
Setelah melalui proses administrasi dan mediasi.
Zakira dan Rafli berada di persidangan di pengadilan agama untuk mendengarkan sidang putusan perceraian mereka.
"Menindaklanjuti gugatan cerai yang dilayangkan oleh saudara Rafli, kepada saudara Zakira dengan alasan gugatan cerai sebagai berikut," kata hakim.
"Saudara Rafli menggugat cerai istrinya karena dikhawatirkan jika pernikahan mereka dilanjutkan mereka akan memiliki keturunan yang cacat, karena penyakit yang diderita oleh salah satu dari mereka. Dan hal itu sudah terbukti dari lahirnya anak kedua mereka yang menderita thalasemia. Dengan ini pengadilan memutuskan, bahwa gugatan cerai saudara Rafli terhadap Zakira dikabulkan."
Tok tok tok. Ketukan palu hakim memutuskan ikatan pernikahan mereka.
Bulir bening menetes di pipi Zakira dan juga Rafli. Kini sudah resmi mereka menyandang status janda Dan duda.
Dengan tabah Zakira menghapus air matanya sambil menggendong bayinya yang kini berumur tiga bulan.
Hal yang sama terjadi pada Rafli. Rapi terus menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya.
Zakira keluar dari ruang persidangan sambil memimpin tangan Aufar serta menggendong Akbar putra kedua.
Sudah 3 bulan ini dia dan Rafli tidak tinggal serumah. Meskipun begitu, setiap bulannya Rafli memberikan nafkah untuk anak dan istrinya.
Tiba di lobby gedung, Zakira memesan taksi online untuk mengantarnya pulang.
Rafli keluar sambil mendorong kursi roda bu Rita.
Rafli menatap sedih dan kembali meneteskan air matanya melihat manta istri yang harus merawat kedua anaknya tanpa sosok pendamping suami. Namun, apa boleh buat mereka berdua sudah sepakat untuk berpisah.
"Zakira, ayo aku antar kamu pulang," ajak Rafli.
"Gak usah mas. Aku bisa pulang sendiri."
Zakira menarik tangan Aufar menjauh dari Rafli.
"Ayo Sayang kita tunggu taksi di depan saja."
"Iya Bunda," jawab Aufar.
Zakira berjalan menuju trotoar di depan pengadilan agama sambil menunggu taksi jemputan mereka.
Di depan pengadilan agama itu ada sebuah sekolah. Saat itu bertepatan dengan waktu pulang sekolah anak-anak SD.
'Bunda itu sekolah ya?"
"Iya Sayang."
"Bunda, Aufar ingin sekolah, boleh?" tanya Aufar.
"Aufar ingin sekolah? Tapi belum cukup umur Nak."
"Tapi Aufar kan bisa membaca bunda."
"Sekolah Dasar Negeri 53, tuh kan bisa baca tulisan di depan itu," tunjuk Aufar.
"Iya Yah, Aufar kan sudah pandai membaca, berhitung dan menulis, apa aku sekolah kan saja dia ya. Kasihan dia mungkin bosan di rumah karena nggak ada teman."
"Iya, nanti tahun ajaran baru. Aufar Bunda daftarkan ke sekolah."
"Kenapa nggak sekarang saja Bunda, tahun ajaran baru itu kan masih lama."
__ADS_1
"Tidak bisa Nak, memang prosedurnya seperti itu."
"Yah, padahal Aufar sudah ingin sekolah Bunda." Wajah Aufar terlihat murung.
"Iya Sayang. Besok kita coba daftar di sekolah dulu ya. Siapa tau bisa."
"Hore! Aufar sekolah!" teriak Aufar.
Zakira tersenyum melihat putranya itu.
Mobil taksi pun menghampiri mereka. Mereka masuk ke dalam mobil itu.
Sementara mobil Rafki membuntuti mobil taksi tersebut.
'Rafli, Kenapa sih kamu masih peduli saja dengan wanita itu," protes bu Rita.
"Peduli dong Bu. Bagaimanapun juga Zakira itu adalah ibu dari anak-anakku."
"Ah sudahlah Rafli, jangan pikirkan mereka. Zakira punya uang banyak."
Uang tak bisa menggantikan sosok suami dan ayah Bu.
"Itu hanya perasaanmu saja Kamu tenang saja Ibu sudah punya calon istri yang lebih cantik dan lebih muda daripada Zakira untuk kamu. Mungkin pada awalnya kamu akan kesulitan melupakan Zakira dan anak kamu itu, tapi setelah kamu menikah dan punya anak lagi dari perempuan lain, Ibu yakin kamu dengan mudah melupakan nya."
Rafli hanya bisa mendelik ke arah bu Rita.
Mobil taksi yang membawa Zakira berhenti di sebuah supermarket.
Zakira memanfaatkan waktu saat keluar rumah untuk sekalian berbelanja kebutuhannya. Zakira memang pengangguran tapi ia memiliki banyak uang di ATM karena setiap bulan uang itu terus bertambah dengan nominal yang sama.
Karena Zakira berhenti di supermarket mobil Rafli melaju menuju rumah kedua orang tuanya tanpa menunggu mobil taksi tersebut.
Setelah berbelanja, mereka pun pulang ke kontrakan Zakira. Zakira turun sambil menggendong dua anaknya.
Sopir taksi ikut turun membantu mengeluarkan barang-barang Zakira.
Seorang tetangga memperhatikan Zakira dan barang-barang berjalannya.
"Eh lihat itu Zakira. Dia kan nggak kerja ya tapi uangnya tuh banyak banget ya, lihat saja belanjaannya. Susu anaknya mahal-mahal. Sok kaya ya."
"Ah mungkin, dapat dari mantan suaminya lah."
"Mantan suaminya kan cuma tentara. Lihat saja pakaian anak-anak itu bagus-bagus semua. Ku gak yakin kalau Zakira itu wanita baik-baik. Pasti dia punya simpanan,kalau gak kenapa juga dia dan suaminya itu pisah. Suaminya itu ganteng, keren tubuhnya tegap gitu."
"Ah gak taulah." Mereka pun meninggalkan Zakira dan kembali ke rumah mereka.
Begitu banyak belanjaan Zakira saat itu,hingga membuat iri para tetangganya.
Rumah Zakira tempati saat ini hanya rumah kontrakan yang sederhana. Meskipun sebenarnya dia bisa mengontrak rumah yang lebih mewah dari rumahnya saat ini. Hanya saja Zakira tak mau boros, dia harus bisa menyimpan uang itu, karena kini Zakira bergantung dari uang pemberian tersebut. Zakira tak bisa meninggalkan Akbar yang sakit-sakitan itu.
***
Karena Rafli sudah resmi bercerai dari Zakira, bu Rita bermaksud melamar Denisha. Wanita yang tergila-gila dengan Rafli. Dan demi menuruti permintaan ibunya, Rafli menurut saja.
Hari itu juga mereka pergi ke rumah Danisha.
Sebelum datang ke rumah Rafli, bu Rita menghubungi Denisha.
__ADS_1
"Denisha, tante dan Rafli mau kerumah kamu nih. Mau melamar kamu."
"Hah yang benar Tante. Kok mendadak sih. Aku lagi gak ada di rumah."
"Tapi orang tua kamu ada kan?"
"Ada Tante. Mami aku ada."
"Oke Tante langsung kesana saja ya."
'Duh senangnya. Akhirnya aku dan Rafli bisa bersama. Setelah tiga tahun menunggunya,' batin Denisha.
"Iya tante, aku langsung pulang nih."
Mobil Rafli memasuki halaman rumah Denisha.
Mereka bertiga pun turun dari mobil. Rafli mengeluarkan kursi roda untuk bu Rita.
Tiba di depan rumah, seorang asisten rumah tangga Denisha menyambut kedatangan mereka karena sudah di telpon oleh Denisha.
"Mau cari bu Sintya ya?" tanya asisten rumah tangga tersebut.
"Iya Bu."
"Oh iya silahkan masuk dulu."
"Mereka masuk dan duduk di sofa."
"Siapa Nem?" tanya Bu Sintya.
"Ada bu Rita Bu."
"Oh iya."
Bu Sintya menuju ruang tamu.
"Eh ada bu Rita. Kaki ibu kenapa ya Bu?" tanya bu Sintya ketika melihat bu Rita duduk di kursi roda.
"Kecelakaan bu, beberapa bulan yang lalu."
"Oh begitu ya."
Bu Rita dan bu Sintya ngobrol berbasa-basi sebentar sebelum menyatakan maksud kedatangannya. Bu Rita dan bu Sintya memang teman lama. Bahkan mereka dulu bersekolah yang sama saat SMA.
"Begini loh Bu, kedatangan saya kemari untuk melamar Denisha," ucap bu Rita dengan yakin.
"Hah melamar Denisha?!" Bu Sintya syok.
"Iya Bu. Saya sudah bilang sama Denisha loh. Dan Denisha setuju."
"Tapi Saya tidak setuju! Bagaimana bisa anda mau melamar Denisha untuk Rafli? Rafli itu sudah punya anak dan istri."
"Tapi Bu, Raffi sekarang sudah bercerai dari istrinya. Dan kedua anak Rafli semuanya diasuh oleh ibunya."
Bu Sintia tersenyum sinis.
"Maaf ya bu, bukannya saya menghina Rafli. Rafli itu hanya seorang pegawai negeri ya. Punya anak dua, apa Rafli bisa membahagiakan Denisha, kosmetik dan perawatan Denisha itu aja gak cukup dengan gaji Rafli. Sementara, dia juga harus menafkahi kedua anaknya kan. Lagi pula saya dengar anak Rafli yabg kedua menderita thalasemia. Saya juga gak mau anak cucu saya ketularan penyakit itu," ucap Bu Sintya dengan ketus.
__ADS_1
Bola mata bu Rita seketika terbelalak mendengar kata-kata yang merendahkan itu keluar sendiri dari mulut bu Syntia.