Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Keputusan


__ADS_3

Di subuh hari itu juga Zakira membereskan barang-barangnya.


"Za, kamu pikirkan lagi Za, kalau kita berpisah bagaimana dengan anak-anak kita."


"Mas, aku sudah pikirkan ini berulang-ulang kali. Aku rasa mungkin ini yang terbaik. Aku gak mau kamu  durhaka pada ibumu. Aku juga gak mau anakku terus-terusan disalahkan akibat kemalangan yang menimpa keluarga kalian. Aku sudah cukup bersabar selama 3 tahun ini."


"Aku capek Mas. Aku tertekan. Aku gak sanggup jika harus menerima penghinaan ini. Keturunan ku dibilang pembawa penyakit. Sudahlah mas, mungkin ibumu lebih membutuhkanmu daripada aku."


"Tapi Za, kau mau tinggal dimana?"


"Dimana saja yang bisa memberikan ku ketenangan."


Zakira terus memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


Kring! Telepon Rafli berbunyi.


"Halo ada apa Yah?"


"Rafli kondisi ibumu menurun. Tekanan darahnya naik sampai ia tak sadarkan diri. Sebaiknya kamu kemari Rafli, Ayah takut akan terjadi sesuatu pada ibumu."


Rafli masih bergeming namun telepon sudah diputus oleh ayahnya.


"Pergilah Mas, temui ibumu. Jangan sampai aku dan anak-anakku disalahkan lagi karena kemalangan yang menimpa keluargamu."


Rafli masih bergeming.


Dilihatnya Zakira yang masih membereskan barang-barangnya.


Rafli khawatir akan kondisi ibunya tapi juga khawatir akan anak dan istrinya.


Karena nyawa ibunya sudah di ujung tanduk, Rafli pun keluar dari rumahnya meninggal rumahnya tanpa berkata sepatah kata pun pada Zakira.


***


Aufar terbangun ketika mendengar suara yang sedikit berisik.


"Bunda, bunda sedang apa?" tanya Aufar sambil mengucek-ngucek matanya.


"Bunda sedang beberes. Karena Sebentar lagi kita akan pindah Nak."


"Pindah? Pindah ke mana Bunda?"


"Nanti Aufar tau sendiri. Aufar jaga dedek ya. Bunda beres-beres dulu."


Dengan kondisinya yang masih lemah, Zakira merapikan barang-barangnya sedikit demi sedikit.


Zakira menelpon paman nya. Inilah pertama kalinya ia menelpon sang paman, setelah empat tahun pernikahannya.


Dia tak ingin merepotkan Pamannya. Namun Zakira  butuh bantuan untuk mencari kontrakan.

__ADS_1


"Iya Za, nanti paman cari kan kontrak untuk kamu Za."


"Terima kasih Paman."


"Tapi apakah kamu yakin mau pisah sama Rafli?"


"Yakin paman. Aku gak sanggup dihina oleh keluarga mas Rafli."


"Ya sudah yang penting Rafli bertanggung jawab saja."


"Iya paman, kalau begitu terima kasih ya. Assalamu'alaikum."


Zakira menutup sambungan teleponnya.


***


Rafli menunggu di depan ruangan ICU bersama ayahnya, mereka menunggu paramedis melakukan tindakan pada Bu Rita.


"Bagaimana Rafli?  kamu sudah buat keputusan?'


Rafli masih diam dengan bola mata yang berpendar. Sedih bingung gelisah dan khawatir semua bercampur baur dalam pikiran hati saat itu.


"Ibu kamu tidak terima, dia terus meminta kamu untuk menceraikan Zakira. Setelah kamu meninggalkan nya, dia terus menangis  membuatnya kepalanya sakit hingga kehilangan kesadaran."


Rafli masih bergeming dia belum tahu akan dibawa kemana hubungannya dengan Zakira.


Beberapa saat kemudian seorang suster memanggil Rafli dan ayahnya.


Mereka berdua langsung menghampiri ruangan di mana Bu Rita dirawat.


Rafli menghampiri ibunya karena begitu mengkhawatirkan bu Rita.


"Bu bagaimana dengan keadaan ibu?"


Bu Rita membuang wajahnya enggan menatap ke arah Rafli.


"Bu jangan seperti ini Bu, Rafli datang untuk melihat keadaan ibu."


"Kenapa kamu datang ke sini Rafli? Kamu pulang saja jangan temui ibu lagi." Suara bu Rita terdengar lirih.


"Rafli mengkhawatirkan kesehatan ibu." 


"Nggak perlu mengkhawatirkan kesehatan ibu. Bukannya kalau ibu mati kamu bebas. Dan tidak ada lagi yang meminta kamu untuk menceraikan istri mu itu."


"Jangan bicara seperti itu Bu. Tapi Rafli sayang sama ibu, hiks."


"Tapi kamu lebih sayang sama istri kamu kan?"


Rafli kembali bingung.

__ADS_1


"Ya sudah Rafli, Ibu juga sudah tidak bersemangat untuk hidup. Untuk apa lagi hidup ini jika anak satu-satunya saja tak pernah peduli pada ibu."


Bu Rita mencoba mencabut selang pernapasannya.


"Bu jangan dilepas Bu!" Raffi coba menahan tangan bu Rita yang gemetaran itu.


"Ibu tidak mau hidup lagi Rafli! Jadi biarkan saja Ibu mati." Meski suara Bu Rita terdengar lirih. Namun, kata-katanya begitu tegas penuh ancaman.


Rafli begitu takut jika bu Rita nekad mengakhiri hidupnya.


Keadaan beberapa saat hening.


"Baik Bu, saat ini juga Rafli akan jatuhkan talak pada Zakira."


***


Zakira telah selesai memandikan bayinya.


Telepon berdering di atas nakas.


"Aufar,Tolong ambilin Bunda handphone itu Nak."


Aufar pun meraih handphone tersebut dan memberikannya pada Zakira.


"Dari Mas Rafli."


Zakira mengusap layar handphonenya untuk menerima sambungan telepon tersebut.


"Halo Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam Zakira."


'Iya Mas ada apa?"


Terdengar suara isak tangis di ujung telepon.


"Mas kamu kenapa? Apa yang terjadi pada ibu kamu?"tanya Zakira.


Namun hanya terdengar sisa-sisa isak tangis


"Sebelum aku mau minta maaf pada kamu Zakira."


Zakira bergeming sepertinya ia sudah tahu apa maksud Rafli.


Beberapa saat hening dan hanya terdengar helan nafas  Rafli yang sepertinya berat.


"Zakira, dengan nama Tuhan aku menjatuhkan talak pada kamu."


Suara Rafli terdengar bergetar membuat Zakira terdiam. Bulir bening perlahan menetes di pipi Zakira.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2