Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Semakin Benci


__ADS_3

Melihat Zakira yang terlihat sedih, Rafly pun menghampirinya.


"Iya sini biar aku yang meng azankannya."


Rafly menggedong bayi itu kemudiannya membawanya ke arah kiblat.


Tak dipungkiri ketika melihat bayi itu hari Rafly terasa sesak. Dia selalu membayangkan wajah Reymond yang telah menodai istrinya. Berbeda ketika Zakira  belum melahirkan dan Rafli belum melihat sosok bayi tersebut.Namun karena iba melihat Zakira, Rafly berusaha menutupinya.


Setelah mengadzankan bayi tersebut Rafly menaruh bayi nya di samping Zakira.


"Aku tahu mas, kamu pasti sakit hati ketika melihat bayi ini. Karena anak ku ini begitu mirip dengan Reymond," Ucap Zakira lirih.


Rafly diam beberapa saat. Zakira yang masih lemah itu menggendong bayinya.


"Jika kamu gak bisa menerima anak aku, aku rela kok mas kamu tinggalkan," ucap Zakira.


"Sudahlah Zakira, jangan dibahas. Aku bisa terima kamu itu berarti aku juga bisa terima bayi itu."


Zakira menatap ke arah Rafly. Dia tidak puas dengan apa yang dikatakan Rafli. Rafly terpaksa menerima anak nya karena dirinya saja.


Zakira berbaring sambil memeluk bayi itu.


"Semoga kamu kelak jadi orang sukse Nak, jadi anak yang berbakti seperti apapun pandangan orang terhadap kamu."


***


Karena tak bisa mengambil cuti terlalu lama, di hari kedua istrinya melahirkan Rafly sudah harus pergi dinas.


Kebetulan dia mendapat dinas pagi dan harus melaksanakan upacara pagi ini.


Karena itu sebelum berangkat, Rafly membantu Zakira  untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia menyiapkan sarapan untuk Zakira.


Karena tak ada yang menunggu Zakira,  terpaksa bayi Zakira dititipkan di ruang perawatan bayi. Agar Zakira bisa beristirahat dengan leluasa.


Rafly sudah siap dengan seragamnya dia pun menghampiri Zakira.


"Zakira, Maaf ya aku harus pergi kerja. Kamu jaga diri baik-baik ya."


"Baik Mas."


Zakira mencium punggung tangan suaminya.


"Kalau butuh sesuatu mintalah pada suster. Jangan memaksakan diri untuk bergerak ingat kamu habis melakukan operasi caesar."


"Iya Mas."

__ADS_1


"Ya sudah aku pergi dulu." Sebelum pergi Rafli mengecup kening Zakira.


Rafly menoleh ke arah Zakira lagi, entah kenapa dia begitu berat meninggalkan Zakira  untuk pergi kerja di pagi ini


***


Setelah sepeninggalan Rafli, keadaan di ruang itu menjadi sunyi. Zakira berbaring dengan mata yang tertutup. Matanya terasa berat dan sulit untuk dibuka.


Zakira mendengar langkah kaki seseorang.


"Bu ini kacang hijaunya saya letakkan di atas meja."


Zakira melirik ke arah seorang wanita yang mengenakan seragam rumah sakit. Setelah itu dia kembali terpejam karena madih mengantuk.


Semalam Zakira memang tak bisa tidur karena nyeri pada bagian jahitannya.


Zakira kembali menutup matanya. Tak berapa lama dari kepergian Suster itu, Zakira  mendengar langkah kaki lagi.


Zakira membuka matanya sedikit ketika dia melihat seorang wanita berpakaian suster dia kembali membuka menutup matanya.


Wanita itu memeriksa  infus Zakira,


 Karena merasa yang berada di sampingnya itu seorang suster Zakira pun melanjutkan tidurnya.


Zakira masih mendengar suara langkah kaki suster tersebut. Dia pun kembali terlelap.


Zakira mencoba untuk bangkit melihatnya  air kacang hijau yang ada di atas nakas. Zakira pun meraih gelas itu dan meminumnya.


Baru seteguk diminum, Zakira merasa rasa aneh dari minuman tersebut. Air kacang hijau  itu terasa pahit . Dia pun tak jadi meminumnya. Tiba-tiba zakira merasa nafasnya terasa sesak dan kepalanya terasa pusing.


Dalam waktu sekejap tubuh Zakira kejang-kejang.


Saat yang bersamaan datang seorang suster. Suster itu pun kaget melihat Zakira yang kejang-kejang di atas tempat tidurnya.


"Mbak! Mbak!"


Dengan cepat suster menekan tombol emergency. Kemudian dia menghubungi salah seorang dokter agar datang memeriksa Zakira


Suster itu mencoba melakukan pertolongan pertama pada Zakira.


Beberapa menit kemudian seorang suster datang kembali.


"Ada apa Suster?" kedua Suster itu terlihat panik karena ketika kejang-kejang mulut Zakira mengeluarkan buih.


Tidak tahu suster, tiba-tiba saja dia kejang-kejang dan mulutnya berbuih mungkin dia keracunan."

__ADS_1


Kedua Suster itu mencoba melakukan pertolongan pertama sambil menunggu dokter datang.


Beberapa saat kemudian dokter datang, dan Zakira diperiksa kemudian dibawa ke ruang ICU karena keadaan yang kritis.


Pihak rumah sakit langsung memeriksa makanan dan obat-obatan yang dikonsumsi Zakira saat itu. Sisa bubur dan juga air kacang hijau juga ikut diperiksa untuk melihat makanan apa yang meracuni Zakira.


Selain itu mereka juga melihat CCTV pada saat kejadian.


Memang ada seorang yang mengenakan seragam Suster Masuk ke ruangan itu. Seluruh suster yang menangani Zakira di hari itu pun diperiksa.


Pihak rumah sakit langsung menghubungi polisi untuk memeriksa TKP.


Rafly yang mendapat kabar tentang Zakira pun langsung menghampiri rumah sakit.


Dengan panik Rafli menuju ruang ICU dimana Zakira di rawat.


"Apa sebenarnya yang terjadi suster? Kenapa istri saya bisa keracunan?" tanya Rafli dengan emosi.


"Maaf Pak sepertinya ada seseorang yang sengaja menyamar menjadi suster, kemudian menaruh racun pada minuman pasien. Karena pasien tak ada yang menjaga pelaku dengan mudah melancarkan aksinya tersebut."


"Lalu bagaimana keadaan istri saya saat ini?" tanya Rafly panik.


"Istri anda saat ini masih dalam penanganan intensif beruntung racun itu tak sampai merusak organ penting di tubuhnya."


Rafly terdiam menatap suster itu dengan tatapan berembun.


"Ya Allah siapa yang tega melakukan ini," ucap Rafli dengan sedih.


Rafly duduk di kursi yang ada di depan ruang ICU menunggu kabar Zakira yang sedang ditangani.


"Ya Allah selamatkan lah istri hamba, dia sudah begitu banyak menderita  ya Allah," lirih Rafli. Dia pun tertunduk sedih.


Tiba-tiba Rafli mendongkrak kepalanya.


"Pasti Reymond yang telah melakukan ini. Dia tak pernah puas untuk menyakiti Zakira," guman Rafly dengan tangan yang mengepal dan rahang yang mengeras.


'Lihat saja Reymond jika aku menemukan mu akan ku bunuh kau!' batin Rafly. Kebencian Rafly terhadap Reymond pun semakin menjadi-jadi.


Tiba-tiba Rafli teringat akan bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya itu.


"Aku tidak sudi mengakui bayi itu sebagai anakku. Dalam  mengalir darah bajingan Reymond."


Tubuh Rafly bergetar karena kebenciannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2