
Sesampainya di rumah, Zakira mendapati Lauren sudah menunggu di depan rumahnya.
"Bunda itu tante Laurent!" Seru Daffa.
"Iya Sayang, tapi darimana dia tahu alamat kita." Zakira sedikit heran dengan kedatangan Lorent. Bahkan Lauren rela menunggu hingga mereka pulang.
Ternyata di belakang ada mobil Rafli yang mengikuti Zakira sejak di sekolah.
Zakira turun dari mobilnya, kemudian ia menghampiri Lauren yang tersenyum ramah padanya.
"Selamat siang Zakira, selamat siang Aufar," ucap Lauren dengan cadel.
"Selamat siang juga nyonya Lauren, ada apa ya kok anda bisa tahu saya tinggal di sini?" tanya Zakira heran.
Lauren hanya tersenyum.
"Bisa kita bicara sebentar di dalam Zakira?" tanya Lauren.
"Baiklah, kalau begitu silahkan masuk nyonya."
Mereka pun masuk kedalam rumah Zakira.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rafli menghampiri rumah Zakira. Ekspresi tidak senang ditunjukkan oleh Rafli ketika Lauren menatapnya dengan tatapan heran.
"Saya bikin minum dulu ya," ucap Zakira sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya silahkan."
"Ada apa Ya?"tanya Rafli pada Lauren. Rafli khawatir Lauren akan berbuat macam-macam pada mantan istri dan juga anak-anaknya.
"Tidak apa-apa, tenang saja. Kedatangan saya kemari untuk menyampaikan sebuah fakta yang harus saya jelaskan pada kamu Zakira."
"Fakta? fakta apa?" tanya Rafli.
__ADS_1
"Nanti saja saya jelaskan, karena ini hanya berurusan antara saya Zakira dan Aufar," Sahut Lauren.
Beberapa saat Zakira kembali dengan membawa dua gelas minuman hangat.
"Silakan diminum," kata Zakira sambil meletakkan minuman di atas meja.
Lauren meneguk minuman itu beberapa tegukan kemudian meletakkan gelasnya kembali di atas meja.
"Begini Zakira. Saya tidak ingin berbasa-basi lagi. Kedatangan Saya kemari untuk memberitahu hal yang sebenarnya."
Zakira dan Rafli menatap serius ke arah Lauren.
Lauren mengeluarkan selembar kertas kemudian menyerahkannya pada Zakira. Meski tulisan itu berbahasa Inggris. Namun, Zakira bisa mengerti jika isi tulisan itu berisi surat wasiat dari Raymond untuk bayi yang dilahirkan yakni Aufar."
"Jadi Reymond sudah meninggal? Dan dia mewariskan seluruh aset perusahaan miliknya untuk Aufar?" tanya Zakira pada Lauren untuk memastikan isi surat tersebut.
Bukan main terkejutnya Raffi mendengar pernyataan Zakira itu.
Lauren tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Setelah tiga tahun meninggalnya Reymon kami mentotal pendapatan bersih perusahaan Raymond sekitar 1 triliun, dan itu semua tersimpan atas nama kamu dan Aufar," ucap Laurent.
Zakira lagi-lagi membelalakkan bola matanya. Begitupun dengan Rafli. Rafli sampai kesulitan menelan air ludahnya sendiri.
Tak pernah terbayangkan oleh mereka kejadian ini bisa terjadi.
"Satu triliun? Dan itu semua atas nama saya dan Aufar?" tanya Zakira.
Hampir saja jantung Zakira copot mendengar ucapan Lauren.
"Iya Zakira. Karena saya tahu kamu sudah bercerai dengan mantan suami kamu, maka dari itu saya memberikan pendapatan bersih perusahaan Reymond untuk kamu dan Aufar. Raymond adalah saudara saya, beliau begitu mencintai kamu semasa hidupnya. Namun, sayangnya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, Karena kamu telah memilih laki-laki lain."
Jantung Rafli berdetak kencang mendengar itu.
__ADS_1
"Seandainya kamu memilih Reymond daripada suami kamu, mungkin kamu akan bahagia. Karena saya tahu sendiri betapa cintanya Reymon terhadap kamu Zakira. Saya memberikan semua aset yang dimiliki Reymon pada kamu, karena saya begitu menghormati adik saya. Apalagi saat ini kamu sudah menjanda, pasti kamu butuh banyak uang untuk menghidupi kedua anak kamu."
Seperti mimpi Zakira mendengarkan penuturan dari Lauren tersebut. Begitupun pun dengan Rafli.
Zakira terdiam karena tak tahu harus berkata apa lagi.
"Kalau kamu mau, kamu bisa memegang posisi CEO di perusahaan Reymond saat ini Zakira. Untuk menjaga perusahaan tersebut tetap berjalan dan berkembang dengan baik sampai saat ini saya sendiri yang menjadi CEO dari perusahaan itu. Saya harus bolak balik dari Amerika ke Indonesia dan itu saya lakukan setiap dua minggu sekali. Saya senang sekali jika kamu menduduki posisi CEO saat ini, karena saya tahu kamu juga pernah kuliah di bidang manajemen bisniskan?"
Glek… Zakira menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Entahlah ia harus bahagia atau justru merasa keberatan atas tawaran yang diberikan oleh Lauren.
'Kamu bisa menduduki posisi CEO menggantikan saya, saya percayakan perusahaan adik saya kepada kamu. Saya juga percayakan pengasuhan Aufar sepenuhnya pada kamu. Mungkin besok atau lusa saya akan datang kemari membawa pengacara dan juga notaris untuk pengalihan aset dan kepemilikan dari atas nama Raymond menjadi nama kamu dan Aufar. Bagaimana Zakira, kamu siapkan menerima tanggung jawab ini?"
Lagi-lagi Zakira dan Rafli hanya bisa terdiam.
"Kamu pikirkan baik-baik Zakira, ingat masa depan anak kamu, tak semua orang memiliki keberuntungan seperti yang kamu dapatkan saat ini. Jadi manfaatkan lah."
Rafli menundukkan wajahnya. Dia berharap Zakira tak menerima tanggung jawab itu. Karena jika Zakira mengambil alih posisi CEO akan semakin sulit bagi Rafli untuk mendekati Zakira.
Keadaan kembali hening. Zakira masih memikirkan tawaran Lauren.
"Baiklah Zakira, karena apa yang ingin saya sampaikan Sudah saya sampaikan. Saya permisi dulu. Besok atau lusa saya akan temui kamu, kita akan sama-sama menandatangani surat pergantian kepemilikan perusahaan Cipta Karya."
'Iya Nyonya Lauren, terima kasih."
Lauren menghampiri Aufar, kemudian mencium pipi Aufar kanan dan kiri." Kamu begitu mirip dengan daddy mu," ucap dalam bahasa Inggris.
***
Zakira mengantar Lauren pulang hingga wanita itu masuk ke dalam mobil.
Rafli masih duduk melamun memikirkan nasibnya kini.
__ADS_1
Dia sungguh-sungguh menyesali keputusan yang telah menceraikan Zakira. Kini Zakira punya segalanya Sementara dia tak punya apapun untuk membuktikan pada Zakira jika sampai saat ini hatinya masih mencintai Zakira.