemput aku sekarang mas hiks."


"Maaf Sayang, mas lagi di luar kota nih sedang mengawasi lokasi proyek."


"Luar kota?Ya sudah mas, jika terjadi sesuatu pada aku suatu saat nanti kamu harus baca buku harian aku Mas, hiks."


"Sayang kenapa kamu bicara seperti itu sih?" Romi kaget mendengar kata-kata Sinta.


"Gak apa-apa Mas, hiks."

__ADS_1


"Sayang kamu menangis? Kamu kenapa sayang?" tanya Romi suami Sinta.


"Gak ada apa-apa Mas. Aku mencintaimu!"


"Aku juga mencin…," kata-kata Romi terputus, karena sambungan teleponnya terputus.


Setelah menelpon suaminya Sinta bergegas keluar dari kantor menaiki Lift. Sinta berpapasan dengan seseorang yang juga menaiki lift. 


Sayang lift tersebut naik ke lantai 6 terlebih dahulu dimana tujuan pria yang bersama Sinta saat itu.


Di dalam Lift Sinta memesan taksi online kemudian mengirimkan pesan kepada Rafly. Sinta memberitahu apa sebenarnya yang terjadi pada Zakira


Ting pintu lift terbuka di lantai 6.


***


Seorang pria menghampiri satpam yang berjaga.


Kebetulan Rafly masih berada di ruang Satpam tersebut. Rafly masih di intrograsi oleh pihak satpam sambil menunggu polisi yang datang.


"Selamat siang Pak."


"Iya selamat siang?" tanya Satpam.


"Maaf Pak, apa ada karyawan bernama Sinta Yunita?"


"Oh iya Pak. Ada apa ya pak?" tanya pak Satpam balik.


"Oh mbak Sinta order perjalanan Pak. Tapi setelah sepuluh menit kok dia belum menghampiri saya."


"Oh Mungkin mbak Sinta lupa kali mas. Coba hubungi Mas."


"Sudah Mas, tapi gak bisa di hubungi. Saya jadi bingung nih mas. mau tunggu atau lanjut. Karena gak ada kejelasannya."


"Oh Ya sudah, berapa biaya perjalanannya Mas?"


"Lima puluh ribu saja sih Pak."


"Ya sudah saya saja yang  bayar ya pak. Nanti besok saya akan beritahu pada mbak Sinta."


Pak Satpam menyodorkan uang lima puluh ribu kepada supir taksi tersebut.


"Oh iya terima kasih ya Pak."


Tak berapa lama dua orang polisi pun datang ke kantor. 


Setelah menjelaskan kronologi kejadian, Rafly dibawa oleh dua orang polisi tersebut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2