
Setelah berjalan-jalan beberapa saat, Akbar lebih memilih untuk kembali ke ruang perawatannya.
Setibanya di ruang perawatan Akbar sudah kembali tidur.
Rafli meletakkan Akbar di atas tempat tidur.
Karena kehadiran Rafli di ruangan itu Zakira menjadi sungkan untuk melakukan apapun.
Rafli duduk di kursi sementara Zakira duduk di tempat tidur Akbar sambil mengusap-usap kepala Akbar yang tertidur lelap.
"Za, aku gak suka deh kamu dekat-dekat Rio."
"Kenapa? Ngak ada hubungannya sama kamu Mas. Kamu gak berhak ngatur-ngatur hidup aku," jawab Zakira ketus.
"Za, aku yakin Rio itu mendekati kamu karena status kamu saat ini. kamu sudah jadi wanita sukses dan kaya raya. percayalah Za, dia hanya menginginkan kekayaan kamu."
"Aku nggak kaya Mas, Aku nggak punya apa-apa. Perusahaan itu punya Aufar."
"Za, aku tahu kamu kecewa sama aku, tapi berilah kesempatan aku untuk kembali bersama kamu, Za. Sekarang Ibu aku juga sudah setuju hubungan kita, justru dia mendukung aku untuk kembali bersama kamu," kata Rafli sambil menatap Zakira lekat.
"Nah itu yang aku pertanyakan Mas. Ibu kamu yang mati-matian meminta kita berpisah, bahkan saat itu Akbar masih kecil, dia tega memisahkan anak dan juga ayahnya. Dan sekarang tiba-tiba saja ibu kamu merestui hubungan kita Mas. harusnya kamu curigai ibu kamu," ucap Zakira dengan Ketus.
"Iya Za, aku pun menyadari kesalahan ibuku dan kesalahan aku juga. tapi setiap orang punya kesempatan kan, Za? kita kembali lagi seperti yang dulu, ku yakin Akbar dan Aufar butuh sosok ayah."
"Mas mereka memang butuh sosok Ayah, apa lagi saat kau kamu meninggalkan kami bertiga. dulu setiap hari Aufar bertanya tentang ayahnya, mereka sampai sakit-sakitan karena merindukan kamu yang gak pernah lagi pulang, akan tetapi seiring berjalannya waktu mereka tak lagi mencari keberadaan kamu mas, kamu yang membuat mereka terbiasa hidup tanpa kamu."
"Tapi Za, sekarang tak ada lagi yang menjadi penghalang cinta kita Za. Selama ini aku tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Aku gak pernah mengkhianati kamu, dan jika aku menceraikan kamu itu karena aku sudah tak punya pilihan. Ibu ku yang memaksa aku saat itu."
"Sudahlah Mas, hargai keputusan aku. Aku masih betah sendiri. "
Rafli menatap Zakira dengan tatapan berpendar.
"Za, aku gak masalah kalau kamu ingin sendiri. tapi ketika kamu bersama Rio, aku tidak setuju."
Zakira menatap sinis ke arah Rafli.
"Aku sudah bilang Mas, kamu nggak berhak untuk hidup aku."
"Tapi Za, jika kamu menikah dengan pria lain atau menikah dengan Rio aku akan ambil hak asuh Akbar."
__ADS_1
"Silakan saja Mas, aku gak takut, kalau perlu kita bawa ke pengadilan kasus hak asuh anak ini," kata Zakira sambil memicingkan mata kearah Rafli.
"Oh ya Mas, aku mau istrirahat. Aku gak bisa beristirahat jika ada kamu di sini. Sebaiknya kamu pulang atau menunggu di luar ruangan," kata Zakira.
Raut wajah Rafli terlihat kecewa, pada saat ia menatap wajah Zakira dengan tatapan berpendar.
"Kalau begitu aku permisi."
Zakira mengangguk lirih.
Rafli keluar dari ruangan perawatan Akbar. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya.
Rafli menunggu di rumah sakit Selama berjam-jam menunggu sesuatu, sampai pada akhirnya ia melihat sosok Rio berjalan menghampiri bangsal di mana Akbar dirawat.
Rafli menghadang langkah Rio.
Rio menatap heran ke arah Rafli.
"Rio, bisa kita bicara empat mata."
"Bisa, mau bicara di mana?" tanya Rio.
"Mau bicara apa?"
"Aku hanya minta padaMu untuk tak mendekati Zakira dan anak-anakku."
"Loh memangnya kenapa?" tanya Rio dengan nada menantang.
"Aku tahu kamu dekati Zakira hanya karena Zakira sudah berubah menjadi wanita kaya raya, iya kan."
Rio mengulum senyumnya.
"Aku mengenal Zakira sejak kami SMP dulu. dari dulu sebenarnya aku menyukainya, hanya saja tidak punya keberanian. Aku menyukainya sejak Zakira saat dia belum punya apa-apa dan tetap menyukainya setelah sekian lama tak bertemu,meski statusnya sudah menjadi janda."
Rafli menghela nafas panjang
"Kau bisa saja mengarang cerita seperti itu, kau yang kau inginkan sebenarnya adalah kedudukan di perusahaan Zakira," tuduhnya karena kesal.
Rio tersenyum.
__ADS_1
"Hai Bung, aku bertemu Zakira saat dia dilantik menjadi seorang CEO di perusahaannya. jika aku hadir di sana itu berarti aku juga punya perusahaan sendiri ya ,walaupun tidak sebesar perusahaan yang di pimpin oleh Zakira."
"Jadi tidak benar jika aku mendekati Zakira demi kedudukan atau perusahaan tersebut. Permisi saya ada janji dengan Akbar." Rio berlalu meninggalkan Rafli.
Rafli menatap kesal ke arah Rio.
Setelah itu Rafli kembali pulang ke rumah dengan perasaan dongkol gatal.
***
Sekitar setengah jam Raffi tiba di rumahnya.
"Eh Rafli, sudah pulang baru saja Ibu mau ke rumah sakit jengukin Akbar."
"Nggak usah Bu."
"Nggak usah Bagaimana Rafli? Akbar itu kan cucu Ibu." Bu Rita menatap heran pada wajah asli yang terlihat kesal.
"Kenapa sih kelihatannya kesal sekali?"
"Sepertinya aku akan kesulitan untuk rujuk bersama Zakira Bu."
"Loh kenapa? harusnya di kesempatan anak kamu sakit seperti ini kamu tebut perhatian anak-anak kamu agar Zakira mau menerima kamu lagi."
"Sudah Bu aku sudah membujuk Zakira, bahkan sebelum hari ini. aku rasa Zakira sudah punya calon suami."
Si Rio itu yang kamu bicarakan kemarin.
"Iya Rio mendekati Zakira melalui anak-anakku. bahkan Akbar lebih memilih digendong Rio daripada aku yang menggendongnya."
"Wah Ibu rasa Zakira yang sudah mencuci otak anak kamu agar menerima Rio. Dasar wanita gatal! lihat saja ibu akan pastikan jika mereka berdua tidak akan menikah," cetus Bu Rosa.
"Maksud ibu?" tanya Rafli sambil mengerutkan keningnya.
Bu Rita hanya tersenyum nyeringai.
"Sudah kamu diam saja, Jangan banyak bertanya. Ibu tahu apa yang harus dilakukan agar kamu mendapatkan Zakira dan anak-anak kamu kembali."
Bersambung
__ADS_1