Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram

Jangan Sebut Anak Ku Anak Haram
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

Zakira tiba di ruang perawatan Rafli.


"Assalamualaikum," ucap Zakira dan Aufar bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Rafli lirih.


"Ayah," sapa Aufar seraya mencium tangan Rafli.


"Abang baru pulang sekolah, Nak?"


"Iya Yah, ayah sakit apa?" tanya Aufar.


"Ayah sakit seperti dedek," ucap Rafli dengan bola mata yang berembun.


"Ayah gak usah sedih ya, Nanti insyaallah Aufar sering-sering jenguk Ayah."


Rafli mengusap kepala Aufar. "Ayah juga kangen sama dedek."


"Iya, nanti setelah pulang kita video call saja ya Yah. karena dede gak boleh di bawa kerumah sakit, terkecuali adek menang sakit."


"Iya Sayang, ayah ngerti kok."


"Ayah, Aufar dan Bunda bawa buah-buahan untuk ayah, donat juga,"


 kata Aufar sambil meletakkan kotak donat Itu di atas nakas.


Zakira hanya tersenyum. Ia bicara seadanya saja, tak bermaksud sombong atau angkuh. Zakira hanya menjaga jarak agar Rafli tak berharap terlalu jauh padanya.


Setelah ngobrol beberapa saat, Zakira dan Aufar memutuskan untuk pulang.


Zakira dan Aufar berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang menghubungkan antar bangsal. Ketika berada di salah satu lorong yang sepi, tiba-tiba saja ada seorang pria yang berjalan menghampiri Zakira.


Awalnya Zakira hanya mengira Itu keluarga pasien yang lewat tapi ternyata, pria itu berhenti tepat di hadapannya.


Zakira dan Aufar kaget karena pria yang bermasker yang ditemuinya di kantor sekarang ada di hadapannya.


Bola mata Zakira terbelalak dengan jantung yang memompa lebih cepat ketika pria itu membuka maskernya.


"Kau ?!" Seketika tubuh Zakira membeku tak bisa bergerak dengan mulut yang menganga. kantong plastik yang berisi kotak kue donat terjatuh begitu saja ke lantai.


"Zakira," suara pria itu lirih memanggilnya.


Aufar heran melihat reaksi Zakira Yang begitu ketakutan, seperti melihat hantu.


"Bunda," Aufar menarik tangan Zakira hingga membuat Zakira tersadar dan kejadian itu berlangsung begitu cepat


"Kau! aku tidak salah melihat kan?" tanya Zakira dengan gugup. Seketika telapak tangan dan kaki Zakira terasa dingin.


"Tidak Zakira, aku memang masih hidup," kata pria itu.


jantung Zakira begitu kuat memompa, tiba-tiba ia merasa dadanya terasa begitu sakit.


Seketika itu juga Zakira pingsan.


"Bunda!" teriak Aufar.


'Zakira!"


Beruntung pria misterius itu langsung menyambar tubuh Zakira kemudian membawanya.


"Om, mau bawa ke mana Bunda, Aufar?" tanya Aufar.


Reymond tersenyum melihat bocah kecil yang memiliki wajah begitu mirip dengannya.


Kita bawa Bunda ke ruang IGD, kata Reymond. saat itu Raymond masih memakai masker setelah menunjukkan wajahnya pada Zakira.


Zakira pun dibaringkan di atas tempat tidur. setelah itu ia diperiksa.


Beberapa saat kemudian Zakira terbangun. Ia menatap ke arah Reymond dan saat itu Reymond meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, agar Zakira tak berteriak.


Zakira mengatur nafasnya secara perlahan, sesekali ia menatap ke arah Raymond yang berdiri sambil menggendong Aufar.


"Kau,"lirih Zakira.


"Iya Zakira, ceritanya panjang," lirih Reymond. Reymond tahu apa yang akan dikatakan Zakira.

__ADS_1


Seorang suster datang menghampiri Zakira kembali, setelah melihat Zakira yang sudah siuman.


Suster itu memeriksa tekanan darah Zakira.


"Nggak apa-apa ya Ibu, ibu hanya syok, setelah ini Ibu bisa pulang ,"kata Suster itu.


"Iya terima kasih Suster."


Zakira teringat akan Akbar yang kini menunggu donat darinya.


"Aku harus pulang, biar Aufar bersama ku," kata Zakira sambil meraih Aufar dari gendongan Raymond.


Tanpa menoleh ke arah Reymond, Zakira langsung menuju kasir untuk membayar biaya tindakan medis yang didapatnya selama ia pingsan.


Zakira berjalan cepat diikuti oleh Raymond.


"Zakira tunggu! Zakira ,Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Jangan macam-macam padaku Reymond, ingat kau pernah ingin membunuhku!"


"Zakira, Aku ingin bicara padamu sebentar saja."Raymond menarik tangan Zakira hingga Zakira berhenti dan menoleh ke arahnya.


Kedua netra mereka pun saling bertentang.


"Zakira Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Apa itu tentang perusahaan? silakan ambil kembali perusahaan dan aset-aset yang kau atas nama kan untuk ku," kata Zakira sambil membuang wajahnya agar tidak terus menatap wajah Raymond.


"Zakira bisa kita bicara berdua, karena Aufar tak mungkin mendengar pembicaraan kita."


Zakira melirik ke arah Aufar.


"Lain kali saja!


"Sekarang Zakira!" Reymond menahan tangan Shakira.


"Aku harus pergi Reymond, anakku sudah menungguku!"


"Sebentar saja, beri waktu aku 10 menit ."


Karena tak ingin diteror oleh Reymond lagi, Zakira pun menuruti permintaan Raymond


Mereka menuju ke kantin rumah sakit dan memesan makanan untuk Aufar, yang kebetulan juga belum makan siang saat itu. Sementara ia dan Reymond duduk di pojokan sambil mengawasi Aufar


"Kamu mau bicara apa? langsung saja pada intinya!" kata Zakira Ketus


"Zakira aku ingin menjelaskan kenapa aku bisa berada di sini sekarang."


"Yah, sebenarnya aku juga ingin tahu kenapa kau bisa berada di sini. Bukannya kau sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."


"Ceritanya panjang Zakira, tapi aku jelaskan secara singkat saja."


"Aku meneguk racun yang sama dengan racun yang kuberikan padamu."


"Yah kau ingin membunuhku," kata Zakira dengan penuh penekanan.


"Yah kupikir kita bisa mati bersama dan hidup bersama kehidupan nanti, karena aku merasa frustasi tidak berjodoh denganmu di kehidupan ini Zakira." .


"Lalu kenapa kau bisa terbebas dari maut dan kenapa Lauren mengatakan jika kau sudah mati ."


"Sebenarnya saat aku ditemukan dan di bawa kerumah sakit, dokter menyatakan aku sudah mati. Bahkan aku sempat di kremasi."


Aku tidak tahu kenapa saat itu aku berada seperti di dunia yang berbeda, aku melihat sekeliling ku penuh dengan api, aku kepanasan saat itu, panas yang luar biasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Aku melihat manusia disiksa dengan berbagai siksaan, dicambuk dengan api dan besi yang terbakar dan sebagainya."


Zakira menyernyitkan dahinya.


'Aku melihat siksaan itu begitu nyata dan aku tak pernah melihat siksaan yang lebih menyiksa di alam itu."


"Saat aku melihat itu dan ketakutan, aku mendengar suara seorang pria yang berbisik di telingaku, Suaranya sangat jelas. Namun, aku tak bisa melihat wujudnya .Dia berkata kepadaku jika itu adalah tempat aku akan kembali . Aku ketakutan aku pun memohon kepadanya untuk diberi kesempatan hidup dan memperbaiki kesalahanku ."


"Beberapa saat kemudian aku tersadar dengan wajah pucat dan ketakutan.Saat itu aku melihat tubuhku sudah berada di dalam peti mati ,aku bangkit seketika orang-orang berteriak dan pergi meninggalkan gereja itu ."


"Untung saja, Lauren tidak takut dia membawaku ke rumah sakit karena setelah itu aku pingsan lagi ."


"Aku dirawat selama berbulan-bulan."

__ADS_1


"Aku putuskan untuk dirawat di rumah sakit jiwa untuk kesehatan mental ku. Selama 3 tahun aku berada di rumah sakit jiwa karena gangguan skizofrenia yang parah pada diriku."


"Sebelumnya aku memang meminta Lauren untuk memberikan semua aset-aset yang kumiliki kepada kamu dan Aufar itu karena aku tak ingin harta dunia, lagi Aku ingin mencari ketenangan dalam hidup ini."


"Sampai suatu saat, Aku memutuskan untuk kembali Indonesia. Selain Kate rindu pada mu dan Aufar, ada hal penting yang harus aku lakukan."


"Aku mencoba memasuki sebuah pesantren, walaupun saat itu aku bukan seorang muslim ."


"Mereka tetap menerimaku, meski aku bukan seorang muslim aku tidak Salat tapi aku selalu mendengar kajian-kajian yang diberikan pada Ustaz di pesantren ."


"Hingga aku sadar, jika perbuatanku selama ini merugikan banyak orang bahkan menghilangkan nyawa seseorang . Ya meskipun itu semuanya terjadi di luar kendaliku , gangguan kejiwaan yang aku derita, membuat ku berhalusinasi mengalami delusi, hingga melakukan tindakan impulsif kepada siapa saja yang menurutku mengancam ku."


Zakira menyimak baik-baik penuturan Reymond.


"Saat kembali ke Indonesia , aku di sudah dinyatakan jika aku sembuh total Zakira."


"Aku punya bukti,jika aku memang sudah sembuh dari rumah sakit jiwa."


Zakira menatap lekat ke arah Raymond .


Tiba-tiba bola mata Reymond berembun menatap Zakira.


"Zakira, sudah banyak kesalahan yang aku lakukan dalam hidup ini, dan aku ingin memperbaiki semuanya dimulai dengan menjalani hukuman yang harusnya aku dapatkan."


"Sebelum Aku menyerahkan diri ke polisi, Aku hanya ingin bertemu denganmu ."


Zakira meneteskan air matanya, pria berwajah tampan itu terlihat bersunguh-sungguh.


"Aku tidak tahu hukuman apa yang aku dapatkan di negeri ini, Zakira. Mungkin aku akan dihukum mati atau hukum penjara seumur hidup, hanya saja sebelum aku menjalankan hukuman itu, aku hanya ingin bertemu kamu dan Aufar ."


"Aku hanya ingin meminta maaf .Aku tidak ingin apa yang aku lakukan dibalas di akhirat nanti, cukuplah hukuman dunia yang menyiksaku dan aku ingin kembali ke jalan yang benar," kata Raymond dengan air mata yang berderai-derai.


Zakira terenyuh mendengar ucapan Raymond hingga ia ikut menangis .


"Benarkah apa yang kau katakan itu Raymond?"


Tentu saja Zakira, jika tidak untuk apa aku kembali ke Indonesia. Kalian semua menganggap aku sudah mati, kasus pembunuhan Anita sudah ditutup kan? tapi aku ingin menyerahkan diriku aku ingin menebus kesalahanku."


Zakira menatap Reymond dengan bola mata yang berembun.


"Jika memang kau punya niat seperti itu, aku akan membantumu Reymond .Aku tahu sebenarnya kau orang yang baik ,mungkin karena penyakit yang kau derita hingga membuatmu menjadi agresif dan Impulsif ."


"Aku akan membantu mencarikan bukti jika yang kau lakukan itu karena penyakit yang kau derita . Aku memang pernah mendengar penyakitmu itu cerita Laurend dan aku yakin Lauren tidak berbohong saat menceritakan itu, dia menangis sampai tersedu-sedu menceritakan hal itu pada ku."


Reymond tersenyum.


"Terima kasih Zakira, aku tenang sekarang karena kau sudah mempercayaiku. Tak mengapa, jika orang lain tak mempercayaiku yang penting kau yang percaya itu sudah cukup."


Zakira tersenyum.


"Kembalilah ke jalan yang benar, agar aku bisa membanggakan mu di hadapan Aufar."


"Iya Zakira."


Keduanya saling memandang dan saling meneteskan air matanya.


***


Setelah berbicara di kantin. Zakira dan Reymond berjalan menuju parkiran mobilnya.


Sepanjang jalan Reymond memggendong Aufar, sesekali dia mencium Aufar, dan Aufar meskipun fia tak tahu siapa Reymond. Namun ia tak sungkan di gendong dan dicium oleh Reymond. mungkin karena itulah pepatah mengatakan darah lebih kental daripada air.


Mereka tiba di mobil, dan saatnya mereka untuk berpisah.


"Kapan kau akan menyerahkan diri mu Rey?" tanya Zakira.


"Hari ini juga."


"Aku akan meminta bantuan pengacara handal untuk membantu mu," kata Zakira sambil memakai seal beatnya.


"Terima kasih, Zakira."


"Sama-sama Rey."


Zakira membawa mobilnya meninggal halaman parkir itu secara perlahan.

__ADS_1


Reymond menatap sedih kepergian Zakira, setelah mobil Zakira hilang dari pandangannya, barulah dia masuk kedalam mobilnya.


__ADS_2