
Romi bermaksud datang ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang menimpa Sinta.
"Ada yang bisa dibantu Mas?" tanya salah seorang polisi yang menyambut kedatangan Romi.
"Saya mau membuat laporan kehilangan orang Pak."
"Laporan kehilangan orang? sudah berapa lama?" tanya polisi.
"Begini Pak ceritanya. Pukul 09.30 istri saya menelpon saya mau minta saya menjemputnya, saat itu dia sedang menangis. Namun, karena saya berada di luar kota saya tidak bisa menjemputnya dan memintanya untuk memesan taksi. Sebelumnya saat ditelepon istri saya memberikan pesan aneh. Dia bilang jika terjadi sesuatu padanya suatu saat nanti maka saya harus membaca buku hariannya."
Polisi mengernyitkan dahinya bingung dengan laporan yang dibuat oleh Romi.
"Karena meng khawatir keadaan istri saya, dan tak ingin terjadi sesuatu padanya maka saya segera melapor. Saya curiga Ada yang ingin mencelakai istri saya."
"Maaf Pak untuk membuat kasus kehilangan seseorang hanya bisa dilakukan jika orang tersebut sudah menghilang 2 kali 24 jam tanpa kabar. Mendengar cerita dari anda, mungkin saja Ini hanya salah paham. Coba anda cari istri anda terlebih dahulu. Mungkin dia mengunjungi saudara atau temannya."
"Tapi Pak Saya sangat khawatir, saat itu saya mendengar dia menangis seperti merasa frustasi."
"Baiklah kalau begitu apa anda mencurigai seseorang?"
"Tidak ada Pak."
"Di mana dia menelpon Anda, saat kejadian?"
"Di kantornya."
"Sudah cek di kantornya?"
"Sudah Pak dan dia tidak ada di sana."
"Tadi anda pernah bilang jika terjadi sesuatu padanya, maka dia meminta anda untuk membaca buku hariannya benar begitu?"
"Iya Pak."
"Kalau begitu Anda lihat dulu apa isi buku hariannya. Jika mencurigakan Anda bisa lapor kembali."
Maaf Pak tapi, apa tidak bisa diselidiki di kantor istri saya Pak."
"Bukannya tidak bisa Pak, tapi untuk membuat laporan harus prosedur tertentu, ada bukti dan saksi yang kuat. Dan saat ini tidak ada bukti dan tidak ada saksi. Jadi kami tidak bisa memproses laporan anda."
Mendengar hal itu romi menjadi kecewa. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah ,sebelum mencari keberadaan Sinta.Romi jadi penasaran tentang buku harian yang diceritakan oleh Sinta itu.
***
Zakira lirik petunjuk waktu yang menunjukkan pukul 11.00 siang. Perutnya terasa perih sekali karena dia belum makan dari pagi.
Zakira ingin bergerak mengambil makanan di atas nakas. Namun, ia takut beresiko pada kandungannya.
__ADS_1
Crack …tiba-tiba pintu ruangan yang terbuka. Seorang pria dengan pakaian seragam perawat, memakai masker datang menghampiri Zakira.
Zakira heran melihat perawat itu yang datang sendiri. Dia belum pernah melihat perawat itu sebelumnya, karena selama ini perawat yang datang memeriksa Zakira semuanya perempuan.
"Permisi ya Mbak, saya mau memberikan suntikan obat pada Mbak," ucap pria itu.
Zakira langsung menarik tanganya, ketika pria itu hendak menyuntikkan sesuatu di selang infusnya.
"Loh kenapa Mbak ini suntikan vitamin untuk janin anda."
Wajah Zakira seketika menjadi pucat. Pria itu tak membawa rekam medisnya, seperti yang dilakukan para suster ketika memeriksa dan memberinya obat.
Karena Zakira takut pria itu bertindak macam-macam. Zakira memutar otaknya dengan cepat.
"Mas bukannya pemberian obat setelah makan sementara saya belum makan."
"Ada juga obat yang bisa diberikan sebelum makan dan ini bukan obat Mbak ini vitamin," ucap pria itu.
"Sebentar Mas, saya mau makan dulu sedikit saja, karena lambung saya sudah terasa perih. Tapi saya minta tolong ambilkan sendok di wastafel."
Pria itu menatap sinis ke arah Zakira.
"Tolong Mas perut saya benar-benar lapar." Zakira menutup kedua tangannya ke arah dada.
Karena tak ingin Zakira curiga, pria itu pun menuju wastafel sementara dengan cepat tangan Zakira meraba dinding menekan tombol darurat.
Pria itu pun menyadari jika Zakira berbohong dan hanya mengulur waktu.
Pria itu mendekati zakira dengan langkah cepat
Crack… tiba-tiba pintu terbuka dua orang suster sudah berada di depan pintu.
Pria itu menjadi panik. Begitupun Zakira.
"Siapa kamu?" tanya salah seorang suster. Sementara suster yang lainnya keluar dari kamar itu dan bergegas menghubungi pihak keamanan rumah sakit.
Pria itu langsung mengeluarkan jarum suntik lengkap dengan tabung yang terisi penuh cairan.
"Saya akan membunuh wanita ini jika anda tidak membiarkan saya lari."
"Baiklah silakan saja anda lari."
Suster segera berlari menghampiri Zakira. Sementara sang pria berlari menjauhi Zakira mumpung masih ada kesempatan untuk kabur.
Dengan langkah cepat, pria itu keluar dari pintu Kemudian berlari.
Kebetulan saat itu Rafli dan kedua polisi tiba di ruang perawatan Zakira
__ADS_1
Melihat seorang pria, berlari ke ujung koridor, polisi segera mengejarnya Karena curiga, apalagi pria itu baru saja keluar dari ruang perawatan Zakira.
"Berhenti!"polisi mengejar pria itu. Pria itu terus saja berlari hingga ke halaman belakang rumah sakit.
Polisi langsung mengejarnya.
Ternyata halaman belakang rumah sakit juga digunakan sebagai tempat parkir.
Ratusan motor berjejer di halaman parkir dan ada beberapa mobil yang juga berada di parkiran itu.
Seperti sudah diatur ,sebelumnya pria itu berjalan berjongkok diantara parkiran motor kemudian melepas pakaiannya.
Polisi yang baru tiba berhenti di suatu titik serta mengedarkan pandangannya.
Pria yang sepertinya sudah profesional, itu berjalan berjongkok menuju sebuah mobil.
Kedua polisi tadi berpencar mencari pria yang mencurigakan itu dibalik parkiran motor.
Mereka mencari celah demi celah yang bisa memungkinkan untuk pria itu bersembunyi.
Sementara pria misterius itu masuk ke dalam salah satu mobil yang juga terparkir di daerah itu.
Polisi berkeliling mencari keberadaan pria itu. Selain dua polisi, ada beberapa pengendara motor yang memarkirkan motornya di sana. Setelah motor terparkirkan dua orang pria itu pun masuk mengitari parkiran motor untuk tiba di pintu masuk alternatif di rumah sakit itu.
Sepertinya parkiran motor itu dikhususkan untuk para pekerja di rumah sakit.
Ketika sedang memeriksa halaman parkir itu. Polisi mendapati seorang wanita yang berjalan menghampiri sebuah mobil. Wanita itu terlihat membawa kantong plastik putih yang berisi obat-obatan.Dengan sebuah map coklat yang besar seperti map penyimpanan hasil Rogen.
Karena tak mencurigai wanita itu, polisi melanjutkan pencariannya beberapa saat kemudian tim keamanan ke rumah sakit juga ikut mencari.
Dengan leluasa wanita itu membawa mobilnya keluar dari halaman parkir. Setelah tiba di Jalan Raya wanita itu mempercepat laju mobilnya. Ketika mereka sudah berada di tengah-tengah kota, keluarlah seorang pria yang berjongkok di dalam mobil.
"Sialan! kali ini kita gagal," ucap pria itu sambil duduk santai di jok mobil belakang.
"Bodoh! Raymond memang bodoh! dia pikir gampang mengeluarkan pasien dari rumah sakit."
"Aku pikir aku saja yang mengira jika Reymond itu bodoh," sahut pria itu sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Reymond,itu tak hanya bodoh tapi juga gila. Dia tergila-gila dengan karyawatinya sendiri padahal karyawatinya sudah memiliki suami. Seperti tak ada wanita lain saja di dunia ini," dengan wanita itu sambil menyetir mobilnya.
"Hahaha cinta itu memang kadang membuat orang gila," sahut pria itu.
"Setidaknya gunakan akal dan logika. Bukannya dia bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih muda, dan lebih seksi daripada karyawatinya itu."
"Kalau Remon waras tentu ia tidak akan melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan cinta seorang wanita yang sudah memiliki suami."
"Dasar bodoh!" umpat kedua orang itu pada Reymond.
__ADS_1