Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Kecewa


__ADS_3

"Tapi Bu, Denisha itu sangat mencintai Rafli. Bahkan dia sudah menunggu Rafli sampai saat ini." Bu Rita masih berusaha membujuk bu Syntia.


"Tidak bisa! Makan cinta itu gak bikin kenyang. Lagi pula, saya takut cucu saya terkena penyakit yang sama dengan cucu anda."


"Bu yang memiliki penyakit itu Zakira, istri Rafli. Bukan keturunan kami Bu. Ibu lihat sendiri kan anak saya ganteng gagah begini."


Bukan main malu nya Rafli saat itu melihat bu Rita yang terlihat terlalu memaksakan kehendaknya.


"Sudahlah Bu,jangan di paksakan," bisik Rafli.


" Bu,saya itu bukan orang bodoh, nyatanya anak pertama Zakira yang katanya bukan anak Rafli itu tak menderita penyakit itu kan, itu berarti si Rafli ada apa-apanya. Pokoknya saya menolak dengan tegas."


Bu Rita mengerutkan bibirnya.


"Ayo Rafli kita pulang saja." Bu Rita sebenarnya ikut malu atas penolakan itu. Karena itu dia tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Iya Bu."


Rafli berdiri Kemudian mendorong kursi roda bu Rita.


"Permisi Tante," kata Rafli dengan suara yang lirih karena malu.


Rafli mendorong kursi roda bu Rita hingga tiba di teras rumah.


Kebetulan saat itu mobil Denisha tiba di halaman rumahnya.


Dia buru-buru turun karena melihat Bu Rita dan Rafli yang hendak memasuki mobil mereka.


"Tante!" panggil Denisha


Denisha berjalan cepat menghampiri mereka.


"Tante kenapa pulang. Bagaimana hasil lamarannya?"


Bu Rita mengerucutkan bibirnya.


"Mami kamu tidak menerima Rafli. Bahkan katanya Rafli tidak bisa membahagiakan kamu dengan gajinya yang sekarang ini."


"Iya tapi aku kan juga punya penghasilan, aku siap menerima Rafli apa adanya."


"Denisha! Bicara apa kamu! Seperti tidak ada laki-laki lain saja ayo masuk!" Bu Sintya menyahut dari arah belakang


Denisha menoleh ke arah Bu Syntia.


"Tapi Mami! Aku … "


"Ayo masuk!"

__ADS_1


Mau tak mau Denisha masuk bersama bu Sintya.


"Ingat ya Denisha, kamu nggak boleh menerima lamaran dari seorang laki-laki yang sudah menyia-nyiakan anak dan istrinya. Nanti kamu juga di sia-siakan olehnya, "


"Tapi Mami…,"


"Sudah masuk! . Masih banyak laki-lakinya lain dari pada kamu menikah dengan seorang duda yang bermasalah dengan istrinya ."


Bruk ..pintu rumah bu Syntia di tutup dengan kasar


Rafli dan bu Rita merasa semakin malu dan kecewa.


"Sudah puas Bu. Ternyata semua ini tak sesuai dengan ekspektasi kan?" Kata Rafli dengan sinis.


Bu Rita menundukkan wajahnya.


"Sekarang apalagi yang Ibu inginkan. Rumah tangga Rafli sudah hancur, orang-orang juga sudah tahu jika yang membawa penyakit itu dari bibit keluarga kita Bu. Dan aku rasa gak akan ada wanita yang mau menikah dengan aku."


Rafli tersenyum sinis.


"Mungkin sudah takdir aku seperti ini. Ya sudahlah yang penting ibu bahagia, aku sudah mengorbankan kebahagiaanku dan kebahagiaan keluargaku."


Rafli membantu Bu Rita berdiri kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia melipat kursi roda dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Sekarang kita mau ke mana Bu. Apa ada wanita lainnya selain Denisha yang akan Ibu jodohkan padaku. Karena jujur saja sebagai laki-laki normal aku juga butuh seorang istri untuk menyalurkan kebutuhan biologis ku. Kalau tidak ada wanita yang mau menikahiku, apa aku harus berzina untuk memenuhi kebutuhan biologis ku?"


Lagi-lagi kata-kata Rafli berhasil membungkam mulut Bu Rita.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam karena sudah larut dalam pikiran masing-masing.


***


Karena keinginan Aufar yang begitu besar untuk bersekolah. Keesokan harinya Zakira mendaftarkan Aufar di sebuah taman kanak-kanak.


Sebenarnya anak seusia Aufar, belum memenuhi syarat untuk masuk ke taman kanak-kanak. Namun karena yakin akan kemampuan Aufar, Zakira memantapkan hati menghadap


kepala sekolah.


"Saya bermaksud untukmu mendaftarkan anak saya di sekolah ini Bu," ucap Zakira ketika berada si hadapan kepala sekolah.


Kepala sekolah memperhatikan Aufar.


"Memangnya usia anak ibu berapa ya?"


"3 tahun 6 bulan bu."


"Wah masih terlalu kecil Bu. Masuk ke pra sekolah saja."

__ADS_1


"Ehm, Tapi dia maunya sekolah yang bisa baca tulis Bu."


"Maaf Bu kalau umurnya segini dia pasti nggak bisa menyeimbangkan kemampuannya dengan anak-anak yang sudah berada di tingkat taman kanak-kanak."


"Oh untuk masalah itu Ibu tenang saja. Anak saya sudah bisa baca- tulis kok, bahkan ia sudah bisa berhitung sampai angka 1000 bahkan lebih."


Ibu kepala sekolah menyerngitkan keningnya. Melihat wajah Aufar yang masih begitu cute.


"Baiklah kalau begitu saya tes ya Bu."


Ibu kepala sekolah mengambil sebuah buku untuk mengetes Aufar.


"Halimah." Aufar membaca nama yang tertera pada name tag yang tergantung di dada bu kepala sekolah. Bu kepala sekolah langsung menoleh ke arah Aifar.


"Apa Sayang. Kamu bisa baca nama saya?" tanya bu kepala sekolah.


"Bisa Bu," jawab Aufar.


"Struktur organisasi Taman kanak-kanak Harapan Bunda," sebut Aufar sambil mendongkakkan kepalanya membaca papan putih yang ada di belakang buku kepala sekolah.


"Hah, Dia bisa membaca dengan lancar?" Tanya bu Halimah sedikit kaget.


Zakira tersenyum.


"Aufar coba baca ini Nak." Nu Halimah kembali mengetes Aufar dengan menyuruhnya membaca salah satu buku."


"Saya suka membaca, membaca jendela ilmu." Aufar membaca tulisan tersebut dengan lancar.


Bu Halimah tersenyum kemudian menyodorkan buku berhitung.


"Coba hitung ini Aufar."


Dengan sekali pandang, Aufar bisa mengerjakan soal pertambahan dan pengurangan.


Wah hebat Aufar pintar sekali.


"Jadi Aufar di terima ya Bu?"


"Iya Bu. Sebenarnya kalau Aufar sudah sepintar ini dia bisa langsung masuk SD. Namun karena umurnya terlalu kecil, dia masuk kelas O besar saja ya," usul kepala sekolah.


"Alhamdulillah, iya Bu. Terima kasih karena sudah menerima Aufar bersekolah di sini."


" Oke Bu. Besok Aufar sudah bisa masuk sekolah ya."


"Terima kasih bu guru," ucap Aufar.


"Iya Sayang."

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita pulang, Sayang."


Zakira bahagia karena kini Aufar sudah bisa bersekolah.


__ADS_2