Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Bertemu Rafli Di Sekolah


__ADS_3

Zakira kini punya kebiasaan baru yakni mengantar dan menunggu Aufar sekolah.


Sambil menggendong putranya Akbar,Zakira selalu duduk di bawah sebuah pohon rindang yang ada di halaman sekolah. Karena jarak sekolah dan rumah cukup jauh untuk pulang pergi, selama berjam-jam Zakira menunggu.


Terkadang dia sambil berbelanja, terkadang dia menunggu di kantin sekolah, sampai Aufar pulang.


Untuk menghilang kebosanan dirinya dan Akbar, dia sering berjalan-jalan mengelilingi sekolah.


"Bunda Aufar !" Panggil seorang guru ketika Zakira melewati kantor.


Zakira menoleh kemudian menghampiri guru tersebut.


"Bunda bisa kita bicara sebentar?"


"Ada apa ya Bu, apa ada masalah dengan Aufar ?" tanya Zakira.


'Gak ada apa-apa Bu. Hanya saja saya ingin memberikan berita bahagia. Kalau begitu ibu duduk dulu."


Zakira duduk di kursi sofa yang ada di kantor. Saat itu ada beberapa guru lainnya juga.


"Oh ini bundanya Aufar ya?" tanya salah seorang guru.


Zakira tersenyum.


''Aufar itu ayahnya blasteran ya Bu?"


Zakira sedikit bingung dengan pertanyaan pak guru itu. Secara fisik  memang Aufar memiliki paras seperti bule. Hidungnya mancung, rambutnya yang kecoklatan, dia juga beralis tebal. Begitu mirip dengan Reymond. Namun, tentu saja Zakira mengingkarinya.


"Hm gak pak ayah Aufar orang pribumi kok, memangnya ada apa?" 


"Oh, Aufar anak kandung ibu?"


"Iya pak anak kandung saya, kenapa?" Zakira semakin heran dengan pertanyaan pak guru itu.


"Oh mungkin di rumah Aufar menggunakan bahasa Inggris ya di kesehariannya?"


"Tidak juga pak. Karena saya gak fasih bahasa Inggris."


"Hah, lalu Aufar fasih berbahasa Inggris dari mana Bu?"kali ini pak guru yang kaget.


"Aufar fasih berbahasa Inggris?" tanya Zakira yang juga  kaget.


"Iya Bu. Tadinya saya pikir keseharian Aufar berbahasa Inggris di rumah, mungkin saya pikir Ayah Aufar bule karena wajah Aufar yang seperti bule itu."


Zakira tersenyum mendengar ucapan dari guru itu.


"Saya gak pernah berdialog dengan menggunakan bahasa Inggris pak, tapi Aufar sering menonton channel yang menggunakan berbahasa Inggris. Saya pikir dia tak mengerti bahasa Inggris, hanya mendengarkan saja. Maklum saja Pak, saya single parent, jadi kurang memperhatikan Aufar karena sibuk mengurusi rumah tangga."


"Wah anak ibu anak ajaib dong ya," kata pak guru itu sambil tersenyum bangga.

__ADS_1


"Anak ajaib? Zakira tertawa kecil. Kenapa bisa begitu pak."


"Pada awalnya kami juga tak mengetahui tentang Aufar. Kami memberikan materi perkenalkan dalam bahasa Inggris untuk murid-murid TK. Rata-rata mereka hanya bisa memperkenalkan dirinya dalam bahasa Inggris, itu pun hanya nama mereka dan kedua orang tuanya. Sementara Aufar dia bisa bercerita dalam bahasa Inggris secara fasih di depan teman-temannya tentang keseharian."


Zakira memperlebar pupil matanya karena benar-benar kaget mendengar ucapan dari pak guru itu.


"Jadi kami coba memberikan materi bahasa Inggris secara bertahap kepada Aufar dengan mengajarinya di setiap materi. Dan setelah diberikan arahan sedikit, dan Masya Allah Aufar bisa mengisi ujian dari setiap materi yang di berikan itu hingga tingkat kelas 6 SD."


"Hah!" Zakira semakin kaget.


"Benarkah Pak?"


"Iya Bu. Karena Aufar bisa menyelesaikan soal-soal yang kami berikan dari materi umum sampai bahasa Inggris. Kami hendak mendaftar Aufar pada uji coba olimpiade sains dan matematika tingkat SD tiga bulan lagi se-Indonesia," sambung  Bu Halimah, kepala sekolah TK Aufar.


"Masya Allah, benarkah begitu bapak, ibu. Saya tidak menyangka jika anak saya memiliki kemampuan yang luar biasa, meskipun dia memang memiliki kelebihan dibanding anak seusianya."


"Iya Ibu, mungkin selama ini ibu tidak menyadari atau kemampuan Aufar harus diasah sedikit demi sedikit agar berkembang. Saya yakin dengan didikan yang tepat dan sesuai Aufar akan jadi salah satu putra bangsa yang akan membanggakan kita semua."


Bukan main bangga dan harunya Zakira mendengar ucapan dari kepala sekolah SD itu.


"Aamiin.saya menang jarang mengajari Aufar ilmu pengetahuan, saya pikir anak seusianya belum sesuai untuk belajar ilmu pengetahuan. Saya hanya mendidik akhlaknya serta mengajarkan mengaji."


"Iya Bu, kata guru Aufar, Aufar juga hafal juz Amma. Daya ingatnya sungguh luar biasa, Semoga Aufar menjadi penghafal Qur'an karena anugerah yang ada padanya," Bu Halimah 


"Iya Pak, rencananya juga begitu."


 Bahkan karena kecerdasannya Aufar sudah bisa masuk di kelas 3 SD langsung awal tahun ajaran baru nantinya atas rekomendasi dari kepala sekolah langsung.


Setelah berbicara pada guru-guru itu Zakira keluar dari ruangan tersebut. Berbarengan dengan Aufar yang juga keluar dari kelasnya.


Dari kejauhan Zakira melihat Rafli yang menghampiri Aufar. Melihat Rafli, Zakira buru-buru menghampiri mereka.


***


"Aufar!" Panggil Rafli.


"Ayah!" Aufar menghampiri Rafli kemudian memeluknya.


"Aufar ternyata sekolah di sini. Kenapa tidak bilang pada ayah?" tanya Rafli sambil mengurai pelukannya.


"Ayah tau Aufar dari sini dari mana?" tanya Aufar balik.


"Ayah tanya sama tetangga. Bunda dimana Nak?" tanya Rafli.


"Tuh Bunda!" Aufar menunjuk ke arah Zakira yang berjalan menghampiri mereka.


Rafli menoleh ke arah Zakira seraya tersenyum.


"Eh Za, kamu kok gak bilang Aufar sudah sekolah?"

__ADS_1


"Aku lupa Mas."


Rafli menghampiri Zakira kemudian menggendong Akbar.


"Kapan Akbar cuci darah Za?" tanya Rafli.


"Dua hari yang lalu."


"Hah, kok kamu gak ngasih tau aku sih. Aku kan bisa temani kamu."


"Gak perlu ditemani Mas, aku sudah terbiasa sendiri kok."


"Tapi Za, aku kan ayahnya. Aku harus tau dong kapan anak aku cuci darah."


"Oh iya mungkin lain kali Mas, maaf aku bermaksud untuk tak merepotkan kamu, jadi jika hanya cuci darah saja aku bisa kok jaga Akbar. Lagi pula aku gak kerja juga, jadi fokus ngurusin anak-anak ku. Hak seperti kamu kerja dan harus mengurusi ibumu juga."


"Oke kalau begitu lain kali kamu beri tau aku ya."


Zakira hanya mengangguk.


"Aku hari ini libur Za, bagaimana kalau kita bawa Aufar dan Akbar ke taman bermain, atau sekedar jalan-jalan?"


"Gak usah mas, baru saja minggu kemarin aku bawa Aufar dan akbar ke mall. "


" Gak apa-apa dong. Hari ini kita pergi lagi."


"Nggak bisa mas, aku capek, karena selama beberapa jam berdiri menunggu Aufar pulang sekolah."


Wajah Rafli terlihat kecewa. Namun Rafli mengerti jika Zakira lelah karena harus mengurus dua anaknya yang masih balita tanpa bantuan siapapun.


"Kalau makan-makan dulu  boleh ya Za?" tawar Rafli.


"Aduh mas, aku benar-benar capek. Pulang dari sekolah aku mau langsung pulang dan istirahat."


Wajah Rafli semakin terlihat kecewa.


"Ya sudah, aku antar kalian pulang saja ya."


"Gak usah, aku sudah sewa sopir taksi untuk mengantar dan menjemput kami, jadi kamu nggak usah repot-repot untuk mengantar kami, lagi pula kita tak searah kan?"


Rafli terdiam menatap Zakira.


"Ayo Nak kita pulang," ajak Zakira sambil meraih tangan Aufar.


"Dadah Ayah!" Aufar melambaikan tangan pada Rafli. Sementara Rafli hanya terdiam melihat Zakira dan Aufar yang perlahan menjauhinya.


"Zakira sepertinya menghindari ku, apa aku bisa menyakinkan Zakira agar kami bisa bersama lagi," guman Rafli.


 

__ADS_1


__ADS_2