
Semerbak aroma maskulin tercium di dalam sebuah ruangan.
Rafli berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya, ia tampak ganteng dengan outfit yang ia kenakan kan saat ini.
Setelah penampilannya dirasa sempurna. Rafli keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana Kamu Rafli?" tanya Bu Rita ketika berpapasan di depan pintu kamar
"Biasalah Bu, mau malam mingguan."
"Sama siapa?" tanya Bu Rita.
"Sama Zakira dan anak-anak. Tadi Aku dapat bocoran dari Aufar, katanya Zakira mau ajak mereka malam mingguan."
"Ya sudah, Pergi sana. Nanti Zakira keburu di apel sama pria lain. Maklum saja, janda seperti Zakira itu limited edition."
"Ya Bu, semoga saja Zakira mau menerima Rafli kembali," lirih Rafli.
Sebenarnya bukan karena Zakira sekarang sudah menjadi wanita kaya raya yang membuat Rafli ingin kembali bersama, tapi karena dia masih mencintainya Zakira.
"Kalau begitu Rafli pergi dulu Bu."
'Iya hati-hati ya Rafli."
"Iya Bu Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rafli keluar dari rumahnya saat itu ia melihat Mas Harun tetangganya sedang berboncengan dengan anak istrinya dengan menggunakan motor.
"Yey, jalan-jalan!" seru anak mas Harun yang paling bungsu.
Meskipun hidup sederhana. Namun, Mas Harun dan anak-anaknya merasa bahagia karena mereka bisa menghabiskan waktu bersama setiap harinya.
Ada istri yang selalu menantinya pulang saat kerja. ada anak-anak yang bisa diajak bercanda pengobat penat dan lelah setelah bekerja.
Rafli pun membandingkan keadaan Mas Harun dengan dirinya. Hidupnya terasa hambar, saat jauh dari Zakira dan kedua anaknya.
Tit tit, mas Harun mengklakson Rafli.
"Malam minggu Mas Rafli ?"sapa Mas Harun.
"Iya Mas!" sahut Rafli.
Setelah itu Rafli segera menghampiri mobilnya dan langsung menuju apartemen Zakira.
***
Karena kesibukannya sebagai CEO Zakira jadi jarang membawa kedua putranya bermain, karena itulah
malam Minggu ini Zakira memutuskan untuk membawa Aufar dan Akbar jalan-jalan.
"Rina sudah siap?"tanya Zakira pada babysitter Akbar.
"Sudah mbak."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja, Kamu jaga Aufar biar aku yang gondrong Akbar."
"Iya Mbak."
Ting tong terdengar suara bel berbunyi di depan pintu.
"Rina membukakan pintu."
"Mau cari Siapa tuan?" tanya Rina ketika melihat seorang pria asing berdiri di depan pintu unit apartemen Zakira.
"Siapa Rina?" tanya Zakira seraya menghampiri pintu.
"Selamat malam Zakira," ucap seorang pria muda yang tak lain adalah Rio.
"Eh Rio kamu tahu dari mana alamat aku?"
"Ada deh. Kamu mau ke mana?" tanya Rio ketika melihat Zakira sudah rapi.
"Aku mau bawa anakku jalan-jalan malam minggu ini."
"Wah kebetulan dong kalau begitu. Aku juga rencananya mau bawa kamu dan anak-anak kamu berjalan-jalan sekalian pendekatan," ucap Rio sambil tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Ih pendekatan apa?"
__ADS_1
"Ya pendekatan, pedekate kata anak muda jaman sekarang."
Zakira tersenyum simpul.
"Jadi boleh nggak nih aku ikut sama kalian?"tanya Rio lagi.
"Ya sudah boleh, kamu masuk dulu ya."
"Gak usah nanti kita perginya kemalaman. Kasihan anak-anak kamu nanti ngantuk sebelum bermain."
*Ya sudah, kalau gitu kita berangkat sekarang saja."
"Sini Aufar sama Om ya. Mau digendong?" tanya Rio.
"Nggak Om Aufar sudah gede."
"Pinter."
Rio meraih tangan Aufar kemudian menuntunnya berjalan melewati koridor apartemen.
Mereka pun tiba di Lift, ketika pintu lift terbuka Zakira dan Aufar kaget karena melihat Rafli.
Begitupun Rafli.
"Ayah," Panggil Aufar.
Rafli menoleh ke arah Aufar dan sosok pria yang ada di sampingnya. Seketika wajah Rafli menjadi masam ketika melihat Rio.
"Mas Rafli darimana?"tanya Zakira.
"Dari rumah rencananya mau jemput kalian."
"Ya sudah ikut kita sekalian saja,"usul Zakira karena tak enak hati.
Rafli tersenyum kecut.
"Lain kali saja lah."
"Oh ya, Rio perkenalkan ini ayahnya Akbar."
Rio dan Rafli berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.
Setelah berbicara berbasa-basi di depan lift, Rafli memutuskan untuk pulang meski perasaannya begitu kecewa karena tak jadi membawa keluarganya malam minggu.
***
Dengan perasaan kecewanya Rafli kembali ke mobil.
"Siapa pria itu berani-beraninya dia membawa keluargaku."
Rafli bermonolog sambil membanting pintu mobilnya,meski merasa begitu kesal namun rapi tak bisa berbuat apa-apa. Setelah itu secepatnya ia pergi meninggalkan apartemen itu.
Karena tak punya tujuan lagi Raffi memutuskan untuk pulang.
street ...terdengar bunyi mobil Rafli yang mengerem secara mendadak. Bu Rita keluar dari rumahnya untuk melihat Siapa yang datang.
Bruk... pintu mobil kembali di banting oleh Rafli.
"Loh Rafli Kenapa kamu sudah pulang? katanya kamu mau bawa anak-anak kamu jalan-jalan malam minggu ini?"tanya Bu Rita.
dengan kesal Rafli mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu.
"Sepertinya Zakira sedang dekat dengan seorang pria Bu. Tadi Mereka pergi bersama seorang pria tampan."
"Wah tidak bisa dibiarkan Rafli, itu berarti kamu sudah punya saingan. kamu harus lakukan usaha yang lebih maksimal untuk mendapatkan zakira, kalau perlu kamu manfaatkan anak-anak kamu itu agar Zakira tidak jatuh ke tangan yang salah."
Rafli menatap Bu Rita dengan kesal. Jika saja tidak menerima mengikuti permintaan ibunya, mungkin saat ini mereka sudah berbahagia.
Karena tak tahu harus bicara apa lagi Rafli beranjak sambil mendengus meninggalkan Bu Rita dan masuk ke dalam kamarnya dengan kesal.
di dalam kamarnya Rafli menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
matanya menatap langit-langit kamar.
"Ya Allah berikanlah kesempatan aku untuk bisa berkumpul lagi bersama anak-anak ku dan Zakira,"batin Rafli.
***
Mereka pun tiba di mall dan langsung menuju pusat permainan. Rio menemani Aufar bermain dengan penuh semangat.
__ADS_1
Mereka bermain tembak-tembakan, bermain mobil-mobilan dan lainnya. Aufar dan Riko terlihat sangat kompak.
sementara Zakira duduk di area permainan bayi bersama Rina dan Akbar.
"Rio dan Aufar akrab sekali," guman Zakira ketika melihat keduanya begitu asik bermain.
Setelah lelah bermain mereka mencari tempat makan yang nyaman dan makan di sebuah restoran yang masih berada di kawasan Mall tersebut.
"Aufar mau pesan apa?" tanya Rio sambil menyodorkan menu makanan ke Aufar.
"Aufa Al mau makan ayam goreng saja Om."
"Oke kita pesan ayam goreng."
"Kamu mau pesan apa Za?" tanya Rio.
"Aku pesan sama saja sama Aufar."
Rio pun memesan makanan untuk mereka semua.
Beberapa saat makanan itu tersaji dan mereka semua makan dengan lahapnya.
Beberapa Kali kesempatan Rio menunjukkan perhatiannya kepada Aufar dengan menyuapi Aufar.
Baik Aufar maupun Rio terlihat begitu akrab.
'Setelah makan kita mau ke mana lagi nih Aufar?" tanya Rio.
"Beli es krim sama cemilan Om,""
"Oke habis ini kita beli makanan yang banyak."
Setelah makan dan berbelanja makanan ringan, mereka memutuskan untuk pulang, kebetulan waktu juga sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
Di dalam mobil Aufar tertidur begitupun dengan Akbar.
Sambil menyetir Rio mengusap kepala Aufar. tak banyak pembicaraan yang terjadi dalam perjalanan pulang.
Setibanya di apartemen Rio menggendong Aufar yang masih terlelap tidur.
"Nggak usah digendong, biar aku saja yang gendong Aufar,"ucap zakirah yang hendak menolak kebaikan Rio.
"Bukannya kamu lagi gendong Akbar, jadi biasa aja aku Yang menggendongnya," kata Rio.
Zakira pun setuju dan mereka langsung naik ke lantai 5 di mana unit apartemen Zakira berada.
Rio bahkan membawa over yang tengah tertidur pulas itu sampai ke pintu kamar Zakira.
"Terima kasih ya Rio, karena kamu Sudah menemani kami jalan-jalan malam ini."
"Tak apa justru aku ingin mengucapkan Terima kasih karena kau mau membawaku ikut jalan-jalan bersama keluargamu."
Zakira hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Rio itu.
setelah itu Rio langsung pamit pulang karena hari sudah larut malam.
"Oh ya Zakira besok aku jemput kau kita berangkat ke kantor sama-sama."
Ehm... Zakira hendak menolak namun mulutnya tertutup karena jari telunjuk Rio sudah menyentuh bibirnya
'Hus Jangan menolak!"
Zakira tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Zakira menutup pintu kamarnya.
"Astaghfirullah. apa aku tidak menolak Rio untuk menjemput ku, Pagi-pagi kan Aku selalu report, uh nanti dia lama menunggu lagi."
Dengus Zakira.
***
Zakira masuk ke dalam kamarnya dan melihat kedua anaknya tertidur pulas.
Kadang ia merasa sedih melihat kedua anaknya yang kini kehilangan sosok ayah. Apalagi saat ini dia juga sering sibuk dengan pekerjaan.
__ADS_1
Zakira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit langit kamarnya.
Kadang sepi mendera hati dan pikiran. Rasanya ingin membina hubungan dengan seseorang pria, tapi ia masih trauma.