
Zakira tengah asik mengotak atik laptopnya.
Suara notifikasi pesan mengalihkan Zakira yang sedang sibuk itu.
Bola mata Zakira terbelalak kaget sekaligus bahagia ketika selesai membaca pesan itu.
"Alhamdulillah, ada pesanan 100 paket kosmetik. Ya Allah, Alhamdulillah banget aku sampai terharu."
"Ada apa Za?" tanya Sinta yang terusik dengan kata-kata Zakira.
"Ada yang pesan paket kosmetik sampai 100 paket Sin, dia minta aku untuk beri nomor rekening karena langsung mau dibayar."
"Wah beruntung banget kamu Za, mungkin sudah rezeki anak kamu," ucap Sinta sambil mengelus perut Zakira.
"Terima kasih ya Sinta, aku doain kamu juga cepat hamil ya."
"Terima kasih Za."
Zakira membalas pesan chat itu dan memberikan nomor rekeningnya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali mendapat notifikasi pesan dari orang yang sama.
"Alhamdulillah 35 juta sudah masuk ke rekening aku Sin. Bisa untung besar aku nih, lumayan bisa untuk persalinan," ucap Zakira.
"Selamat ya Za, kerja keras memang tidak menghianati hasil."
"Iya Sin."
Zakira semakin semangat mempromosikan produknya saat itu juga.
Sinta berdiri sambil membawa beberapa berkas.
"Gue ruangan Pak Raymond dulu ya."
"Oh iya."
***
Kreak… pintu ruangan Reymon terbuka, Sinta berjalan berlenggang menghampiri Raymond.
"Bagaimana? Apa reaksi Zakira mendapat pesanan 100 paket kosmetik?"
Sinta tersenyum. "Tentu saja senang Pak."
"Bagus kalau begitu, setidaknya dia tidak akan memforsir tenaganya untuk mencari uang untuk persalinan."
"Iya Pak. Zakira beruntung punya bos seperti anda."
Reymon tersenyum ke arah Sinta.
"Oh ya, apa Zakira sudah berpisah dengan suaminya?"
"Katanya sih sudah dijatuhi talak Pak. Dan setelah Zakira melahirkan suaminya akan melayangkan gugatan cerai secara resmi kepada Zakira."
"Baiklah, kalau begitu terima kasih informasinya."
Reymond mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Sinta.
"Untuk apa Pak?"
"Terima kasih karena kamu sudah memberi informasi tentang Zakira."
"Ah sudahlah Pak tidak perlu, Jika Bapak benar-benar mencintai Zakira, Saya harap bapak bisa membahagiakan Zakira, jujur saya kasihan melihat Zakira."
"Soal itu kamu nggak usah khawatir, kamu nggak tahu seberapa besar cinta saya pada Zakira."
__ADS_1
"Iya pak semoga saja Bapak tak seperti suaminya, katanya cinta tapi setelah Zakira mendapat cobaan dengan kehamilan, suaminya berniat meninggalkannya. Padahal itu semua bukan kemauan Zakira."
"Saya bisa pastikan cinta saya lebih besar daripada cintanya suami Zakira itu."
"Saya harap begitu Pak.Kalau begitu saya permisi Pak."
Sinta keluar dari ruangan itu.
***
Waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, dan sudah waktunya karyawan pulang.
Shinta dan Zakira membereskan barang-barang mereka, Setelah itu mereka keluar dari kantor dengan berjalan beriringan.
Tiba di lobby,ternyata Sinta sudah ditunggu oleh suaminya.
"Eh suami lo tuh Sin," kata Zakira.
"Iya dari tadi dia udah nungguin gue kok."
"Ya namanya juga pengantin baru, pasti dia sudah nggak sabar nungguin lo pulang ya."
Sinta tersenyum kearah Zakira.
"Ya udah gue cabut ya, lo hati-hati di jalan."
"Oke, loh juga ya."
Zakira menuju halaman parkir motor nya. Setelah menghidupkan mesin motor Zakira keluar area gedung tersebut.
Seperti biasanya, Zakira membawa motornya dengan kecepatan sedang, dia melewati jalanan yang cukup sepi sebelum tiba di jalan raya.
Bruk! Tiba-tiba saja Zakira merasa ada yang menabrak motornya dari arah belakang. Zakira yang kehilangan keseimbangan langsung terjatuh.
"Akh!" Zakira jatuh bersamaan dengan motornya.
"Aduh sakit sekali," keluh Zakira.
Entah kebetulan atau memang disengaja, Zakira mengenali mobil Raymond yang berhenti tak jauh dari tempatnya jatuh.
Raymond keluar dari mobil bersama dengan sopir pribadinya.
"Zakira, kamu nggak apa-apa?" tanya Remon yang terlihat khawatir.
"Nggak apa-apa Pak, cuma kaki saya saja yang lecet."
"Perut kamu nggak apa-apa kan?"
Zakira melirik ke arah Reymond.
'Kok sepertinya pak Reymon tahu jika aku sedang hamil? Apa perutku memang sudah sebesar itu Ya sampai kelihatan,'batin Zakira.
Sopir Reymon mengangkat motor itu sementara Reymon membantu Zakira berdiri untung saja tidak terjadi apa-apa pada Zakira.
Hanya lecet pada bagian lutut dan sikunya saja.
"Kamu tidak apa-apa Zakira, saya bawa ke rumah sakit ya?"
"Oh tidak perlu Pak, hanya lecet pada bagian lutut dan siku saya saja."
"Iya tapi kamu kan sedang hamil, Bagaimana jika terjadi sesuatu pada janin kamu. Lebih baik kamu periksakan."
Zakira juga berpikir demikian.
"Iya Pak, nanti saya periksa terima kasih ya Pak."
__ADS_1
Zakira berjalan berjinjit karena lututnya terasa sakit.
"Tunggu, saya kira biar saya saja yang mengantar kamu pulang. Kamu lihat sendiri kondisi motor kamu itu stangnya bengkok. Bagaimana kamu bisa pulang dengan kondisi motor yang seperti itu?"
Zakira melihat ke arah motornya, ia pun menghela nafas panjang.
Sebenarnya ia tidak mau diantar oleh Reymon, karena tak ingin terjadi fitnah.
"Ya sudah Pak, saya pesan taksi saja."
"Kenapa Zakira? apa kamu takut pada saya, kamu tidak percaya pada saya?" tanya Raymond bernada tersinggung.
"Bukannya tidak mau Pak, Saya takut terjadi fitnah."
"Tidak usah terlalu dipikirkan, kamu kan jatuh, motor kamu juga rusak, kalau ada suami kamu, nanti biar saya yang akan menjelaskan dengan suami kamu."
Zakira berpikir sejenak, dia rasa Rafli juga tidak akan pernah peduli apa yang terjadi padanya.
Zakira pun mengangguk.
Reymon tersenyum sambil membukakan pintu mobilnya untuk Zakira.
Sementara sang sopir disuruh untuk membawa motor Zakira ke bengkel.
Setelah itu mereka pergi dari tempat itu menuju rumah Zakira.
Mobil Reymond berhenti tepat di depan mess Zakira.
Beberapa tetangga juga melihat kedatangan Raymond. Begitupun dengan Rafli yang sebenarnya dia sudah siap untuk pergi. Namun diurungkan karena kedatangan Zakira dengan seorang laki-laki.
Zakira dan Reymond turun dari mobil kemudian mereka berdua menghampiri Rafli.
Wajah Rafli terlihat menegang dengan rahang yang mengeras dan bola mata yang melotot.
Zakira berjalan terjengkak-jingkat menaiki anak tangga menuju teras rumahnya.
Reymon menghampiri Rafli kemudian bersalaman dengannya.
"Saya bosnya Zakira, tadi Zakira tertabrak motor di jalan raya Karena kebetulan saat itu saya lewat ,Saya bermaksud mengantar Zakira pulang."
"Oh begitu kalau begitu terima kasih," ucap Rafli datar.
"Baiklah, karena tugas saya sudah selesai saya permisi pulang."
"Iya silahkan," tanpa berbasa-basi tapi mempersilahkan Raymond pulang.
Zakira masuk kedalam rumah masih dengan berjalan berjingkat-jingkat. Iya langsung menuju kamar tanpa bermaksud untuk bicara satu patah kata pun pada Rafli.
Melihat hal itu Rafli semakin kesal.
"Zakira!" Panggil Rafli.
Zakira menoleh beberapa saat kemudian berjalan lagi.
"Zakira!" bentak Rafli lebih keras.
Zakira kembali berhenti.
"Apa suaramu tidak bisa dilembutkan memanggil seorang perempuan," ujar Zakira ketika Rafli sudah berada di hadapannya.
"Jadi pria itu, teman selingkuhanmu?" tanya Rafli sambil bersedekap.
"Menurutmu?" pungkas Zakira Iya kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan Rafli lagi.
Bola mata Rafly membelalak ketika Zakira mengatakan itu, dia merasa Zakira semakin menantangnya.
__ADS_1
Tak ingin terjadi keributan di rumah Itu, Rafli pun memutuskan untuk pergi.